ADVERTISEMENT

Tulungagung adalah Kota yang Nyaman untuk Ditinggali namun Tidak Menjamin Masa Depan Anak Mudanya

tulungagung

Tulungagung menjadi kota yang nyaman untuk dijadikan “kota pulang”, semuanya tersedia. Namun kota ini tidak memberikan jaminan masa depan yang sejahtera untuk anak mudanya.

***

Bagi Nimas (27), Tulungagung bukan kota yang buruk. Justru sebaliknya. Kota tempat ia dilahirkan itu terasa pas untuk menjalani hidup: tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi, lingkungan tempat tinggalnya bersih, dan hampir semua kebutuhan sehari-hari mudah dijangkau. Masalahnya, hidup yang nyaman belum tentu cukup untuk membuat anak muda berani menggantungkan masa depannya di sana.

Nimas adalah guru SMA dan perempuan asli Tulungagung. Ia pernah tinggal di Jogja untuk kuliah. Pengalaman hidup di dua kota membuatnya punya pembanding sederhana: Tulungagung nyaman untuk pulang, tetapi belum tentu cukup menarik untuk membuat anak muda bertahan dan mengejar masa depan.

“Kalau anak SMA di sini ingin pergi ke Jogja atau kota lain, biasanya mereka mencari kehidupan yang lebih bebas dan modern. Mall, tempat hiburan, atau pendidikan tinggi yang lebih banyak,” ujar Nimas kepada Mojok, Selasa (08/09/2026).

Di Tulungagung, kata dia, pilihan hiburan memang terbatas. Kalau ingin mencari tempat yang lebih ramai atau sekadar merasakan suasana kota besar, warga harus pergi ke luar kota. Namun, keterbatasan itu bukan berarti Tulungagung tidak berkembang.

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Kabupaten Tulungagung tumbuh 5,75 persen pada 2025. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku bahkan mencapai Rp55,40 triliun. Indeks Pembangunan Manusia Tulungagung juga mencapai 75,88 pada 2025, naik dari 75,13 pada tahun sebelumnya.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa Tulungagung bukan daerah yang sedang berhenti bergerak. Hanya saja, bagi Nimas, pertumbuhan daerah dan bayangan masa depan anak muda adalah dua persoalan berbeda.

Nyaman untuk hidup, namun tidak menjanjikan masa depan

Menurut Nimas, Tulungagung cocok untuk mereka yang ingin slow living dan menjadi kota yang nyaman untuk mereka yang ingin  merasa “pulang. Sebaliknya, ia merasa Tulungagung tidak terlalu cocok bagi orang yang ingin hidup dengan gaya hedon, mengejar hiburan, atau membutuhkan banyak pilihan aktivitas perkotaan.

Nimas tidak menganggap hal tersebut sebagai kekurangan mutlak. Bahkan, menurutnya, keterbatasan itu membuat kehidupan di Tulungagung terasa lebih normal. Di sana, orang tidak perlu terburu-buru. Jalanan tidak terus-menerus dipenuhi kemacetan. Lingkungan tempat tinggal juga menurut Nimas relatif bersih dan tidak terlalu padat.

“Di Tulungagung itu lebih lega. Orang bekerja sesuai polanya, tidak tergesa-gesa,” katanya.

Ada pula keuntungan geografis yang ia sukai. Dari pusat kota, masyarakat masih bisa menjangkau kawasan pegunungan dan pantai dalam waktu sekitar satu jam. Kalau ingin mencari hiburan, memang pilihan tidak sebanyak Jogja. Tetapi kalau sekadar ingin hidup, Nimas merasa Tulungagung sudah menyediakan hampir semuanya.

Bahkan menurutnya, ada satu hal yang sulit digantikan oleh kota besar: hubungan sosial.

“Kalau di Tulungagung tidak mungkin kamu kelaparan. Hubungan masyarakatnya masih solid, bahkan tetangga di sekitar rumah saya masih menerapkan gotong royong yang kuat,” ujar Nimas.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mungkin justru menjadi alasan mengapa ia tetap memilih pulang.

