Air Terjun dan Rahasia Gelap Keluarga Saya: Teror Gaib di Rumah Simbah (Bagian 4)

Saya menunggu munculnya benang merah dari semua kejadian ini. Mulai dari Alas Purwo, Gunung Pulosari, hingga air terjun di desa simbah. Simbah putri membuka ceritanya dengan setitik air mata. Kami semua menahan napas….

Air Terjun dan Rahasia Gelap Keluarga Saya: Teror Gaib di Rumah Simbah MOJOK.CO

Ilustrasi Air Terjun dan Rahasia Gelap Keluarga Saya: Teror Gaib di Rumah Simbah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COCelah di balik air terjun terlarang itu memang menyimpan misteri. Sebuah pemandangan yang menghantam kesadaran saya dengan telak. 

Setelah badan saya seperti tertabrak, beberapa detik kemudian saya merasakan hal lain. Rasanya, aura di sekeliling, yang melingkari saya, terasa sangat menekan. Sensasi tubrukan saya rasakan berulang-ulang.

Saya menarik napas panjang dan berusaha merapal doa. Namun, doa-doa itu tidak bisa menjadi tameng tubrukan yang saya rasakan. Mata saya jadi sedikit pedih, dada agak sesak, dan kini limbung.

Sayup-sayup saya bisa mendengar ada yang memanggil. Lambat laun suara yang samar itu menjadi jelas dan saya masih setengah sadar ketika melihat Maharani mencoba untuk menolong saya. 

“Nes, Nes. Hei, sadar, Nes,” teriak Maharani sambil mengguncang-guncangkan tubuh saya. Pandangan saya sedikit buram hingga tepukan keras di pundak membuat saya tersadar total.

Ketika tepukan keras itu mendarat di pundak kiri saya, entah kenapa napas saya cukup berat. “Kepala gue,” ucap saya sambil memegangi kepala yang terasa sangat pusing. Maharani sangat sigap membongkar tas dan mengambil obat untuk pusing serta mual.

Saya segera minum obat itu, lalu mulai berusaha mengatur nafas. Uncle Jack membantu saya untuk duduk sambil bersandar ke pohon. Selepas duduk dengan kaki selonjoran, suasananya menjadi terasa tenang dan sejuk. Lelah yang tiba-tiba datang memaksa saya untuk memjamkan mata. Dan ternyata, saya tidak bisa melawan lelah dan kantuk yang datang bersamaan.

Malam gelap di air terjun

Saya agak kesulitan mengingat lamanya saya tertidur. Ketika terbangun dari tidur, suasana sekeliling sudah gelap. Beberapa detik kemudian saya baru sadar kalau harus sudah di rumah sebelum magrib turun. Kenyataan itu membuat saya panik. Nyatanya, malam sudah turun dan kami masih berada di area air terjun yang disakralkan oleh penduduk desa. Bisa gawat kalau simbah putri sampai tahu.  

“Waduh, gue ketiduran. Gawat nih. Rani! Uncle Jack!” 

Saya memanggil-manggil nama mereka karena yang saya lihat hanyalah sebuah api unggun dan tenda ketika bangun. Tidak ada orang sama sekali. Saya menghampiri tenda dan masih celingukan ke sekitar tapi masih belum mendapati sosok Maharani dan Uncle Jack.

“Rani! Uncle Jack! Kalian di mana?” 

Saya mulai berteriak. Panik datang. Takut. Masa iya sih saya ditinggal sendirian di sini? Masa iya setega itu mereka? 

Saya dilingkupi rasa panik ketika mencari Maharani dan Uncle Jack di sekitar tenda. Tanpa sadar, saya sudah berjalan mendekati tebing dekat air terjun. Saat itu, yang saya rasakan adalah rasa takut yang baru. Melebihi rasa takut dan panik ketika tersesat di gunung.

