Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa orang yang sudah ketahuan mencatut nama orang lain kok masih terus saja berusaha berkelit bahwa dirinya tidak melakukan tindakan itu? Atau mengapa susah sekali mengaku bersalah ketika ketahuan telah mencatut entah itu nama orang lain, mencatut agama, atau bahkan mencatut nama Tuhan. Engkau bisa membahasnya dari berbagai sudut pandang, mulai dari perspektif psikologi sampai sosial-politik; atau, jika punya semangat posmodernisme, engkau bisa  membahasnya dari aspek klenik dan mistik.

Tetapi aku punya tawaran penjelasan lain tentang akar catut-mencatut ini, yang inspirasinya berasal dari perspektif anak gaul: yakni “bawa perasaan” alias baper.

Perlu diketahui bahwa seremeh atau sengawur apapun kesan yang muncul dari istilah anak gaul, sebenarnya kalau mau dipikir-pikir dengan serius tapi santai akan tampak ada petunjuk ilahiah di dalamnya, sebab aku percaya  bahwa meski dunia adalah tempat bermain-main, namun segala sesuatu muncul tidak sia-sia, termasuk istilah baper ini.

Ringkasnya, baper adalah gejala ketika seseorang terlalu terbawa oleh, atau tenggelam dalam,  perasaan sehingga kehilangan sebagian dari daya nalarnya atau daya kritisnya. Dalam bahasa umum, ini adalah gejala yang dalam falsafah jawa disebut rumangsa bisa nanging ora bisa rumangsa, “terlalu merasa bisa, merasa punya, merasa paling ini dan itu tapi tidak bisa mengukur diri, tidak tahu diri.”

Perasaan itu ndak ada parameter objektifnya kecuali ketika perasaan itu dihadapkan dengan fakta. Ya boleh saja, misalnya, merasa diri memiliki kegantengan maksimal, meski faktanya ketika engkau berpose dalam foto bersama kawan-kawan, kehadiranmu justru merusak pemandangan. Atau misalnya, karena engkau terlalu sering nonton bokep, maka melihat croping foto selfie wajah wanita dengan kepala agak menengadah dengan ekspresi merem dan bibir rada merekah, engkau merasa mukanya adalah muka ramah syahwat, padahal sebenarnya dia sedang selfie saat bebelen dan susah mengeluarkan tinjanya. Nah, itu contoh ringan bagaimana baper bisa membiaskan persepsi kita.

Dalam skala yang lebih serius, khususnya dalam konteks catut-mencatut ini, baper berpotensi melahirkan daya rusak yang tinggi pada kualitas mental dan spiritual manusia. Berdasarkan pengamatan selama beberapa pekan terakhir, paling tidak ada tiga kategori baper yang menimbulkan tindakan mencatut dan berpotensi destruktif bagi kemaslahatan hidup.

BACA JUGA:  Mengakhiri Kebaperan Tragedi 1965 dengan Cara Kekeluargaan

Pertama, baper saat menyampaikan apa yang dirasakan dan dianggapnya sebagai sesuatu yang benar.

Karena merasa benar dalam menyampaikan kebenaran, maka ia lupa  bahwa kebenaran itu ada banyak segi ketika berada dalam ranah pemahaman manusia. Dan walaupun misalnya yang disampaikan adalah kebenaran, tetapi jika disampaikan dengan cara yang tidak benar, itu pun bisa menjadi masalah. Tetapi, orang yang  bapernya terlalu merasa sudah paling benar seringkali mengabaikan fakta bahwa cara penyampaiannya tak benar dan  bisa sangat menyakiti banyak orang. Celakanya, karena sudah merasa benar dan sah, maka ia lantas mengatasnamakan diri sebagai otoritas kebenaran–bahasa lainnya, ia mencatut anggapannya sendiri tentang kebenaran sebagai kebenaran mutlak.

Orang seperti ini, walau kemudian terbukti bersalah, atau menyakiti orang, akan sulit minta maaf. Ia akan punya banyak alasan untuk berkelit, kalau perlu menyertakan dalil atau ayat ilahiah yang berjubel-jubel.

Kedua, baper yang lebih spiritual karena berkaitan langsung dengan ketuhanan.

Ada sebagian orang yang banyak ibadah, dan bahkan saking taatnya beribadah ia merasa harus “mengibadahkan” semua hal: dari pakaian, bahasa, sampai ritual, berdasarkan penafsirannya sendiri tentang hal-hal yang diridhoi Tuhan, hingga ke titik ia baper yang ilahiah: merasa tahu persis apa yang dikehendaki Tuhan.

