MOJOK.CO – Warung bakso teman saya di Jogja bagian selatan mendapat cap warung horor. Teror aneh itu memang tak kunjung berhenti.
Belum genap sebulan berjalan, teror datang silih berganti di salah satu warung bakso yang terletak di sebuah daerah di Jogja. Secara spesifik, di Jogja bagian selatan. Teror itu membuat pemilik dan karyawan takut dan memaksa mereka untuk menyerah.
Seorang teman baik mengabarkan bahwa dia akan mencoba bisnis kuliner di Jogja. Kuliner tersebut merupakan warung bakso.
Menurutnya, meskipun ada banyak kompetitor di Jogja, warung bakso dan mie ayam tetap menjadi opsi menarik bagi penikmat kuliner. Semua orang bisa menerima kuliner ini, baik pagi, siang, sampai malam.
Teman saya, sebetulnya, akan resmi membuka warung bakso di 2026. Namun, pada akhirnya dia buka lebih cepat. Dia merasa sudah siap dan memegang prinsip let it flow. Maka, warung bakso itu akhirnya buka secara sederhana saja.
Luas lahan untuk warung bakso memang agak besar. Sekilas melihat, dia akan membutuhkan beberapa karyawan. Namun, karena baru buka, dia baru mempekerjakan satu pegawai dulu. Toh, menurutnya, karyawan akan bertambah seiring berjalannya waktu. Saya, sih, sepakat.
Baca juga Kegilaan dari Teror yang Tak Kunjung Usai di Kontrakan Pocong Ring Road Utara Sleman
Menuju Jogja selatan, menemukan kejanggalan di warung bakso
Seminggu setelah buka, dia mengundang saya untuk datang saat makan siang. Karena tidak ada kesibukan, saya mengiyakan dan langsung menuju ke Jogja daerah selatan.
Pada hari itu, berbekal Google Maps, saya tiba di warungnya. Saya celingak-celinguk. Apakah saya berhenti di tempat yang benar? Terlebih, saya tidak melihat ada bakso di etalase. Saya semakin bingung.
Sesaat setelah melepaskan helm, kepala saya melongok ke dalam warung. Ada teman saya. Dia memanggil, mengajak saya masuk dan duduk.
“Baksonya udah siap? Jadi buka nggak, toh?” Tanya saya.
“Hari ini nggak jadi buka. Baksonya basi.”
Sebelum resmi buka hari itu, dia sudah dua kali mengalami baksonya basi.
Dugaan awal
Saya terheran-heran. Kok bisa baksonya basi? Apakah lupa menaruhnya di freezer? Untuk sebuah warung bakso yang akan bersaing di Jogja, kesalahan kayak gitu kok rasanya nggak masuk akal.
“Padahal baru tak ambil semalam. Bahkan udah aku taruh di freezer.”
Saya memintanya untuk menghidangkannya kepada saya. Kemudian, karena masih ada stok seminggu yang lalu di freezer, saya juga memintanya. Niat saya untuk membandingkan soal rasa.
Tapi yang terjadi memang begitu. Bakso yang semalam telah basi. Apek. Berbeda dengan bakso yang stok seminggu. Tanpa ragu, saya menandaskannya secara singkat.
Lalu, kami berdiskusi. Kira-kira apa yang membuat bakso semalam menjadi basi? Dugaan saat itu, mungkin adonannya kurang tepat. Maka, keputusannya adalah mengganti supplier. Sudah dua kali keliru, dan tidak ingin kehilangan konsumen, dia mengambil keputusan itu.
Singkat cerita, setelah mengganti supplier, warung bakso teman saya sempat ramai. Saat jam makan siang, berpuluh-puluh mangkok masuk ke dalam tempat cuci silih berganti.
Drama suara dari antah berantah
Suatu kali, beberapa teman dekat datang untuk bersilaturahmi. Nah, warung bakso teman saya ini lumayan besar dengan kolam berisi ikan di bagian tengah. Maka, menyambut teman-teman dekatnya, dia menyediakan alat pancing. sangat menarik apabila makan sambil sesekali mancing ikan di kolam.
Beberapa teman, kemudian, makan bakso dengan lahap. Tidak peduli dengan kebisingan yang terjadi di dekat kolam. Namun, beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening.
Dari pengeras suara di warung bakso teman saya, terdengar suara erangan.
Ada yang terdiam. Ada yang mencari asal suara. Beberapa mengabaikan. Namun, suara itu terdengar dengan jelas. Beberapa menit kemudian, pengeras suara kembali mengeluarkan suara.
“Di bukit berbunga,” suara pelan dari seorang perempuan.
Begitu kalimat yang terdengar jelas itu menggema lewat pengeras suara, semuanya terdiam. Teman saya bingung. Dia, yang terbiasa menyetel pengeras suara, merasa bluetooth di ponselnya tidak aktif. Dan memang benar, tidak aktif. Pengeras suara dalam kondisi mati.