Ketika tersesat di gunung, setidaknya, saya tidak sendirian. Kini, di area air terjun itu, saya sendirian. Gelap, dingin, dan gemuruh suara air terjun membuat rasa panik semakin menjadi. Saking paniknya, saya tidak sempat memperhatikan pijakan. Hasilnya, saya tergelincir dan jatuh ke sebuah kolam di dekat air terjun.

Dilema

Masih segar dalam ingatan saya tentang dinginnya air kolam di dekat air terjun itu. Saya sendiri tidak mengira kalau kolam itu ternyata lumayan dalam. Rasa kaget yang datang dalam sepersekian detik menyadarkan saya untuk segera berenang ke permukaan dan ke tepian. Saya tidak terlalu bisa berenang ditambah kaki yang sedikit terasa nyeri karena terkilir.

Sampai di sini ingatan saya agak sedikit kabur. Saya tidak terlalu ingat, seperti ada kekuatan entah dari mana yang mendorong saya menuju permukaan dengan selamat lalu berenang sampai tepian. Namun, saya tidak ingat menuju ke tepian sisi yang mana. 

Waktu itu, kesadaran saya langsung tertuju ke sebuah celah di antara tebing air terjun. Sebuah celah yang tidak akan terlihat dari depan atau samping. Jadi, kamu harus benar-benar berdiri sangat dengan tepian kolam di sisi air terjun supaya bisa melihat celah itu.

Sampai detik itu, pikiran saya terasa sangat penuh. Yang saya rasakan adalah bingung. Pertama, kaki saya memang terkilir. Sakit. Kedua, saya harus segera kembali ke tenda untuk mengeringkan tubuh. Ketiga, kalau ingin kembali ke tenda, saya harus berenang melewati kolam. Masalahnya, saya tidak terlalu bisa berenang, kaki saya sakit, dan kolam itu lumayan dalam.

Akhirnya, mau tidak mau, saya memutuskan untuk menunggu Maharani dan Uncle Jack muncul. Tentu saja sambil menahan dingin yang semakin menusuk. Saya tidak punya pilihan lain selain duduk di tepian celah air terjun itu. Hanya bisa memandangi tenda yang hangat di seberang sana.

Lima menit, lalu 30 menit, hingga satu jam berlalu. Maharani dan Uncle Jack tidak juga muncul. Tadi panik, sekarang rasa cemas ikut datang. Komplet. Saya hanya bisa menggerutu sambil melipat tangan ke bawah ketiak, berusaha membuat tubuh tetap hangat.

Celah di balik air terjun

Setelah menghitung segala kemungkinan, saya memutuskan untuk nekat saja berenang ke seberang. Pertaruhan itu saya ambil lantaran menunggu di tepian celah air terjun akan semakin membuat tubuh saya kedinginan dan akhirnya sakit. Tentu pembaca paham bahwa sakit di tengah perjalanan yang tidak dipersiapkan itu sama dengan bencana.

Kaki saya sudah terasa lebih enak ketika dipakai untuk berdiri. Jadi, rasa sakit tadi bukan karena terkilir. Ketika hendak masuk ke kolam itu lagi, pinggiran mata kiri saya menangkap bayangan sebuah benda. Ketika memusatkan perhatian, saya ingat kalau itu gelang yang dipakai Maharani.

Pilihan berenang langsung saya urungkan. Apakah mungkin Maharani juga pernah sampai di tepian sisi air terjun? Apakah dia dan Uncle Jack masuk ke celah yang terlihat sangat gelap dan mengancam itu?

Yah, kalau saya ingat-ingat lagi, bapak dan anak itu memang sama-sama “maniak rasa ingin tahu”. Tapi, rasanya agak terlalu dipaksakan kalau mereka sampai berenang hanya untuk masuk ke celah air terjun. 

Jadi, sekarang, pilihan saya adalah tetap kembali ke tenda di mana saya akan sendirian atau mencoba melihat ke dalam celah air terjun itu. Siapa tahu, Maharani dan Uncle Jack ada di dalam. Lagian, saya tidak suka sendirian di sebuah tempat yang tidak saya kenal. Maka jadi sudah, saya memberanikan diri menengok ke dalam celah itu.

