Elliott Harrell atau Harrell adalah lulusan Jurusan Jurnalistik, tetapi berkecimpung di bidang lain setelah lulus kuliah. Selama 17 tahun melakukan pekerjaan kantoran hingga mencapai posisi eksekutif, dia memutuskan untuk melakukan pekerjaan sampingan (side hustle) agar mendapatkan kepuasan bekerja sesuai keinginan.
Namun sayangnya, kepuasan yang didapatkan dari side hustle tidak sebanding dengan pengorbanan yang harus diberikan. Meskipun, gajinya terbilang lebih besar dari pekerjaan kantoran.
Mengambil side hustle demi kepuasan pribadi
Pindah haluan dalam karier adalah salah satu faktor yang menyebabkan Harrell menerima tawaran side hustle.
Ia lulus dari Jurusan Jurnalistik, tetapi malah bekerja di bidang pemasaran. Teknologi pula. Bidang pekerjaannya dapat dikatakan cukup jauh dari bayangan Harrell soal pekerjaan ketika masih berkuliah di Jurusan Jurnalistik.
Harrell lebih akrab dengan pekerjaan yang bersifat membebaskan kreativitas. Karena itu, tekanan pekerjaan yang “saklek” membuatnya gerah dan ingin mulai menulis lagi setelah 17 tahun bekerja di bidang berbeda.
Tahun 2024, Harrell memutuskan untuk mulai menulis.
“Tapi setelah punya anak, aku mulai mendambakan wadah kreativitas dan memutuskan untuk mulai menulis lagi pada tahun 2024,” kata dia, dikutip dari Business Insider, Rabu (1/4/2026).
Mulanya, dirinya mengatakan tidak berniat menghasilkan uang dari aktivitas menulisnya. Beberapa tulisan pertamanya bahkan mengangkat cerita pribadi tanpa bayaran. Ia menulis dari pengalaman sebagai seorang ibu untuk sebuah situs tentang parenting.
Cerita pribadi yang dibagikan dalam tulisan-tulisan Harrell ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi dirinya sendiri, yang mulai penat bekerja kantoran.
“Aku nggak berniat menghasilkan uang dari menulis. Beberapa tulisan pertamaku adalah cerita pribadi tanpa dibayar untuk situs web tentang pengasuhan anak,” akunya.
Namun tidak lama setelah mulai menulis kembali, Harrell dihubungi oleh editor dan ditawarkan pekerjaan lepas sebagai penulis. Tawaran ini memberikannya kepercayaan diri untuk mengubah tulisan tak berbayarnya menjadi side job.
Side hustle lebih menguntungkan ketimbang kerja kantoran
Setelah menekuni tulis-menulis sebagai pekerjaan tanpa melepaskan pekerjaan utamanya—membuat dirinya harus side hustle—Harrell menyadari pekerjaan sampingan ini lebih menguntungkan.
“Tahun 2024, aku menghasilkan sekitar Rp152 juta (dikonversi dari 8.995 dolar AS),” kata dia.
Bahkan setelah menghabiskan lebih banyak waktu untuk side hustle, penghasilan tersebut berlipat ganda. Ia bisa menghasilkan hingga Rp516 juta dalam setahun hanya dari menulis.
Side hustle lain yang dilakoni Harrell, yakni mengajar les Mahjong (semacam permainan kartu), juga memberikan penghasilan tambahan sebesar Rp49 juta. Secara keseluruhan, dirinya menerima lebih dari Rp560 juta sebelum pajak.
“Secara keseluruhan, itu lebih dari Rp560 juta sebelum pajak,” kata dia.
Punya pekerjaan sampingan menyenangkan sampai merasa lelah
Dengan penghasilan yang bisa dihasilkan, serta kesempatan menyalurkan minat dan mendapatkan kepuasan dari side hustle, Harrell mengaku menyukai pekerjaan sampingannya.
“Aku suka side job-ku,” katanya mengakui.
Namun, dirinya tidak menyukai kesadaran bahwa dia harus mengorbankan banyak hal demi kepuasan dan tambahan penghasilan. Menurutnya, mengorbankan kehidupan pribadi demi side hustle tidak setara dengan kenyataan bahwa pekerjaan semacam ini tidak stabil.
“Tapi aku harus membuat pengorbanan besar dalam kehidupan pribadi dan nggak yakin apakah pekerjaan ini berkelanjutan,” kata dia.
Memang, Harrell mengaku mendapatkan fleksibilitas dari side hustle. Ia masih bisa menyeimbangkan pekerjaan utamanya dengan pekerjaan sampingan berkat nilai fleksibel ini.
Akan tetapi, dirinya menyebut side hustle sesungguhnya membutuhkan lebih banyak usaha. Saking banyaknya, Harrell tidak lagi bisa menutupi bahwa dia merasa lelah.
“Aku mengajukan setidaknya dua ide cerita baru setiap hari selama 2025. Artinya, bertukar pikiran, menelusuri sumber, dan mengirim email ke editor,” katanya.
“Kerja keras itu membuahkan hasil, dan aku menulis untuk 19 publikasi berbeda tahun lalu, sesuatu yang sangat aku banggakan, tapi jadi pekerjaan yang melelahkan setiap hari,” katanya menjelaskan.
Tidak lagi punya waktu santai
Rasa lelah Harrell muncul dari keharusan dirinya untuk menyeimbangkan pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, dan kehidupan.
Tahun lalu, dirinya rata-rata mengerjakan sekitar tiga tulisan dan satu jadwal les setiap minggu. Beban side hustle ini masih harus disesuaikan dengan pekerjaan kantoran dan kehidupan. Akibatnya, dia harus menyelesaikan tulisan sebelum anak-anak bangun atau setelah anaknya tidur. Artinya, jam kerjanya harus dimulai dari pukul 05.30 pagi, kemudian dilanjutkan pukul 20.30 hingga 22.30 malam.
Mau tidak mau, Harrell harus mengorbankan waktu istirahat makan siang untuk pekerjaan. Ia juga harus menyentuh side hustle di sela-sela kerja kantorannya. Setelah itu, dia masih harus bergegas menuju lokasi les pada malam hari sepulang kerja.
Rutinitas ini, kata Harrell, membuatnya merasa kehabisan energi. Ia merasa tidak lagi mempunyai waktu untuk bersantai, bahkan untuk sekadar mengisi ulang energi saja terasa sulit.
Kehidupannya menjadi terbatas hanya mengurusi pekerjaan akibat side hustle.
“Aku suka sibuk, tapi dengan mengurus anak, kerjaan kantorku, dan side hustle, aku merasa nggak punya waktu untuk santai dan recharge,” kata dia.
“Aku juga nggak bisa meluangkan banyak waktu untuk pertemanan atau pernikahanku seperti yang kuinginkan karena side hustle. Ini tanpa sengaja membuat stres dan semakin cemas, yang kutahu buruk buatku,” tandasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
