Tidak setiap orang punya kemewahan untuk self reward. Sekalipun itu berupa hadiah sederhana. Ada juga orang yang lebih memilih hidup irit dan pelit ke sendiri karena harus memberikan apa yang ia punya kepada keluarganya. Tiap mau menghadiahi diri sendiri justru merasa berdosa.
***
Potongan video di Instagram tentang “Kecenderungan seseorang yang kerap pelit ke diri sendiri” banjir komentar. Banyak yang mengaku relate dengan situasi tersebut. Salah satunya adalah Erdi (26), seorang pekerja di Sidoarjo, Jawa Timur.
Erdi mengaku kerap mengenyampingkan bahkan menghapus sama sekali keinginan pribadinya. Sebab, setiap keinginan itu muncul—sesederhana apapun—selalu berkelindan bersama bayang-bayang ibu dan adiknya di rumah.
Yang terjadi kemudian: Erdi hanya akan menghela napas panjang. Lalu pelan-pelan melupakan. Kepada dirinya, Erdi merasa harus hidup irit dan pelit. Karena ada dua orang yang harus ia bahagiakan.
Terlalu irit dan pelit ke diri sendiri karena tuntutan mengalah ke adik
Terlalu irit dan pelit ke diri sendiri rasa-rasanya sudah tertanam di diri Erdi sejak kecil. Ia dan adiknya berjarak sembilan tahun. Oleh karena itu, sejak kecil ia terpaksa harus sering mengalah.
Misalnya, sesederhana tas sekolahnya sudah saatnya ganti. Namun, karena di saat yang bersamaan sang adik menginginkan sesuatu, alhasil Erdi memilih untuk menahan dulu keinginannya.
Satu-satunya keinginan besar yang tidak bisa ia tahan adalah: kuliah. Tapi itu pun ia putuskan untuk kuliah sambil kerja di Surabaya. Meskipun, beruntungnya, ia juga akhirnya menerima beasiswa Bidikmisi (sekarang KIP Kuliah).
Orang tua berpisah, bapak tidak peduli lagi
Pada 2021, saat pandemi tengah memuncak, keluarganya diterpa badai masalah serius. Orang tuanya memutuskan berpisah (Erdi tidak bisa bercerita detail pada bagian ini).
Yang jelas, setelah itu sang bapak memilih tidak peduli, sekalipun pada adik Erdi yang saat itu masih SMP dan masih butuh uang saku. Karena ibunya pun tidak bekerja, Erdi mau tidak mau harus mengambil alih peran sebagai kepala keluarga.
“Untung 2021 itu aku lulus kuliah. Langsung cari kerjaan yang lebih baik (dapat di Sidoarjo), gajinya lebih banyak aku pulangkan ke ibu. Buat beliau dan adik,” ujar pemuda asal Jombang, Jawa Timur, Kamis (11/2/2026).
Baca halaman selanjutnya…
Selalu membuang keinginan jauh-jauh, tiap mencoba self reward selalu merasa berdosa
Tidak ada istilah self reward, semua keinginan dibuang jauh-jauh
Kehidupan penuh prihatin Erdi berlangsung hingga saat ia kuliah dan bekerja memang. Sebab, karena sadar kalau uang habis tidak akan bisa minta ke orang tua, ia harus benar-benar hidup irit dan pelit ke diri sendiri.
Prioritas utamanya adalah kebutuhan pokok: sewa kos, makan (dua kali sehari), bensin, paket data, dan kebutuhan alat-alat mandi (sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi). Sesekali ia beli rokok. Itu pun harus cari yang harganya murah. Satu bungkus isi 12 batang bisa ia pakai selama dua hari.
“Beli sampo, pasti yang sachet. Beli odol pasti yang kecil dan murah. Kalau ngopi ya sesekali. Di Surabaya dan Sidoarjo enaknya kan masih banyak warung kopi yang jual kopi Rp4 ribuan,” ungkapnya. “Pakaian juga sekadarnya. Nggak harus ngikuti tren. Pokok’e sing penting nyandang.”
Bahkan, urusan makan pun Erdi teramat sering hanya makan mie instan campur nasi. Itu sudah cukup buatnya. Bagi orang sepertinya, yang terpenting dari makan adalah kenyang. Tidak lebih. Walaupun sebenarnya ia juga ingin leluasa self reward; makan sesuai keinginan (makanan atau jajanan yang harganya sedikit lebih mahal).
Tapi itu tidak penting bagi Erdi. Sebab, dengan gaya hidup amat irit dan pelit ke diri sendiri, setidaknya uang yang bisa ia kirim ke rumah aman. Ibunya bisa mencukupi kebutuhan dapur dan lain-lain, kebutuhan sekolah sang adik juga terpenuhi.
Tiap mencoba self reward malah merasa dosa
Ada masanya, sebagai anak muda, Erdi ingin memanjakan diri sendiri. Suatu ketika, saat merasa sepatu atau tasnya sudah butut, ia mau tidak mau harus membeli baru.
Uangnya sebenarnya ada, hasil menyisih-nyisihkan. Itu membuatnya mantap mendatangi sebuah outlet sebuah brand lifestyle di Surabaya (salah satu yang sejak lama ia incar), ditemani oleh sang pacar. Setelah menjatuhkan pilihan, Erdi justru terduduk lama sekali. Tidak segera beranjak ke kasir.
“Aku kok merasa ada yang salah ya. Kayak, nggak seharusnya aku beli tas baru. Seharusnya duitnya buat ibu dan adik. Apalagi adik sudah SMA,” ucap Erdi saat itu.
“Di, kamu nggak salah, loh, kamu punya hak buat mikirin diri kamu sendiri. Toh kamu ada uang lebih, nggak ngorbanin uang buat orang rumah. Toh ini juga bukan buat gaya-gayaan. Tapi emang kebutuhan,” ucap sang pacar.
Itu berhasil melegakan Erdi. Namun, kok ya terasa hanya sesaat. Sebab, setiba di kos, Erdi justru menatap kosong tas dan sepatu yang baru ia beli. Rasanya seperti dosa yang tidak termaafkan.
“Bahkan pernah juga, sekadar makan bebek goreng sama pacar, itu kan biasa ya, cuma harganya lebih mahal dari makanan harianku. Bebek bisa Rp27 ribu per porsi. Kalau sehari makan kan cuma habis Rp15 ribu-Rp20 ribu. Itu aku sudah merasa berdosa. Apalagi kalau makan di restoran, misalnya makan ramen. Rasanya kayak mengkhianati ibu dan adik di rumah yang, barang tentu, hanya makan menu-menu sederhana khas desa.
“Sehingga aku prinsipnya ngutang. Jadi kalau aku di Surabaya atau Sidoarjo makan enak, maka pas pulang aku juga harus traktir ibu dan adik makan enak,” beber Erdi.
“Ini kan mau puasa ya. Nah, aku juga selalu pelit ke diri sendiri sih kalau urusan ini. Aku kayaknya tiga lebaran sekali baru beli baju baru buat diri sendiri. Tapi kalau buat ibu dan adik, setiap lebaran pasti aku belikan,” tutupnya dengan senyum mengembang, tapi dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan lelah dan kegetiran.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