Memberanikan diri

Sebelum masuk ke celah air terjun itu, saya memeriksa isi saku “celana gunung” saya. Ada kunci cadangan, beberapa lembar uang yang kini basah, dan sebuah emergency lamp yang selalu saya bawa ketika menuju lokasi yang berpotensi gelap.

Emergency lamp yang saya bawa itu berukuran kecil, seperti batang neon. Bisa kamu bawa ketika naik gunung atau diving. Berbekal lampu kecil itu, saya melangkahkan kaki masuk ke celah air terjun itu.

“Pokoknya masuk dikit aja, terus memanggil Maharani sama Uncle Jack. kalau nggak ada yang menjawab, jangan dilanjutin ya Agnes. Okay. Langsung balik ke tenda aja. Okay.” Saya bergumam sekaligus memantapkan hati.

Gua dan persembahan

Sebelum melangkah masuk ke celah itu, saya sedikit merasakan embusan angin dari dalam. Dan benar saja, beberapa langkah masuk ke dalam, ruangan yang saya tuju semakin besar. Saya sudah menduga ini adalah sebuah gua.

Dengan bantuan emergency lamp, mata saya menyapu seisi ruangan. Di sana, terserak banyak sekali sesajen. Banyak, namun tidak tertata dengan baik. Pemandangan ini menegaskan informasi dari pakdhe bahwa air terjun ini memang lokasi penyembahan akan sesuatu. Kita mengenalnya sebagai lokasi pesugihan.

Saya memperhatikan setiap nampan sebagai tempat sesajen. Kebanyakan sudah termakan usia. Sampai di titik ini, saya sudah ingin kembali ke tenda saja. Namun, kondisi yang membuat saya pingsan terjadi lagi. Tubuh saya seperti tertabrak sesuatu. Selain pusing selama sedetik, kali ini seperti ada sesuatu yang menuntut saya untuk masuk ke celah gua itu lebih jauh. 

Saya merasa masih agak sadar karena di dalam kepala saya ingin melangkahkan kaki ke arah tenda. Namun, dua kaki saya malah mengarah ke dalam celah air terjun itu. Semakin dalam…

Suara gamelan yang terasa akrab

Mungkin sudah ada puluhan langkah ketika sayup-sayup mendengar suara dari dalam gua di belakang air terjun. Ada suara banyak orang sedang mengucapkan sesuatu secara bersama-sama. Selain itu, saya juga mendengar suara gamelan. 

Kalau pembaca sempat menyelesaikan seri pengalaman di Alas Purwo, saya menutup kisah itu dengan deskripsi lantai dua rumah Uncle Jack. Di ruangan itu, saya mendengar bisikan yang terasa sangat akrab dan dekat. Bisikan yang di sela-selanya saya bisa mendengar suara gamelan dimainkan. Nah, suara gamelan di lantai dua rumah Uncle Jack itu persis seperti suara gamelan di belakang gua ini.

Bagaimana saya bisa tahu? Jujur, saya tidak tahu secara pasti. Apalagi saya tidak memahami budaya Jawa, termasuk seni musiknya. Namun, saya sangat yakin ini suara yang sama….  

Setelah suara gamelan yang entah kenapa terasa sangat syahdu itu, mata saya disambut cahaya obor yang berpendar-pendar menghiasi dinding gua itu. Saya berhenti di tepian dinding, mengintip ke dalam ruangan dalam yang ternyata cukup luas.

Entah bagaimana, perut saya langsung mulas ketika mendapati pemandangan janggal di depan mata. Saya melihat serombongan orang berdiri di depan mimbar. Tubuh mereka bergerak pelan sambil merapalkan kalimat-kalimat dalam Bahasa Jawa yang tidak saya kenal. Di atas mimbar pendek itu ada seperangkat gamelan yang sedang dimainkan. Suara gamelan itu sangat jelas. Namun, masalahnya, tidak ada orang yang sedang memainkan gamelan itu.

