Banyak anak saling berebut warisan orang tua karena saking menggiurkannya. Tapi ada pula anak yang, tanpa diminta, justru ketiban warisan sangat banyak hingga berat memangkulnya di pundak. Sialnya bukan berupa harta, tapi sebuah utang mencekik dan menuntut dibayar.
***
Selama sang bapak masih hidup, Shofwan (33) dan seorang adiknya merasa kehidupan berjalan nyaris tanpa kesulitan ekonomi. Sang bapak bekerja di bidang jasa transportasi muat barang.
Sejauh yang Shofwan tahu, keluarganya tidak pernah merasa jatuh di masa sulit sampai harus berutang sana-sini. Karena memang orang tua Shofwan selalu berpesan: Kalau bisa, hindarilah utang karena itu akan membuat hidup menjadi lebih sulit.
Itulah kenapa orang tua Shofwan yang memang agamis meminta dua anaknya tersebut untuk selalu membaca doa yang diajarkan Rasulullah Saw:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.
Akan tetapi, doa-doa itu seperti buyar ketika sang bapak meninggal. Sebab, alih-alih memberi warisan harta kepada anak-anaknya, sang bapak justru meninggalkan perkara yang pada akhirnya membuat hidup dua anaknya berantakan.
Kabar lebih memukul ketimbang kematian bapak: tinggalkan warisan utang
Bapak Shofwan meninggal diduga karena gangguan paru-paru kronis di penghujung 2021. Beberapa hari setelah jasad sang bapak dikebumikan, beberapa saudara dan bahkan kolega sang bapak datang ke rumah.
Tidak sekadar menghaturkan belasungkawa. Tapi awalnya secara halus menyinggung soal apa yang diwariskan bapak kepada kami.
“Bapak itu hanya punya aset rumah yang kami tinggali. Hanya itu. Karena selama ini memang kami hidup tenang dan cukup dari hasil kerja bapak,” ucap pemuda asal Jawa Tengah itu, Selasa (10/3/2026).
Kemudian, seorang saudara dan orang yang mengaku kolega kerja sang bapak membeber catatan di atas meja ruang tamu. Isinya adalah nominal utang sang bapak yang harus dibayar oleh ahli warisnya: dalam hal ini ya Shofwan dan adiknya.
Tubuh Shofwan gemetar hebat saat membaca catatan tersebut. Fakta bahwa sang bapak meninggal dengan warisan utang itu memberi pukulan yang jauh lebih telak ketimbang kabar kematiannya.
Faktanya lagi, ibu Shofwan ternyata tidak tahu sama sekali kalau mendiang suaminya memiliki hutang cukup besar. Tak pelak jika sang ibu langsung menangis histeris.
“Belum lagi di lain hari ada debt collector yang datang menagih. Ada di angka Rp100-an juta lah utang bapak. Karena ternyata tercecer di mana-mana. Dan semua itu kami keluarga intinya nggak tahu sama sekali,” ujar Shofwan.
Warisan utang orang tua: warisan yang tidak bisa ditolak dan diperebutkan
Sampai saat ini, Shofwan masih suka membatin getir jika membicarakan bab warisan. Bagaimana tidak. Banyak anak-anak di luar sana yang saling berebut untuk mengambil jatah warisan dari orang tua. Sementara dalam kasus Shofwan, siapa juga yang mau berebut beban utang sebesar itu?
“Masalahnya juga nggak bisa ditolak karena ahli waris hahaha,” seloroh Shofwan.
“Aku nggak mungkin membebani ibu yang hanya ibu rumah tangga dan nggak tahu apa-apa soal utang bapak untuk ikut melunasi. Tapi aku juga nggak bisa menanggung beban itu sendirian meskipun aku anak pertama,” sambungnya.
Pada akhirnya, Shofwan dengan sangat berat hati meminta adik laki-lakinya yang kala itu baru lulus SMK untuk membantu mengumpulkan uang. Adik Shofwan mengerti, dan dengan kesadaran penuh bersedia membantu.
Baik Shofwan maupun sang adik memang memiliki pekerjaan tetap. Tapi di luar itu, mereka masih akan mengambil beberapa pekerjaan tambahan. Pokoknya asal ada uangnya, mereka sikat.
Baca halaman selanjutnya…
Pura-pura baik-baik saja padahal hidup makin berantakan
Pura-pura baik-baik saja padahal berantakan
Urusan warisan utang orang tua tersebut membuat kehidupan Shofwan dan sang adik benar-benar berantakan.
Sebelum sang bapak meninggal, Shofwan sebenarnya sudah merencanakan untuk melamar sang kekasih, untuk nantinya lanjut ke jenjang pernikahan. Namun, acara lamaran tersebut dibatalkan.
“Di tengah jalan juga aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Umur udah kepala tiga, dia perempuan, dikejar-kejar keluarga buat segera nikah. Nunggu hidupku membaik dalam situasi seperti itu rasa-rasanya nggak mungkin. Jadi kuminta dia buat cari yang lebih mapan aja lah,” tutur Shofwan.
Sementara sang adik, yang harusnya punya banyak kesempatan atau melakukan banyak hal di remaja seusianya, harus turut kalut dalam beban seberat itu.
Tidak ada yang baik-baik saja antara Shofwan dan sang adik. Jelas sangat capek dan sumpek. Tidak jarang Shofwan dan sang adik saling meratap dan menangis saat sedang ada momen berdua: entah di kursi Indomaret atau di tepi kali saat mereka mancing berdua.
“Tapi di hadapan ibu, kami sepakat untuk jangan sambat apapun. Harus kelihatan baik-baik saja. Bikin hati dia ayem,” ucap Shofwan.
Sering kali sang ibu, karena merasa bersalah, menangis dan meminta maaf karena alih-alih memberi warisan harta, orang tua justru membebani dengan utang besar. Nyesek, jelas. Tapi Shofwan mencoba menghibur sang ibu, mengatakan kalau semuanya bakal teratasi. Utang-utang bapak bakal lekas lunas.
Minimal belum mantap bunuh diri
Ada masanya ketika Shofwan dan adiknya merasa marah meletup-letup kepada sang bapak yang sudah terbaring di liang lahad. Kemarahan yang sulit dijelaskan.
Di momen itu, tidak jarang Shofwan berpikir untuk mengakhiri hidup saking tidak kuatnya memanggul beban utang tersebut.
“Ya butek aja pikiranku. Kalau lagi jernih ya mikir lagi, kasihan ibu dong kalau aku bunuh diri. Apalagi dia juga sama kayak aku, nggak tahu menahu utang bapak semasa hidup itu dibuat apa saja.
“Kalau adikku lebih dewasa lagi. Dia mengasumsikan, utang-utang bapak itu ya buat biaya kuliahku dulu, biaya sekolah adik, dan keperluan rumah tangga lain. Itu yang membuat kami dan ibu nggak merasa kekurangan ekonomi. Jadi ya kalau memang akhirnya begini, mau diapain lagi kalau nggak dijalani?” lanjut Shofwan.
Sampai saat ini, Shofwan mengaku masih kerap mendapat bisikan untuk mengakhiri hidup. Terutama saat pundaknya terasa semakin berat dan pikirannya teramat butek. Untungnya, minimal hingga saat ini, bisikan itu belum berhasil membuatnya merasa “mantap” untuk menenggak racun serangga. Dorongan untuk melanjutkan hidup masih lebih kuat meski harus dengan tubuh “terkoyak-koyak”.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik “Hama”, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
