MOJOK.CO – Sambil mengacungkan mandau ke wajah Humaidi, dia berteriak, “Pak Guru, jika sampai besok, anak saya tetap tidak naik kelas, aku akan menghabisimu!”

Jam menunjuk pukul 21.34 di Indonesia bagian tengah. Cuaca di Banjarmasin terasa lembab. Humaidi tak kuasa lagi menahan kantuknya. Aktivitas di sekolah membuat lelah.

Rapat dewan guru tadi siang, terkait kenaikan kelas dan kelulusan para murid, berjalan alot dan menguras pikiran pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sullamut Taufiq itu. Ia ingin tidur lelap.

Tak dinyana, Humaidi kedatangan tamu di rumahnya. Waktu lelah terpaksa ditunda. Setelah membukakan pintu, dia pun mempersilahkan duduk sang tamu.

Pria paruh baya itu berperawakan sedang tapi berotot kekar, dengan kumis melintang tebal. Wajahnya merah padam. Perangaian kurang ramah. “Ada apa ini?” gumam tuan rumah bingung.

Tanpa tedeng aling-aling, si tamu langsung menyatakan maksud kedatangannya. Sambil mengacungkan mandau ke wajah Humaidi, dia berteriak, “Pak Guru, jika sampai besok, anak saya tetap tidak naik kelas, aku akan menghabisimu!”

Bak disambar petir, Humaidi kaget bukan kepalang. Istri, putra, dan mertuanya tak bergeming. Mereka menggigil ketakutan. Si tamu terus saja berteriak, mengumpat-umpat, dan mengancam sang guru.

Tak kuasa lagi meredam emosi, pertahanan kesabaran Humaidi akhirnya jebol. Lalu, tangan kanannya menggebrak meja.

“Pak, apa maksud Anda datang kemari dan mengancam saya? Saya tidak takut dengan Anda! Hidup dan mati manusia di tangan Allah Swt. Kalau mau, nggak usah umbar ancaman begini. Anda bisa saja cegat dan bunuh saya di jalanan!”

Jagau (jawara) dari Pasar Batuah itu langsung terdiam. Humaidi kemudian lamat-lamat menjelaskan duduk perkaranya secara jernih. Rencana pembunuhan itu pun kandas. Malam itu, Humaidi selamat dari marabahaya.

Musabab kemarahan orang tua itu adalah karena putranya tidak naik kelas. Si orang tua anak tidak terima keputusan itu. Humaidi yang notabene wali kelas, dianggap biang kerok.

Menurut Humaidi, sang anak tidak dapat naik kelas karena sering membolos. Padahal dia sudah hampir setiap hari menyampaikan masalah ini kepada ibunya. Mereka sering berpapasan karena rumah orang tua murid berada di dekat Sullamut Taufiq (di sekitar lingkungan Pasar Batuah).

Namun jauh panggang dari api. Rupanya selama ini ibu itu tidak pernah menyampaikan masalah ini ke suaminya, hingga puncaknya ketika pembagian rapot, sang suami yang salah satu anggota komite sekolah ini murka. Dia merasa dipermalukan pihak sekolah.

Humaidi sudah berusaha memperjuangkan nasib muridnya itu. Namun apa daya, hasil musyawah para guru telah diketuk palu: sang anak harus tinggal kelas.

Baca juga:  Baik atau Buruk, Ia Tetaplah Ibumu

Esok harinya, lewat rapat ulang dewan guru, Humaidi menyampaikan masalah ini. Sekolah pun memutuskan bahwa si anak dapat naik kelas, meski bersyarat. Dan, selepas lulus dari MI, sang anak itu kini putus sekolah. Wataknya tidak berubah dan orang tua tetap membiarkan tabiat kemalasannya.

Ini bukanlah satu-satunya pengalaman getir. Pernah suatu ketika ada siswa yang mengamuk dan ingin menghajar seorang gurunya. Seluruh warga sekolah dibuat heboh. Humaidi kemudian turun tangan. Dia menarik bahu dan mencoba menenangkan sang murid.

Singkat cerita, anak itu kemudian diberhentikan oleh pihak sekolah, karena melakukan pelanggaran serius. Padahal anak itu adalah putra dari penduduk asli yang tinggal di sekitar Sullamut Taufiq.

Saat Humaidi menyampaikan keputusan itu, orang tua sang murid berkata, “Sungguh ironis. Anakku yang asli orang sini dikeluarkan oleh madrasah dekat rumah sendiri.”

Ajakan bersalaman sang guru pun ditepis.

Pernah pula, pada 2007, gaji para guru di Sullamut Taufiq tidak dibayar, selama empat bulan karena terkendala belum cairnya bantuan operasional sekolah (BOS). Sekolah dengan jumlah dua ratus sepuluh siswa ini mayoritas berlatar belakang kaum miskin kota.