Rasa khawatir menarik kaki saya

Saya sudah hampir angkat kaki dari lokasi itu ketika wajah Maharani dan Uncle Jack muncul di benak saya. Ada dorongan kuat untuk mencari dua saudara terkasih saya itu di antara rombongan itu. Sialan. Di titik itu, saya marah sekali karena terkadang saya tidak bisa mengontrol kehendak sendiri. Kalau dilawan, akhirnya saya malah pingsan.

Pada akhirnya, mata saya sibuk mencari Maharani dan Uncle Jack di antara rombongan. Tentu saja saya tidak berani mendekat. Perhatian saya fokus penuh ke punggung-punggung yang sedang menghadap mimbar. Saya membatin, “Coba kalau nengok ke sini, pasti kelihatan muka mereka.”

Sedetik kemudian, koor dari rombongan itu berhenti. Demikian juga dengan suara gamelan. Refleks, saya menutup mulut lantaran curiga apa gara-gara kalimat dalam hati itu mereka berhenti “merayakan sesuatu”? Gimana nggak curiga karena serombongan orang itu tiba-tiba saja berbalik dan menatap saya. Sialan.

Hening. Udara dingin terasa sangat menusuk. Dada sesak. Tatapan tajam mereka seperti melambatkan detak jantung, membuat paru-paru saya kesulitan memompa oksigen, dan memaku kaki saya ke lantai gua yang lembap.

Saya tidak bisa bergerak.

Sedetik, dua detik, 30 detik….

Dia yang terlihat akrab

Pada saat itu, saya melihat seorang perempuan keluar dari rombongan dan berjalan ke arah saya. Dia mengenakan kebaya putu berwarna gelap, sanggul rambutnya gaya Jogja. Mata saya langsung fokus ke wajahnya. Dia cantik, anggun, dan terasa sangat akrab di pikiran saya. 

Sekitar tiga langkah dari saya, dia berhenti, lalu bertanya.

“Nduk, sedang apa kamu?”

Suaranya lembut, hampir seperti bisikan, dan sekali lagi, tidak terasa asing. Saya seperti sudah sering mendengar suara ini. 

Dengan polosnya saya menjawab, “Maaf, saya sedang mencari sepupu dan paman saya.”

Sebelum melangkah lebih dekat, dia melempar seutas senyum yang manis sekali. Manis, tetapi membuat jantung saya berdetak semakin kencang. Manis, tapi melahirkan rasa takut dan aman secara bersamaan. Sungguh tak bisa dijelaskan.

“Kamu tersesat, Nduk?” 

Saya tidak bisa membuka mulut untuk menjawab.

Perempuan itu lalu mengajak saya untuk mendekat dan menikmati “acara” di depan mimbar. Di sini saya merasakan kontradiksi.

Kontradiksi

Tangannya menggamit lengan saya, mengajak untuk berjalan ke depan, namun dia menambahkan dengan sebuah bisikan: “Nduk, cepat pergi dari sini. Lawan, Nduk.”

Setelah itu, dia menyelipkan sebuah benda ke saku celana saya. Dia menatap tajam sambil mengulangi bisikan itu sekali lagi: “Cepat pergi.” Namun, dia malah menarik lengan saya untuk melangkah ke depan.

Tatapan matanya mengisyaratkan sebuah peringatan untuk segera angkat kaki. Dan hanya ke matanya saya fokus. Saya berusaha melawan dorongan untuk bergerak maju, menyentak genggaman tangannya yang menggenggam lengan saya, dan berbalik badan secepat mungkin.

Namun, begitu lepas dari genggaman tangan si perempuan itu lalu berbalik badan, di depan mata saya persis, barisan pocong seperti sudah menunggu. Mereka membentuk pagar betis seakan-akan menahan saya untuk tidak bisa kabur.

Sontak, kepala saya seperti berputar. Pusing sekali. Perut bergejolak.

