Usia 30 Belum Punya Rp100 Juta Pertama: Nasib Sandwich Generation, Gaji Ludes di Tengah Bulan Tanpa Sempat Dinikmati, dan Tetap Dinyinyiri

Rp100 juta pertama, tabungan bersama pas pacaran itu bikin repot MOJOK.CO

Ilustrasi - Tabungan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Sering terdengar anggapan bahwa saat menginjak usia 30 tahun, seseorang idealnya sudah harus mengantongi uang Rp100 juta pertama. Angka ini bisa berupa hasil tabungan, investasi, ataupun total aset yang dimiliki. Namun, bagi mereka yang terjebak dalam posisi sandwich generation (generasi yang menanggung hidup diri sendiri, orang tua, dan kadang adik-adiknya), target tersebut terasa seperti hal yang mustahil.

Jangankan bermimpi punya Rp100 juta pertama, sekadar bisa bertahan hidup sampai pertengahan bulan saja rasanya sudah kewalahan. Gaji bulanan sering kali sudah ludes tak bersisa hanya untuk membiayai berbagai kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya.

“Belum sampai tanggal 20 saja gaji sudah habis, benar-benar tidak ada sisa,” ungkap Kania (25), salah seorang sandwich generation yang membagikan ceritanya kepada Mojok, Minggu (8/2/2026). “Yang bikin sedih, gaji itu habis begitu saja tanpa sempat kita nikmati, rasanya cuma numpang lewat.”

Benarkah usia 30 tahun harus punya Rp100 juta?

Banyak pakar keuangan memang berpendapat bahwa idealnya, seseorang di usia 30 tahun sudah memiliki aset minimal Rp100 juta. Perencana Keuangan, Andy Nugroho, menjelaskan bahwa nominal tersebut bisa dihitung dari gabungan jumlah tabungan dan dana darurat.

“Sebenarnya tujuan keuangan tiap orang itu berbeda-beda. Namun, secara umum yang sebaiknya dimiliki adalah tabungan dulu, baru kemudian dana darurat, itu poin pentingnya,” jelas Andy, dikutip Selasa (10/2/2026).

Mengenai tabungan, ia menyebutkan bahwa seseorang setidaknya memiliki simpanan sekitar Rp50-100 juta saat masuk usia kepala tiga. Menurut Andy, angka tersebut sebenarnya masuk akal dicapai dengan cara menyisihkan 15-25 persen penghasilan bulanan untuk ditabung.

Misalnya, seseorang dengan gaji Rp5 juta bisa menyisihkan Rp700 ribu hingga Rp1 juta per bulan sebagai simpanan. Dalam satu tahun, tabungan yang terkumpul sudah lebih dari Rp10 juta. Artinya, dalam kurun waktu 10 tahun, ia bisa mendapatkan Rp100 juta. Meskipun, kata Andy, membutuhkan usaha ekstra untuk menahan pengeluaran dan tidak membeli barang-barang yang kurang penting.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa seseorang yang memasuki usia 30 tahunan biasanya sudah mulai tertarik untuk berinvestasi. Sebagian orang lebih nyaman dengan investasi fisik seperti properti (tanah/rumah) dan emas, sementara ada juga yang memilih instrumen keuangan seperti reksadana, saham, atau aset kripto.

Jangankan Rp100 Juta, setengah gaji saja sudah habis untuk keluarga

Sayangnya, teori keuangan tersebut tidak bisa sepenuhnya diterapkan oleh semua orang. Kania, misalnya, setiap bulan merasa sangat kesulitan bahkan sekadar untuk menyisihkan sedikit gajinya. Boro-boro untuk menabung, untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari saja terkadang masih kurang.

Kania mencoba merinci pengeluarannya. Sebagai pekerja dengan gaji setara UMR Jogja “lebih sedikit”, pada setengah bulan terakhir, uang di rekeningnya sering kali hanya tersisa kurang dari Rp500 ribu.

“Anggap saja gajiku 3 juta. Saat gajian, 750 ribu langsung habis untuk bayar kos. Satu juta wajib transfer ke orang tua di kampung, kadang malah lebih. Nah, sisanya tinggal berapa?” keluhnya.

“Jangankan Rp100 juta, bisa menyisakan Rp500 ribu di rekening pada akhir bulan untuk bertahan hidup saja rasanya sudah sangat bersyukur,” tambah perempuan tulang punggung keluarga ini.

