ADVERTISEMENT

Sisi Lain Sopir Truk: Tampang Sangar dan Gentho, Tapi Hati Lembut dan Penyayang Keluarga

Sisi lain sopir truk: tampang sangar dan brutal tapi lembut dan penyayang keluarga MOJOK.CO

Sopir truk seperti truk muatan besar memang terlihat sangar dan menyeramkan. Namun, hatinya bisa luluh jika berhadapan dengan keluarga, terutama anak perempuannya. 

***

ADVERTISEMENT

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa para sopir truk selalu menunjukkan kesan sangar, brutal, bengis dan menyeramkan. Setidaknya dari penampilan fisik lah. Gentho kalau pakai istilah Jogja. Mulai dari potongan rambut, badan besar, tato di beberapa bagian tubuh, hingga telinga bertindik, seolah menjadi ciri yang melekat di kalangan sopir truk. 

Salah satu sopir truk yang berciri itu adalah Hendri (49), yang saat ini menjadi pengemudi truk muatan besar. Namun, yang menarik dari Hendri, di balik tampangnya yang sangar dan siap baku hantam di jalan itu, ternyata ia menjadi sosok yang sangat penyayang terhadap keluarga. Begitulah yang diakui oleh anak perempuan Hendri: Alifvia (20)

Tampang preman, pernah bikin anak perempuan susah cari teman

Alifvia menjadi satu dari sekian anak yang beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Terlebih, ia adalah anak tunggal di keluarga kecilnya. 

Namun, ada satu hal yang kerap membuat Alifvia overthinking: ketika penampilan ayahnya justru membuatnya sempat kesulitan mencari teman. Sebagai gambaran betapa sangar tampang sang ayah: teman-teman Ayah Alifvia memanggilnya “Jhon Hendri”, diambil dari nama nama besar Jhon Kei yang legendaris. 

“Lucu aja, sih, ternyata penampilan ayahku yang kayak gitu (sangar seperti preman) bikin beberapa temanku takut main ke rumah,” kata perempuan asal Magelang tersebut kepada Mojok, Kamis, (22/10/2026).

“Paling parah dulu waktu SD. Di sekolah tuh banyak yang bilang kalau mereka sering lihat ‘orang ngeri’ di dekat rumahku. Setelah kucari tahu, lah, ternyata itu ayahku,” imbuhnya.

Alifvia mengamini, bahwa tampang dan penampilan sang ayah memang kerap membuat orang mengiranya sebagai gentho. Namun, ada sisi lain yang harus orang tahu tentang ayah Alifvia yang berprofesi sebagai sopir truk tersebut: tampang boleh sangar, tapi hatinya lembut dan penyayang. 

Sisi lain sopir truk: tampang sangar, hati lembut dan penyayang

Bagi Alifvia, ayahnya adalah cinta pertama yang tak bisa digantikan oleh siapapun. Meski tampang ugal-ugalan, tapi ketika di rumah, sang ayah hampir tak pernah marah. Baik kepada Alifvia maupun kepada Ibu Alifvia. 

ADVERTISEMENT

“Ayahku tuh super-duper baik. Apalagi kalau sama aku, nggak pernah aku dilarang-larang sama dia. Ayahku tuh act of service banget lah intinya,” kata Alifvia.

“Family man banget. Bahkan, kalau lagi di rumah, kalau aku mau main pasti diantar-jemput. Waktu lagi sakit, aku minta jajan, pasti dia beliin,” akunya.

Hal-hal semacam itu lah yang membuat Alifvia begitu dekat dan sangat terikat dengan ayahnya. Bahkan, ketika sang ayah harus meninggalkan rumah karena panggilan kerja, tak jarang Alifvia menangis karena merindukan sosok ayahnya di rumah.

“Mungkin salah satu yang bikin aku susah dapat pacar adalah aku selalu melihat cowok lain harus kayak ayahku,” tuturnya dengan tawa. 

Sopir truk juga bisa bikin bangga keluarga kecilnya

Kata Alifvia, sudah 27 tahun sang ayah bekerja sebagai sopir truk muatan besar. Kerasnya jalanan sudah menjadi makanan sehari-hari sejak sang ayah berusia 22 tahun. 

Keputusan sang ayah menjadi sopir truk bermula usai ia menemani bapaknya (kakek Alifvia) yang juga merupakan sopir truk. Dari situ ayah Alifvia ketagihan dan akhirnya memutuskan menjadi sopir truk hingga sekarang. 

Meski kerjaan sang ayah bukan pekerjaan formal bahkan seringkali dikesankan sebagai pekerjaan rendah, tapi Alifvia menegaskan sangat bangga dengan ayahnya. 

Selain kelembutan dan kasih sayang terhadap keluarga sebagaimana disinggung sebelumnya, Ayah Alifvia selalu berusaha menyenangkan hati keluarga kecilnya meski melalui hal-hal sederhana. Misalnya, Ayah Alifvia tidak pernah pulang dengan tangan kosong. 

“Dan alhamdulillah, meski ayahku cuma seorang sopir truk, tapi karenanya aku bisa kuliah,” aku Alifvia.

Dari menjadi sopir truk itu pula, dari mencicil upah sedikit demi sedikit, Ayah Alifvia bisa membangunkan rumah nyaman untuk keluarga (meski mungil). Pokoknya, apapun untuk kebahagiaan dan kenyamanan keluarga, pasti sang ayah usahakan, lewat kerja kerasnya di kursi kemudi truk, melibas jalan dengan muatan-muatan besar. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rindu Keluarga Membuat Saya Pulang Tiap Minggu, Meski Waktu Bersama Cuma Seperempat Tahu 
atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.