Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

M. Yamin, Bapak Copywriter Nasional

Merry Magdalena oleh Merry Magdalena
28 Oktober 2015
A A
M. Yamin, Bapak Copywriter Nasional

M. Yamin, Bapak Copywriter Nasional

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap 28 Oktober terjadi polemik di Twitterland, yaitu soal kesahihan Sumpah Pemuda. Polemik ini seperti biasa akan jadi bahan kultwit, bahkan twitwar. Sama seperti hari-hari peringatan lain.

Kadang saya berpikir, apa sih guna dari penetapan peringatan hari ini dan hari itu. Mungkin gunanya memang agar para #KelasMenengahNgehe terlihat pintar di Twitter. Setidaknya, peringatan hari ini-itu membuat mereka bisa pamer opini dan wawasan di sana.

Iklan

Kontroversi Sumpah Pemuda itu simpel saja. Menurut sejarawan muda yang sering saya juluki sebagai The Next Anhar Gonggong, yaitu JJ Rizal (entah apa hubungannya dengan JJ Royal), berdasar bukti otentik sejarah, tidak pernah ada yang namanya Sumpah Pemuda. Apa yang disebut sebagai Sumpah Pemuda di buku sejarah sekolah sebenarnya adalah Putusan Kongres yang diadakan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) saat Kongres pemuda II di gedung Indonesische Clubgebouw, Jakarta, 27-28 Oktober 1928.

Putusan Kongres itu berbunyi:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Dan tidak diucapkan dengan lantang oleh sejumlah anak muda berbusana daerah seperti yang digambarkan di beragam buku sejarah atau poster-poster propaganda.

Adalah Mohammad Yamin, yang mengaggap bahwa Putusan Kongres kurang kurang sensasional. Perlu dibumbui dengan kosa kata yang lebih menjual, agar lebih heroik, kharismatik, dan happening alias ngehits. Maka diubahlah oleh Yamin menjadi Sumpah Pemuda. Dua penggal kata sakti ini pun baru dipakai di Kongres Bahasa Indonesia Kedua yang diadakan di Medan pada 28 Oktober 1954. Setidaknya begitulah menurut Erond Damanik, Peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis), Universitas Negeri Medan.

Selain menciptakan kata “Sumpah Pemuda”, Yamin juga sangat kreatif memodifikasi larik Putusan Kongres menjadi lebih dramatis:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tiga baris sumpah tersebut identik dengan ilustrasi barisan pemuda-pemudi berbusana daerah, yang membacanya dengan khidmad. Pastinya juga, tiga baris kalimat itu membuat siswa SD di Indonesia ketambahan tugas untuk menghafalkannya. Setidaknya itu terjadi di era Orde Baru. Saya kurang paham apakah anak SD masa kini masih harus menghapalkan teks Sumpah Pemuda atau tidak.

Banyak yang menduga, Yamin terinspirasi oleh Sumpah Palapa milik Gajah Mada. JJ Rizal dan saya pun demikian. Walau saya lebih penasaran, apa sebenarnya kepanjangan JJ di depan nama mas Rizal ini.

Di situs SumpahPemuda.Org, disebut posisi M. Yamin saat Kongres Pemuda II sebagai sekretaris. Tapi perannya melebihi peran seorang sekretaris. Lebih seperti copywriter atau konseptor teks propaganda yang fantastis. Dan itu sangat ampuh.

Berkat M. Yamin, hasil Putusan Kongres yang hanya tulisan di atas secarik kertas saja bisa disulap menjadi sebuah momen bersejarah luar biasa, yang masih terus diperingati sampai 87 tahun kemudian. Bayangkan kalau tidak ada M. Yamin, bisa jadi peristiwa Kongres Pemuda itu hanya jadi sekadar acara ngopi-ngopi cantik para pemuda masa itu.

Nah, di Twitter banyak sekali yang komentar soal ini setiap 28 Oktober. Bahkan ada yang mencela-cela Yamin sebagai otak propaganda nggak pentinglah. Atau bahwa Sumpah Pemuda sudah dilupakan pemuda masa kini yang lebih suka berbahasa alay. Bagi saya, itu semua tidak masalah. Yang perlu diingat adalah betapa hebatnya M Yamin, sosok yang oleh majalah Tempo sampai dibuatkan cover edition, saking kontroversialnya pria asal Sawahlunto, Sumatera Barat ini.

Bayangkan, tanpa M Yamin, tidak akan ada berbagai acara peringatan Sumpah Pemuda. Otomatis para Event Organizer (EO) manyun, penyewa pakaian daerah gigit jari, instansi pemerintah puyeng memikirkan penghamburan anggaran, partai-partai kehabisan ide untuk mencari perhatian media massa, bahkan para jurnalis merasa garing karena kurang liputan bertema nasionalisme.

Maka tak berlebihan jika saya mengusulkan agar Mohammad Yamin ditetapkan sebagai Bapak Copyrwiter Nasional. Yes, para copywriter seantero Indonesia wajib angkat topi ke beliau. Berkat kreativitas tulisan dan inspirasinya, momen yang biasa saja menjadi sangat luar biasa dan berdampak signifikan pada nilai-nilai nasionalisme seluruh bangsa.

Iklan

Apa ada copywriter lain di Indonesia yang sanggup melampaui kedigdayaan M. Yamin? Jelas belum ada.

Saya berfantasi, andai M. Yamin hidup di masa kini, Indonesia pasti bisa melampaui Amerika Serikat. Ya, itu tidak berlebihan. Seperti kita ketahui, Amerika Serikat itu paling jago berpropaganda. Semua produk Amerika bisa disulap menjadi seolah-olah luar biasa hebat. Bahkan ayam goreng anyep penuh suntikan bahan kimia pun bisa laku keras berkat dicap merk buatan Amerika, dan digilai orang di seluruh dunia.

“Amerika Serikat dibesarkan oleh iklan,” begitu jurnalis senior Peter A Rohi pernah berujar. Ini berarti untuk melampaui Amerika, Indonesia butuh copywriter hebat sekampiun M. Yamin. Demi memotivasi para copywriter masa kini agar sehebat beliau, mari kita tetapkan M. Yamin sebagai Bapak Copywriter Nasional.

 

*sumber gambar: akukamuindonesia

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Kongres PemudaM. YaminSumpah Pemuda
Merry Magdalena

Merry Magdalena

Artikel Terkait

Ragam

Kedunguan Kabinet Prabowo dan Cara Pandang pada Papua yang Tak Berubah

30 Oktober 2024
M. Tabrani: Cerita di Balik Pengukuhan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan
Video

M. Tabrani: Cerita di Balik Pengukuhan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan

6 November 2023
Muhammad Yamin: Bapak Bahasa Persatuan Indonesia Pencetus Ikrar Sumpah Pemuda
Video

Muhammad Yamin: Bapak Bahasa Persatuan Indonesia Pencetus Teks Sumpah Pemuda

28 Oktober 2022
Masa Depan Koin Kripto Indonesia yang Rilis di Hari Sumpah Pemuda MOJOK.CO
Konter

Masa Depan Koin Kripto Indonesia yang Rilis di Hari Sumpah Pemuda

20 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.