Ia lalu mendefinisikan Tuhan, dan kehendak-Nya, adalah begini dan begitu. Jika baper ini tak terkendali, ia akan berani mencatut nama Tuhan demi menguatkan penafsirannya. Ia merasa tahu bahwa karena Tuhan memiliki sifat begini maka akan begini, dan biasanya apa-apa yang dianggap baik akan dinisbahkan untuk mendukung penafsiran dirinya dan lupa bahwa Tuhan tidak tergantung pada anggapan manusia.

Untuk jelasnya ada kisah satire bagus dari kaum sufi tentang bagaimana baper dalam memahami ketuhanan ini bekerja menipu seseorang hingga ia merasa seolah-olah Tuhan selalu mendukung dirinya:

Seorang sarjana agama mengadakan perjalanan bersama seorang fakir naik perahu menyeberang lautan. Lalu tiba-tiba datang badai besar, menyebabkan perahu yang tidak begitu besar itu pontang-panting diayun ombak besar. Sarjana agama itu tampak tenang, khusyuk berdoa, sedangkan sang fakir menggigil ketakutan di buritan.

Melihat kawannya ketakutan, sang sarjana agama berkata kepadanya, “Jangan takut, Sobat, Allah Maha Besar, lebih besar dari ujian ini.”

BACA JUGA:  Asal Jangan Baper, Semua Aliran Islam Oke Saja

Sang fakir menjawab dengan gemetar, “Iya, Allah Maha Besar, tapi perahu ini kecil …”

Sarjana itu kemudian berusaha menenangkannya lagi, bicara tentang pentingnya iman kepada kekuasaan dan kebaikan Tuhan. “Jangan berlebihan takutmu. Apakah engkau tidak pernah membaca bahwa Allah adalah Maha Dermawan? Allahu Kariim.”

Sang fakir menjawab, masih dengan menggigil, “Itulah persisnya yang aku takutkan. Allah Maha Dermawan, dan bisa saja karena begitu dermawannya pada semua makhluk, Dia memberi makan ikan hiu dengan mayat kita…”

Jadi dalam baper kedua ini, orang akan merasa paling didukung Tuhan, sehingga ia bersikap seolah-olah membatasi Rahmat dan Kedermawanan-Nya hanya berlaku untuk dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia merasa lebih mulia daripada makhluk lain karena merasa lebih dekat. Pada gilirannya, dia merasa keinginannya akan selalu dikabulkan Tuhan, atau keinginannya sudah sama dan sebangun dengan keinginan Tuhan– tanpa sadar ia telah mencatut nama Tuhan untuk egonya,

Ketiga, baper asmara. Ini berpotensi merusak kemampuan untuk mendapatkan pasangan.

Ada dua gejalan dalam baper jenis ini. Pertama-tama, karena baper, kadang ketika ada orang lain memberi perhatian lantas ditafsirkan orang itu mulai menyukai dirinya, padahal boleh jadi memang orang itu suka perhatian kepada semua orang, bukan hanya pada si aktivis baper itu. Jika kemudian aktivis baper tahu perhatiannya tak hanya kepada dirinya saja, boleh jadi ia sangat kecewa, lalu ngenes karepe dewe. Kedua, baper yang menyebabkan dirinya menjadi   jomblo yang sejak dalam pikiran merasa kejombloannya akan tambah lama. Biasanya ini terjadi ketika orang mulai suka pada seseorang tetapi terlalu merasa dirinya tidak pantas, sehingga yakin cintanya bertepuk sebelah tangan. Jika bapernya tambah akut, ia akan merasa sudah ditolak bahkan sebelum menyatakan cintanya. Istilah mistisnya adalah “jomblo sakdurunge winarah.” Jika gejala ini ndak sembuh-sembuh, insya Allah ia akan awet dalam kesendirian.

Demikianlah, tanpa sadar ia mencatut prasangkanya sendiri yang menyebabkan status lajangnya susah berubah.

Jadi, baper berpotensi destruktif dalam tiga aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Baper yang tak terkendali bisa merusak relasi sesama manusia (hablum minannas), merusak relasi dengan Tuhan (hablum minallah) dan merusak relasi asmara. Waspadalah!

 

No more articles