MOJOK.COUstaz Maaher dengan gagah dan fasih mencemooh, “Babi betina lonte oplosan penjual selangkangan,” ke Nikita Mirzani.

“Seperti membangunkan macan dari tidurnya,” demikian tanggapan beberapa orang ketika Nikita Mirzani mengatakan Habib sebagai tukang obat.

Itu tanggapan yang tak masuk akal. Pertama, belum pernah ditemukan kasus di mana macan menyerukan revolusi akhlak sebagai syarat rekonsiliasi kepada segerombol rusa buruannya.

Kedua, macan itu makhluk soliter, sementara Habib Rizieq kerap berdiri di tengah kerumunan dan menjadi kian gagah justru karena berjamaah.

Saya belum menemukan tanggapan resmi dari Habieb Rizieq terkait kasus tersebut, mungkin karena blio sedang sibuk beradaptasi dengan lingkungan setelah bertahun-tahun menetap di Negeri jauh. Namun begitu, reaksi orang-orang di sekitarnya sudah cukup untuk sekadar disebut seram.

Paling gaduh tentu saja Ustaz Maaher Al Thuwailibi, yang dengan gagah berani—dan tampak terlatih—memberi cemooh, “Babi betina lonte oplosan penjual selangkangan,” ke Nikita Mirzani.

Dalam skena percemoohan Indonesia, Ustaz Maaher Al Thuwailibi hanya setingkat di bawah celetukan Mas Kasino dalam film Warkop DKI, Dongkrak Antik (1982), yang melegenda itu, “Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik!”

Dan, jangan lupa, Ustaz Maaher juga mengancam—meski menggunakan kata mengimbau—akan mengepung kediaman Nikita Mirzani, ditemani 800 laskar pembela ulama.

Katanya, mereka siap menumpahkan darah hingga tetes terakhir. Itu serius, dan sebetulnya sudah cukup membuat bulu kuduk siapa pun ambil ancang-ancang sikap sempurna—seperti ketika upacara bendera.

Tetapi dengan segala hormat dan penuh menjura, sebagai sesama muslim dan penggemar berat Habib Rizieq, saya mesti mengatakan bahwa Ustaz Maheer bukan lawan sepadan bagi Nikita Mirzani.

Jalan terbaik—bahkan mungkin satu-satunya yang paling memungkinkan—untuk menyudahi segala keriuhan ini, adalah dengan mengejawantahkan spirit revolusi akhlak.

Ustaz Maaher melepaskan egonya dan mau meminta maaf karena telah beringas mencemooh; kemudian rangkul Nikita Mirzani untuk memperbaiki diri. Adem, mantap, dan berakhlakul karimah.

Namun, apabila Ustaz Maaher masih bersikukuh dengan pendiriannya, blio mesti mempersiapkan amunisi terbaik untuk bertahan. Ya bertahan saja, untuk menyerang rasanya masygul sekali.

Saya telah mengikuti Nikita Mirzani cukup lama. Pemilik tato ciamik di punggung ini adalah orang kedua yang saya ikuti ketika membikin Instagram—tentu saja setelah Dian Sastro. Dan sejauh pengamatan saya, dia bukan sekadar ibu-ibu tangguh tetapi juga ibu-ibu penuh siasat.

Begini, sebelum ancaman dikepung 800 laskar pembela ulama, Nikita Mirzani beberapa kali dikepung lebih dulu oleh ratusan—atau mungkin ribuan—pengendara ojek online secara sporadis.

Pasalnya, pada satu masa, seorang pengendara mengaku diberi tips satu juta rupiah oleh Nikita, dan itu membuat kawan-kawannya datang mengepung dengan harapan mendapat rezeki serupa.

Boleh jadi, peristiwa itu adalah siasat Nikita Mirzani untuk melatih diri dari kepungan-kepungan lain yang kelak datang menghadang. Dan yang membedakan antara ancaman 800 laskar pembela ulama, atau kelompok pengendara ojol, sejatinya sebatas atribut dan kepentingan; yang satu memakai jaket hijau sementara yang lain bersorban putih, yang satu untuk kepentingan perut sementara yang lain untuk kepentingan gengsi iman.

Belum cukup? Oke, saya punya bukti lain bahwa Nikita Mirzani akan keluar sebagai pemenang dalam kasus ini.

Anda mungkin tahu Puan Maharani, salah satu orang yang sangat berpengaruh di Republik. Nikita Mirzani, dengan segala keluwesan dan keselowannya, enteng saja menuduh ketua DPR RI itu mematikan mikrofon dalam sidang pengesahan RUU-CIPTAKER, dan memintanya untuk kembali mengingat butir Pancasila.

Ancaman serius tentu saja datang. Ormas bernama Gema Puan Maharani Nusantara (GPMN), telah bersiap mensomasi sang Nyai, bahkan sesumbar telah menyiapkan 100 pengacara pilih tanding apabila ia tak segera membeberkan klarifikasi dan permohonan maaf dalam waktu 1×24 jam.

Saya tekankan watak Nikita Mirzani; penuh siasat. Sebelum berurusan dengan ormas-ormas lain, blio telah menjajal ilmu dengan ormas yang tingkatannya pembela DPR RI.

Jawaban Nikita untuk kasus itu adalah, mempersiapkan seribu jin dan makhluk halus. Ajaib, melawan sesuatu yang nirfaedah, dengan cara yang tak masuk akal.

Beberapa pekan setelahnya, Puan Maharani mengaku bahwa dialah orang yang mematikan mikrofon, dan malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya~.

Dengan begitu, Alih-alih seperti Ustaz Maaher yang berlebihan dan mengurus energi, saya lebih bersepakat kepada Aziz Yanuar, tim kuasa hukum FPI bahwa, “Hemat kami, sampah tak perlu ditanggapi.”

Yak, karena kita, Nikita Mirzani, dan pendosa di planet bumi ini dianggap sampah, maka wajar kalau hanya pemulung yang sudi menanggapinya.

BACA JUGA Sebut Habib Itu Tukang Obat, Nikita Mirzani Sebenarnya Cuma Ngefans Aja Sama Habib Rizieq  dan tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.