Seorang teman yang ternyata mengenal lirik lagu tersebut hanya berujar:
“Wah setan lawas iki!”
Ya, itu lagu Uci Bing Slamet yang populer pada tahun 1990 dengan judul Bukit Berbunga.
Ikan jadi kayu
Suara itu menjadi misteri. Beberapa teman yang mendengar suara tersebut segera melabeli tempat teman saya merupakan warung bakso horor di Jogja bagian selatan.
Kejadian itu mengundang tanya. Siapa dia? Kenapa dia bernyanyi? Apa maksud nyanyian tersebut?
Entahlah. Yang pasti, setelah kejadian tersebut, ada rentetan hal aneh berikutnya.
Suatu sore, karena tidak ada pengunjung, seorang teman, sebut saja namanya Iman, mancing di kolam warung bakso teman saya. Iman ini orang Jogja yang hobi mancing. Katanya, untuk menghabiskan senja.
Semula dia senang karena tidak butuh waktu lama sudah dapat ikan. Lalu, Iman memasukkan ikan ke dalam jaring. Dia mengaitkan ke sebuah kayu agar jaringnya tidak jatuh ke kolam dan ikannya lari.
Setelah itu, Iman kembali memancing. Kali ini, ia tidak beruntung. Tidak seekor ikan yang mampir ke pancingnya. Akhirnya, karena sudah menjelang Magrib, dia ingin mengambil ikan tersebut dan memasaknya.
Naas, ikannya “hilang”. Bukan kabur melainkan berganti menjadi kayu. Sontak, Iman ketakutan. Bingung campur kaget.
Iman langsung menceritakan kejadian itu kepada teman saya, sang pemilik warung bakso yang sudah mendapat cap warung horor di Jogja. Teman saya hanya tertawa. Dia menganggap Iman cuma bercanda atau memang lupa.
Kecap dan saos di dekat genteng
Dua hari kemudian, hal aneh datang. Kali ini, si pemilik warung bakso yang dibuat kebingungan.
Setelah membuka warung bakso, teman saya dongkol kepada karyawannya. Sebab, dia tidak bisa menemukan kecap, saos, dan aneka plastik untuk bungkus. Dia mencari di segala sudut, tapi hasilnya nihil.
Putus asa, teman saya duduk dengan kelas. Dia minum es teh sambil membasuh keringat karena siang itu memang panas terik. Saat kepalanya mendongak ke atas, dahinya mengernyit. Dia seperti mengenal bungkusan yang “nyangkut” di langit-langit warung bakso.
Kemudian, teman saya mengambil tangga, menaruhnya di dekat langit-langit, dan naik. Betapa kagetnya bahwa seluruh bungkusan saos, kecap, dan plastik ada di sana. Lengkap.
Gemetar, dia mengirim pesan via WA kepada seorang teman. Sebut saja namanya Slamet, yang kebetulan membantu bisnis warung bakso tersebut. Tentu saja, respons pertama adalah tertawa dan Slamet membayangkan temannya sedang berhalusinasi.
Respons baliknya adalah kejengkelan. Untuk memvalidasi ucapannya, teman saya video call Slamet. Dia menunjukkan berbagai kejanggalan yang terjadi. Slamet terhenyak.
Baca juga Artis Indonesia yang Menjadi Pusat Energi dan Kejadian Horor di Sebuah Gedung Tua di Jogja
Gangguan demi gangguan di warung bakso Jogja bagian selatan
Rentetan kejadian tersebut seperti memberikan isyarat bahwa ada yang tidak baik-baik saja di warung bakso teman saya. Jika sebelumnya dia mengabaikan, kini mulai peduli bahwa ada yang tidak “beres”.
Dan gangguan terjadi lagi. Dan lagi. Kali ini, giliran para karyawan yang kebetulan tinggal di situ, dilempar sesuatu dari luar kamarnya. Bentuknya pasir.
Ada satu teman yang berusaha untuk mencari siapa yang melemparnya. Namun, karena pencahayaan kurang, terlebih di belakang tempat tinggal mereka adalah kebun, akan sulit mengenali bentuk atau sosok. Baik gaib maupun non-gaib.
Menjelang pukul tiga pagi, pengeras suara warung bakso teman saya berbunyi lagi. Nyaring:
“Koe meh ngekei opo neng aku?”
Kalimat itu terdengar sangat jelas. Mampir di semua telinga orang yang tinggal di warung bakso itu. Membangunkan mereka. Teman saya, diam membatu.
Bersambung….
Penulis: Moddie Alvianto W.
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Homestay Horor di Pusat Kota Jogja: Tentang Dia yang Mengintip dari Celah Pintu dan kisah horor lainnya di rubrik MALAM JUMAT.














