Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Rangga dan Arya Kamandanu: Sebuah Perbandingan yang Dipaksakan

Mahfud Ikhwan oleh Mahfud Ikhwan
12 November 2014
A A
Rangga dan Arya Kamandanu: Sebuah Perbandingan yang Dipaksakan

Rangga dan Arya Kamandanu: Sebuah Perbandingan yang Dipaksakan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang redaktur media online yang tengah ramai dipergunjingkan mengirim pesan kepada saya untuk menulis perbandingan Rangga dengan Arya Kamandanu. Hmm… Ada apa dengannya?

Rangga, tokoh utama Ada Apa dengan Cinta, bagi saya adalah cowok sinis, reseh, sok serius, (dan brengsek) yang beruntung. Dengan muka kebelanda-belandaan, membaca buku yang tidak dikenal (di kalangan pelajar Jakarta), menulis puisi yang nggak jelas maksudnya, bahkan dengan suara ketus yang tidak tulus, ia dapat cewek. Enak sekali dia! Jelas dia tak tahu, kalau kemunculannya harus dibayar dengan penangkapan anak-anak Partai Rakyat Demokratik di Yogyakarta. Moses Gatotkaca harus meregang nyawa di Mrican agar tokoh seperti dia bisa muncul di bioskop. Bahkan saya hakulyakin kalau Rangga tak tahu, hanya beberapa tahun sebelum kemunculannya, perempuan-perempuan macam Marni, Sisca, Katiyem, diperkosa kemudian dipaksa bangkit dari  kubur untuk membalas dendam.

Tokoh kayak gini mau dibandingkan dengan Arya Kamandanu—seorang pemuda sakti mandraguna, berbakti pada orangtua dan negara, tulus cintanya, penuh pengorbanan, dan memilih hidup dalam penderitaan? Itu sama saja membandingkan Pedang Nagapuspa dengan sepotong ranting kering. Nggak sebanding.

Tapi, baiklah kalau tetap memaksa membuat perbandingan. Mari kita bandingkan.

Dalam dunia yang dihidupi Arya Kamandanu, cowok macam Rangga pasti nggak kuat. Cengeng. Hidup dengan bapak yang dimusuhi aparat, dan ditinggal ibu minggat, dijadikannya alasan untuk jadi arogan. Bayangkan kalau ia punya bapak macam bapaknya Arya Kamandanu, seorang aparat negara yang nurut dan menjijikkan. Jelas cuma akan jadi beban saja.

Kalau Rangga ini jadi orang baik, paling ia jadi pemuda lemah yang tak bisa membela diri. Kalau dia jadi tokoh jahat, katakanlah macam Arya Dwipangga, paling-paling cuma jadi begundal. Karena itu, dalam bayangan saya, Arya Kamandanu tampaknya tak akan menyukai pemuda penyuka Chairil Anwar ini. Patut diingat, dua perempuan yang dicinta Kamandanu digarap sama sang kakak yang penyair.

Di depan sahabat seperjuangan Arya Kamandanu, orang yang bernama mirip namun jauh lebih agung dan legendaris, yakni Rangga Lawe, pemuda pujaan gadis tahun 2000-an itu bisa lebih runyam nasibnya. Ia yang dijotosi teman sekolahnya diam saja, pasti mencelat keluar Hutan Tarik kena sepak kuda Rangga Lawe. Kalau pun toh ia diterima dalam gerombolan Mpu Tong Bajil, saya juga tak memandang ia akan bernasib baik. Kalau tidak jadi mainan Dewi Sambi, boleh jadi ia sasaran Tong Bajil saat latihan Ajian Segara Geni. Agak mendingan kalau dia cuma jadi korban buli bajingan-bajingan cemen macam Kebo Kluyur atau Jaran Bangkal.

Jadi, ya… tampaknya dia tak punya tempat dalam dunia Arya Kamandanu. Dan, karena itu, tak layak dibandingkan.

Bahkan Rangga juga tak sebanding dengan tokoh-tokoh sandiwara radio kurang terkenal yang kebetulan memiliki nama yang mirip dengannya. Dengan Rangga Wulung dari Serial “Kembang Ayu Ambarwati”, misalnya. Kalau Rangga punya ayah yang dibenci pemerintah, ksatria dari Kerajaan Paku Banjar ini bahkan ayahnya digantung sang raja untuk alasan yang tidak jelas. Cintanya kepada putri Raja, yakni Putri Ayu Ambarwati, patah tak tumbuh. Sang Raja dengan semena-mena mengawinkan sang putri dengan orang lain. Coba tebak dengan siapa? Seorang penyair istana klemar-klemer bernama Kuda Randana. Rangga Wulung kemudian jadi pelarian, lalu menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya.

Dengan Rangga Geni dari sandiwara “Mantra Naga Bumi” pun demikian. Enak sekali, Rangga yang Nicholas Saputra itu. Tentang-tenteng buku nggak jelas begitu, monyan-manyun, eh… dapat cewek. Cantik banget pula. Bandingkan dengan Rangga Geni yang hidupnya justru diobrak-abrik oleh sebuah buku berjudul Kitab Lawang Pitu. Pendekar pilih tanding dari Kerajaan Merak Jingga ini mesti pontang-panting mempertahankan cintanya kepada Dyah Ayu Pengukir, menghadapi rongrongan nenek jahat bernama Nyai Balitung, dan tentu saja mencari kitab sialan yang hilang itu.

Sudah deh …. bahkan Rangga tak sebanding dengan dua teman saya: Tarli Nugroho dan Thowaf Zuharon. Yang pertama adalah pemuda ramah, tidak reseh, serius, dan jelas jagoan dalam hal majalah dan koran—apalagi cuma sekelas mading. Tapi, begitulah… cintanya nun jauh di sana. Nama yang kedua, jangan tanya. Ya, memang sedikit reseh. Tapi keramahannya sama hebatnya dengan keseriusannya. Dan jelas, ia penulis sajak yang jauh lebih bagus ketimbang Rangga—meski saya tak tahu apakah cinta (dengan c kecil) pernah menghampirinya.

Ehm, Rangga. Rangga?

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2021 oleh

Tags: Ada Apa Dengan CintaArya KamandanuRangga
Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan

Novelis. Pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Pemenang pertama Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Novel-novelnya yang sudah terbit adalah "Ulid", "Kambing dan Hujan", dan "Dawuk". Pencinta sepak bola dan film India.

Artikel Terkait

kakak-adik
Pojokan

Memahami Hubungan Aneh Kakak-Adik: Saling Menyayangi Namun Tetap Penuh Persaingan, Perseteruan, dan Perdebatan

20 Agustus 2021
aadc gita cinta dari sma film cint remaja terbaik Nicholas Saputra Punya Saingan Berat, dan Orang Itu Adalah Rano Karno mojok.co
Pojokan

Nicholas Saputra Punya Saingan Berat, dan Orang Itu Adalah Rano Karno

27 Februari 2021
begini Rasanya Jadi Pacar Nicholas Saputra Nicholas Saputra Punya Saingan Berat, dan Orang Itu Adalah Rano Karno
Esai

Begini Rasanya Jadi Pacar Nicholas Saputra

19 September 2020
Tips Sukses Mengungkapkan Perasaan
Video

Tips Sukses Mengungkapkan Perasaan

11 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.