Kalau ingin sukses ya harus pergi dulu dari Tulungagung

Persoalannya muncul ketika pembicaraan bergeser dari tempat tinggal menjadi tempat mencari masa depan. Nimas melihat sebagian anak muda Tulungagung memilih pergi setelah lulus sekolah. Ada yang kuliah ke luar kota, ada pula yang mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih besar di luar daerah bahkan luar provinsi. Sebagian lainnya memilih tetap tinggal karena mengikuti keinginan orang tua.

Namun ada pola yang menurut Nimas cukup umum: pergi untuk mencari uang, lalu kembali ketika sudah mapan.

“Biasanya mereka merantau dulu. Kalau sudah punya banyak uang atau sudah tua, baru kembali menetap di Tulungagung,” katanya.

Namun apakah berarti Tulungagung ini seperti tempat pulang, bukan tempat mengejar mimpi? Nimas tidak langsung membantah.

“Benar bagi sebagian orang. Tergantung orangnya mau mencari apa,” jawabnya.

Di sinilah posisi Tulungagung menjadi menarik. Kota ini bukan berarti tidak menyediakan kesempatan. Tetapi menurut Nimas, anak muda yang memiliki ambisi finansial lebih besar sering kali harus melihat keluar daerah. Mereka pergi bukan karena membenci Tulungagung. Mereka pergi justru karena ingin punya sesuatu yang nantinya bisa dibawa pulang.

Kota yang tidak mengusir namun membuat anak mudanya pergi

Nimas sendiri pernah menjadi bagian dari mereka yang meninggalkan Tulungagung untuk kuliah di Jogja. Setelah merasakan hidup di kota lain, ia tetap memilih Tulungagung. Alasannya bukan karena Tulungagung tiba-tiba berubah menjadi kota dengan mall besar, pusat hiburan berlapis, atau pilihan pendidikan tinggi sebanyak kota-kota besar.

Baginya, rumah yang nyaman tidak harus menawarkan semuanya. Tulungagung punya gunung, pantai, tempat bersejarah, lingkungan yang relatif tenang, dan masyarakat yang masih dekat satu sama lain.

Ia bahkan tidak terlalu terkesan dengan semua destinasi wisata yang sering dibanggakan warga. Pantai Gemah, misalnya, menurutnya biasa saja.

“Pantainya sebenarnya biasa saja. Cuma tempatnya luas dan jalannya enak, jadi banyak yang datang,” katanya.

Jawaban itu terdengar seperti bentuk kejujuran yang justru membuat pandangannya tentang Tulungagung semakin masuk akal. Ia tidak sedang menjual kampung halaman. Ia hanya sedang menjelaskan mengapa dirinya betah tinggal di sana.

Mungkin memang begitu cara Tulungagung bekerja

Tulungagung mungkin bukan kota yang membuat anak muda merasa harus tinggal untuk membuktikan sesuatu. Ia juga bukan kota yang terus-menerus menawarkan sensasi kehidupan modern. Tetapi justru di situlah daya tariknya bagi Nimas.

Kota ini memberinya ruang untuk hidup tanpa terlalu banyak tuntutan. Jika ingin mengejar uang lebih banyak, orang boleh pergi. Jika sudah mendapatkan yang dicari, pulang pun selalu menjadi pilihan.

Tulungagung, bagi Nimas, memang nyaman untuk ditinggali. Hanya saja, kalau seorang anak muda ingin mengejar mimpi yang lebih besar, ia mungkin harus berani meninggalkan kenyamanan itu terlebih dahulu. Setidaknya untuk sementara. Barangkali memang begitulah hubungan anak muda dengan Tulungagung: pergi untuk mencari masa depan, lalu pulang ketika masa depan itu sudah terkumpul.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kisah Pemuda Asal Tulungagung Mencari Jawaban Atas Hidup dengan Mengasuh Anak-anak di Panti Asuhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version