Bagi sandwich generation, Gaji Rp6 Juta pun tetap sulit menabung

Mungkin sebagian orang berpikir Kania sulit menabung karena pendapatannya pas-pasan atau setara UMR Jogja. Namun kenyataannya, pekerja dengan standar gaji UMR Jakarta pun merasakan penderitaan yang sama.

Belum lama ini, di akun media sosial X (Twitter) @workfess, seorang warganet curhat mengenai beratnya menjadi sandwich generation, yang dituntut punya tabungan Rp100 juta pertama, meski sudah memiliki gaji yang layak. Ia bercerita bahwa gajinya di Jakarta mencapai Rp6 juta per bulan.

Akan tetapi, dengan besarnya pengeluaran—seperti membiayai kebutuhan orang tua dan biaya sekolah adik-adiknya—angka tersebut masih jauh dari kata cukup. Apalagi jika melihat biaya hidup di Jakarta yang memang terkenal mahal.

Di kolom komentar, banyak netizen yang membenarkan dan merasakan hal serupa. Para pekerja di Jakarta ini mencurahkan isi hatinya. Meski rata-rata bergaji Rp6 juta, sering kali mereka hanya bisa menikmati sekitar Rp2 juta saja untuk diri sendiri. 

Sisanya? Menguap begitu saja untuk kebutuhan lain yang kadang tidak terasa pengeluarannya.

“Ini bukan masalah kita boros atau tidak bisa menabung, ya. Tapi memang biaya hidup itu besar, ditambah kita punya tanggungan lain yang bernama keluarga,” tulis salah satu netizen membela diri.

Ironisnya, uang habis tanpa sempat dinikmati sendiri

Jika pekerja dengan gaji Rp6 juta saja merasa uangnya “cuma numpang lewat”, bayangkan nasib mereka yang berpenghasilan separuhnya. Kania, yang bergaji Rp3 juta sebulan, mengakui bahwa di akhir bulan uangnya ludes tanpa ia merasa sempat menikmatinya untuk kesenangan pribadi.

Bagaimana mau menikmati, jika uang bersih yang ia pegang hanya sekitar Rp1 juta “lebih sedikit” untuk hidup selama satu bulan penuh. Mau tidak mau, Kania harus menekan habis-habisan segala pengeluaran di luar kebutuhan pokok.

“Dengan uang segitu, ya mau nggak mau harus memprioritaskan buat makan dan bensin saja. Fuck lah apa itu Rp100 juta pertama, ” ujarnya pasrah.

Akibatnya, dana untuk “senang-senang” nyaris tidak pernah ada. Terkadang, sekadar ingin menonton film di bioskop saja ia harus berpikir dua kali. Baginya, uang Rp35 ribu—harga tiket bioskop paling murah—terlalu berharga untuk “dibuang” begitu saja.

Ada kalanya saat teman-temannya mengajak jalan-jalan ke mal, ia memilih hanya menjadi “penonton”. Ia cuma melihat-lihat, tanpa membeli satu barang pun karena harganya dirasa terlalu mahal.

“Kadang ada rasa iri melihat teman-teman bisa beli sepatu baru, tas baru, atau baju baru. Tapi aku sadar diri, kebutuhan keluarga di rumah jauh lebih mendesak daripada kesenangan pribadiku,” ungkapnya.

Sudah susah, masih saja dinyinyiri

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kania merasa betul, sudah hidupnya susah karena menjadi sandwich generation dengan gaji pas-pasan, nyinyiran pun kerap dialamatkan kepadanya.

Misalnya, beberapa kali ketika pulang kampung, tetangga kerap membandingkan pencapaiannya dengan orang lain yang dianggap lebih sukses.

“Si A setahun kerja di kota sudah beli motor baru. Si B sudah renov rumah. Si C ini itu,” ujarnya, kesal.

“Tetangga itu pikirannya sempit, kalkulasinya terlalu menyederhanakan masalah. Mereka pikir gaji 3 juta itu banyak, soalnya di kepala mereka nggak pernah mikir kalau kita juga perlu makan.”

Alhasil, bagi Kania dan tulang punggung keluarga lainnya, Rp100 juta pertama di usia 30 tahun terasa seperti mimpi di siang bolong. Sekuat apapun mencoba bakal sulit tercapai; bukan karena kurang berusaha, tapi memang sistem yang menghalanginya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version