Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Agustus 2026
A A
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Ilustrasi Rumah di Desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang berpikir kalau slow living di desa cuma bisa dinikmati oleh mereka yang punya banyak uang dan sudah berhasil punya rumah sendiri. Lalu, bagaimana nasib orang-orang yang memutuskan tinggal di desa, tapi posisinya masih numpang di rumah mertua? 

Kenyataan ini dirasakan oleh Dimas (29). Sudah hampir lima tahun ini ia tinggal di desa istrinya, di kawasan Bantul, tepat di bawah atap rumah sang mertua.

Iklan

“Karena ada satu dan lain hal, mau tak mau harus tinggal bareng mertua. Jadinya ya tiap hari bolak-balik desa ke kota kalau lagi ada job,” kata fotografer lepas ini, Senin (11/8/2026) malam.

Awalnya, Dimas mengira tinggal di rumah mertua akan membuatnya penuh tekanan, canggung, dan jauh dari kata tenang. Namun, seiring berjalannya waktu, ia sadar kalau slow living di rumah mertua tetap bisa diwujudkan, asalkan mau memegang tiga prinsip “sederhana”.

Harus melebur dengan ritme rumah, bukan melawannya

Dimas mengakui, tantangan paling berat saat tinggal menumpang mertua adalah menyamakan rutinitas. Di awal kepindahannya, ia yang terbiasa dengan gaya hidup orang kota, apalagi pekerja lepas, yang sering begadang dan baru bangun agak siang. 

Sementara itu, ayah dan ibu mertuanya sudah bangun sejak jam empat subuh. Jam lima pagi, rentetan suara aktivitas rumah sudah dimulai. 

“Udah pada nyapu. Nyuci. Pokoknya sibuk, agak sungkan kalau kita nggak ikut bangun,” ujarnya.

Kondisi ini sempat membuat Dimas merasa stres dan tertekan. Ia merasa punya beban moral untuk bangun lebih pagi. Awalnya, ia merasa kurang nyaman, sebab tidurnya jadi tidak pernah nyenyak karena selalu waswas dan takut telat bangun.

Sampai akhirnya, ia mengubah cara berpikirnya. Daripada stres karena terpaksa bangun dengan perasaan kesal, Dimas memilih legawa. 

“Ubah mindset. Saya bangun pagi ya buat kewarasan diri saya sendiri. Ternyata, duduk diam di teras jam setengah enam pagi, menghirup udara desa yang masih dingin, apalagi sambil ngopi, ternyata tenang banget,” cerita Dimas.

Menikmati hidup tanpa pusing memikirkan cicilan KPR

Tidak punya rumah sendiri sering kali membuat seseorang merasa minder saat berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Namun, jika dilihat dari kacamata slow living, menumpang di rumah mertua sebenarnya membawa keuntungan tersendiri yang patut disyukuri.

Dimas bercerita, banyak temannya di kota yang kelihatannya sukses karena sudah punya rumah sendiri, tapi hidupnya penuh dengan tekanan. Mereka harus bekerja keras setiap hari demi bisa membayar cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mencekik selama 15 tahun ke depan. 

“Belum lagi kalau tiba-tiba apes, ada kerusakan bangunan. Uang simpanan pasti langsung terkuras,” ungkapnya.

“Di rumah mertua, saya sama sekali nggak pusing mikirin harus bayar pajak bumi. Beban berat soal merawat bangunan itu nggak ada di pundak saya.”

Iklan

Sebagai gantinya, Dimas cukup tahu diri dengan cara membantu membayar tagihan listrik bulanan, membeli token air, atau rutin membelikan beras dan lauk pauk untuk dimakan bersama.

Dengan pengeluaran yang jauh lebih ringan ketimbang harus mencicil rumah puluhan juta, keuangan keluarganya jadi jauh lebih sehat dan bisa ditabung.

Mencari “pelarian” di luar rumah

Meski beban keuangannya ringan, tinggal bersama mertua tetap saja harus mengorbankan privasi. Di rumah mertua, hampir semua ruangan adalah area publik tempat keluarga berkumpul. Seorang menantu tidak bisa seenaknya menguasai ruang televisi seharian.

Di sisi lain, terus-terusan mengurung diri di dalam kamar juga bukan pilihan yang bagus. Selain dinilai tidak sopan, tindakan itu bisa membuat mertua salah paham dan mengira menantunya malas bersosialisasi.

Untuk menyiasatinya, Dimas selalu memegang prinsip mencari “jeda” di luar rumah.

Setiap sore sepulang kerja, saat ia butuh waktu untuk menyendiri dan lari dari hiruk-pikuk obrolan rumah, Dimas tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia memilih menciptakan rutinitas kecil di luar rumah mertuanya.

Kadang ia bersepeda santai menyusuri jalanan desa. Kadang ia sekadar berjalan kaki keliling desa dan jajan di warung milik tetangga.

Rutinitas ini menjadi ruang pelariannya yang paling aman dan etis. Ia bisa mendapatkan waktu untuk memanjakan dirinya sendiri tanpa harus menyinggung perasaan orang di rumah.

Begitu lelahnya hilang dan ia kembali melangkah masuk ke rumah, pikirannya sudah segar lagi untuk ikut mengobrol dan bergurau dengan sang mertua.

“Intinya sih kita harus sadar posisi dan tahu diri saja. Hidup tenang itu nggak melulu harus diukur dari seberapa mewah rumah yang kita punya kok,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2026 oleh

Tags: cicilan KPRDesaGaya hidup slow livingpilihan redaksirumahrumah di desarumah sendirislow livingslow living di desatak punya rumah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

ngaji al-qur'an.MOJOK.CO
Kabar

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
lestarikan budaya.MOJOK.CO

Rayakan HUT ke-81 RI, InJourney Tebar Diskon 81 Persen dan Gelar Pesta Budaya di Destinasi Sejarah Nusantara

10 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.