Namun, ujar Humaidi, “Seluruh siswa saat itu tetap melihat para guru tersenyum, seakan tidak ada masalah. Kami semua tetap mengajar secara profesional, walau belum digaji,” ungkapnya.

Lokasi sekolah yang berdekatan dengan lingkungan perkampungan kumuh dan pasar rakyat Batuah membuat para guru sadar dan berkomitmen untuk tidak menolak menerima siswa dari lingkungan sekitar.

Humaidi menyebutnya sebagai “orang asli Pasar Batuah”. Hal ihwal ini dilema sekaligus kelebihan Sullamut Taufiq. Mengapa dilema? Karena umumnya kesadaran pentingnya pendidikan masih kurang. Masih banyak orang tua murid yang berpikiran kolot dan berlaku jumud. Namun demikian, para guru menganggap ini sebagai tantangan dan amanah dari para wali murid.

Ahmad Humaidi, lahir di Banjarmasin pada 28 April 1975. Dia merupakan anak kedua dari empat bersaudara, Nurul Huda (kakaknya), serta dua orang adik, Muhammad Ihsanuddin & Ahmad Rifani.

Ayah dan ibunya bernama H. Abdul Manan (75) dan Faizah (70 tahun). Pendidikan agama Islam, telah sejak dini kuat ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Bahkan sejak duduk di bangku tsanawiyah (kelas dua), Humaidi sudah aktif mengajar baca-tulis Al-Quran di beberapa taman pendidikan Al-Quran (TPA) di Banjarmasin: TPA jalan Tunjung Maya, TPA Ashabul Yamin jalan Kebun Bunga dan TPA Minhajul Abidin jalan Manggis.

Baca juga:  Poligami di Kalangan Sahabat Nabi

Ayah dua orang anak ini juga pernah menjadi guru agama Islam di taman kanak-kanak (TK) al-Anshar Veteran. Pernah jadi pengajar Al-Quran untuk bidang ekstrakulikuler di SMPN. 2 Banjarmasin. Selain itu, sejak remaja Humaidi suka membaca buku-buku bergenre sufisme. Dia sangat terinspirasi dengan kehidupan para sufi besar macam Hudair bin Ziyat, Malik bin Dinar, Abuyazid al-Bustami, dan lain-lain.

Humaidi juga pernah menjadi Ketua Remaja Masjid al-Ihwan di jalan Veteran, Banjarmasin selama dua periode (2000-2006), pengisi pengajian mingguan di majelis taklim karyawan dan kayawati Hypermart, Duta Mall Banjarmasin (setiap malam Jum’at), sekitar 4 tahun.

Dan, kini pengajar non-pegawai negeri sipil (PNS) itu, selain sehari-hari menjadi guru mata pelajaran IPA dan al-Quran & Hadist di MI, sejak tahun ajaran 2002-2003, ia juga secara rutin memimpin sebuah majelis taklim (setiap Selasa malam) di rumah warga sekitar jalan Melati, Kebun Bunga, Banjarmasin.

Pengajian itu berisi pembahasan secara mendalam mengenai ilmu fikih dasar. Masyarakat Islam Banjar di Kalimantan Selatan, secara umum bermazhab syafiiyah yang mengamalkan tasawuf.

Bagi Humaidi, mengajar mengaji anak-anak itu, selain ibadah juga kegiatan yang menyenangkan. Anak-anak itu memiliki karakteristik yang unik dan berbeda-beda. Dan yang terpenting mereka itu semua punya kelebihan secara individu.

Jadi, apabila dalam proses pembelajarannya, terjadi kendala atau bahkan kegagalan, ia berpedoman bahwa ini bukanlah salah anak-anak peserta didiknya, namun mutlak kesalahan pada dirinya.

Tegasnya, “Saya selalu berusaha untuk mengevaluasi diriku sendiri, jika terjadi masalah-masalah seperti itu, dan memikirkan cara bagaimana ke depan tidak mengulangi ihwal serupa”. Metode yang sama juga dia gunakan dalam aktivitas mendidik di lingkungan Sullamut Taufiq.

Humaidi merasa kehidupan di dunia ini akan bermakna bila kita bisa bermanfaat bagi orang sekitar.

Dia mengatakan, “Selama apa yang bisa saya bantu kepada orang lain, maka akan saya tolong. Bagi saya, hidup di dunia ini tujuannya untuk akhirat. Prinsip ini saya pegang sejak bujangan hingga menikah. Saya mempelajari dan berusaha untuk mengamalkan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.”

Akhir tujuan kehidupan manusia meraih kebahagiaan. Bagi suami dari Anita dan ayah dari Muhammad Nabil dan Nabilla Puteri Ramadhani ini, bahagia dimaknai kebaikan, karena ia dapat diukur. Selama manusia berbuat baik, maka hidupnya akan selalu bahagia. Apa pun konsekuensinya, prinsip itu akan terus digenggamnya erat hingga akhir hayat.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.