Saya jatuh dengan tumpuan kedua lutut saya. Berlutut, saya tangkupkan kedua telapak menutup mata saya. Barisan pocong itu membuat kepanikan saya memuncak.

Ayat kursi yang terbalik

Saya berusaha mendaraskan Ayat Kursi. Namun, entah bagaimana, yang saya daraskan adalah Ayat Kursi dari belakang. Semua terbalik, padahal saya hafal Ayat Kursi. Bibir saya bergerak sendiri mendaraskan Ayat Kursi dari belakang.

Di tengah bibir yang bergerak sendiri mendaraskan Ayat Kursi dari belakang, mata saya sibuk mencari celah untuk kabur. Tepat saat itu, di salah satu ujung gua dekat pintu keluar, saya melihat sosok manusia di sana. Dia seperti mengais tanah sambil minta tolong. Ada rasa sedih bercampur penyesalan yang bisa saya rasakan saat mendengar suara tersebut.

Saya ingin menolong sosok itu, tapi saya tidak tahu caranya. Yang melintas di kepala saya adalah secepatnya kabur dari tempat itu. Terobos saja. Sementara itu, bisikan perempuan berkebaya putu itu datang dan pergi.

“Cepat pergi, Nduk.”

“Nduk, pergi.”

“Pergi!”

Suara terakhir terdengar seperti perintah yang sangat tegas. Sebuah suara yang memberi saya kekuatan untuk berdiri, menerobos pagar betis pocong itu, dan fokus menatap pintu keluar.

Keluar dari gua

Saya berlari tanpa berpikir dan tidak sadar kalau sudah sampai di bibir gua di belakang air terjun. Akhirnya saya oleng ketika berlari ke arah kanan, ke arah kolam. Sudah pasti saya tercebur kembali dan buru-buru berenang ke tepian. 

Namun, ketika mendongak, saya melihat banyak orang sudah mengelilingi tepian kolam. Kenyataan seperti menghantam dada saya ketika serombongan orang itu merapalkan semacam mantra dengan Bahasa Jawa yang lagi-lagi tak bisa saya kenali. Suara mereka bergema dengan keras, menyaingi gemuruh suara air terjun.

Tenaga saya habis. Kesadaran saya lenyap. Saya tenggelam….

Antara mimpi dan kenyataan

Gelap. Adalah kondisi yang saya ingat setelah tenggelam. Saya merasa tubuh ini melayang di antara batas cahaya dan kegelapan. Dan, ketika cahaya itu semakin kuat bersinar, pemandangan pertama yang saya lihat adalah atap rumah simbah putri.

Suara ibu perlahan-lahan masuk ke kesadaran saya. Suaranya getir. Saya bisa merasakan ibu sangat khawatir ketika memanggil seisi rumah setelah mendapati saya siuman.

Saya mencoba duduk, tapi seluruh sendi terasa sakit. Akhirnya, saya hanya bisa duduk sambil bersandar. Raut wajah seisi rumah terlihat sangat khawatir.

“Nduk, kamu kenapa? Sakit, ya?”

Ibu berkali-kali menanyakan hal yang sama. Saya tahu ibu tidak mengharapkan jawaban saat itu juga. Dia tahu saya selamat dan itu cukup. Melihat saya tersenyum, ibu sedikit menitikkan air mata lalu menyodorkan segelas teh hangat. Saya menyeruput teh yang dibuatkan oleh ibu. Rasanya segar sekali. 

Setelah mengumpulkan tenaga, saya menanyakan apa yang terjadi. Kenapa saya bisa ada di rumah simbah. Maharani yang berdiri di pojokan membuka pembicaraan mengenai insiden air terjun. Ketika dia sudah menjelaskan semuanya. Saya tidak percaya karena sangat berbeda dengan apa yang saya alami. 

Saya menceritakan ulang semua kejadian. Mulai dari siuman ketika hari sudah malam, Maharani dan Uncle Jack menghilang, tercebur ke kolam di sisi air terjun, sampai peristiwa di dalam gua.

Cerita Maharani

Jadilah terakhir kali saya ingat, Uncle Jack membantu saya untuk bersandar di batang pohon tak jauh dari air terjun. Nah, di situ itu saya tiba-tiba tidur tanpa bisa saya cegah.

Menjelang sore, Maharani dan Uncle Jack sudah siap untuk meninggalkan air terjun. Namun, mereka berdua tidak bisa membangunkan saya. Dikejar oleh waktu, Uncle Jack inisiatif menggendong saya di punggungnya. Mereka khawatir saya mengalami suatu cedera di kepala karena tidak bisa dibangunkan.

Jadi, sekitar pukul empat sore, kami sudah sampai di rumah simbah putri. Uncle Jack membaringkan saya di kamar, sementara pakdhe sampai harus ke kota untuk menjemput dokter.

Beberapa jam kemudian, setelah memeriksa saya, dokter tidak menemukan sesuatu yang salah. Oleh sebab itu, anggota keluarga sepakat bergantian menjaga saya sampai siuman. Kata mereka, saya pingsan selama beberapa hari. Setiap menjelang malam, katanya, tubuh saya bergetar hebat seperti kesurupan, lalu berteriak minta tolong.

Saya pergi ke air terjun pada malam Selasa dan siuman ketika malam Jumat. Sebelum saya siuman, selepas magrib, keluarga melakukan tawasul demi keselamatan saya. 

Beberapa jam sebelum siuman, setelah tawasul, tiba-tiba saya terbangun dari tempat tidur. Menurut kesaksian Maharani, roh penunggu air terjun merasuk ke dalam tubuh saya.

Simbah putri melindungi saya

Saat saya terbangun, simbah putri yang menghadapi sosok yang masuk ke dalam tubuh saya. Mereka saling berdebat dalam Bahasa Jawa yang tidak dipahami oleh orang lain. Intinya, sosok dari air terjun itu mengatakan saya tidak akan selamat. Namun, simbah putri, entah bagaimana caranya, melindungi saya.

Selesai Maharani bercerita, bunyi langkah simbah putri terdengar memasuki kamar. Suasana langsung hening. 

Pakdhe membantu simbah putri duduk di kursi di sebelah tempat tidur saya. Saya bisa lihat simbah kelelahan dengan wajahnya yang pucat. Simbah langsung membuka omongan dengan sebuah kejutan. Katanya, keluarga kami memang mempunyai rahasia gelap di mana hanya beberapa anggota keluarga yang tahu.

Rahasia keluarga saya

Simbah menarik napas dan saya bisa merasakan penyesalan terlukis di wajahnya. Tepat pada saat itu, ekspresi simbah mengingatkan saya kepada seseorang yang terasa tidak asing. 

Ketika hendak membuka cerita, hujan tiba-tiba turun. Kilat ikut datang menyambar. Kami terdiam menunggu simbah melanjutkan ceritanya. Saya bisa melihat simbah menggenggam album foto yang sempat saya dan Maharani lihat.

Saya menunggu munculnya benang merah dari semua kejadian ini. Mulai dari Alas Purwo, Gunung Pulosari, hingga air terjun di desa simbah.

Simbah putri membuka ceritanya dengan setitik air mata. Kami semua menahan napas….

BERSAMBUNG….

Baca seri sebelumnya di sini:

Bagian 1: Bisikan yang Menghantui Sebuah Desa mirip KKN Desa Penari (Bagian 1)

Bagian 2: Malam Jumat: Cerita Horor dari Alas Purwo dan Pulosari yang Dibongkar Simbah Putri (Bagian 2)

Bagian 3: Aura Mencekam di Air Terjun: Seri Horor di Rumah Simbah (Bagian 3)

BACA JUGA Pendakian ke Gunung Pulosari: Uji Nyali di Kedalaman Banten dan kisah menegangkan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Penulis: Agnes Putri Widiasari

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version