Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Perempuan di Kota Medan dicap centil apabila pakai tas centel. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagi perempuan di Medan, membawa tas cantel seolah haram hukumnya. Aturan tak tertulis ini sudah lama diterapkan. Saking terkenalnya kota ini sebagai “Gotham City” alias Medan dengan kriminalitas tinggi, perempuan yang harus menanggung segala risikonya. Mereka yang menentang justru dicap terlalu centil, alih-alih menyalahkan pelaku tindak kejahatan.

***

Mie Aceh sudah tersaji di atas meja keluarga kami. Asap mengepul. Aromanya menyusup ke hidung sekaligus menggelitik lidah. Saya minum seteguk air sebelum mendaratkan suapan pertama. Baru akan mengunyah dan menerka aneka rempah yang terkandung di dalamnya, sudah ada interupsi dari ibu saya.

”Tasnya tetep dipake.” Matanya melirik ke kanan dan kiri. 

Handphone jangan taro sembarangan,” sambung Kakak saya. 

Setelah 4 tahun merantau ke Jogja, saya jadi lupa dengan kebiasaan yang harus dimiliki setiap perempuan Medan. Bagi kami, tak boleh ada perasaan yang lebih mendominasi selain waspada, terutama saat makan di luar. 

Termasuk bila sedang menikmati sepiring mie aceh lengkap dengan taburan daging dan acar mentimun di atasnya. Nikmat mie aceh masih harus berada di posisi kedua, mengalah dengan rasa waspada sebab takut kehilangan barang berharga. 

Korban copet perempuan dianggap kementelan

Setelah merapikan meja makan, saya pun bergegas memesan ojek online alih-alih naik transportasi umum. Sebab, sudah tidak banyak juga orang yang mau naik angkot, mengingat tingkat kriminalitas di Medan sebagai salah satu kota di Sumatera Utara. 

Sumatera Utara menduduki peringkat kedua dalam peta kejahatan Indonesia di tahun 2025. Laman pusiknas.polri.go.id menyebutkan bahwa Sumatera Utara dan Jawa Timur termasuk wilayah rawan kejahatan sebab dinamika sosial-ekonomi yang kompleks.

Data itu juga disusul dengan laporan Polda Sumut yang menemukan 6.369 kasus kejahatan jalanan. Dilansir dari medanposonline.com, pencopetan termasuk kejahatan yang berada di dalamnya, bersama dengan begal, pencurian motor, hingga pencurian dengan pemberatan.

Tak pelak, driver ojek yang saya pesan pun ikut mengingatkan agar selalu was was. 

“Tasnya dijaga, ya, Kak,” perintahnya saat melihat saya menggunakan tas selempang dengan rantai tipis yang menjadi talinya.

Saya pun manut-manut saja, apalagi setelah mendengar penjelasannya yang mengingatkan soal kriminalitas di Medan.

“Kemaren ada penumpangku cerita, baru dijambret dia. Padahal naek becaknya dia”

“Kok bisa, Bang?” tanya saya penasaran.

“Itulah kementelan (kecentilan). Naik becak dia, mungkin cewek-cewek ni kementelan ya kan, main hp dia nggak hati-hati, tasnya pun cuma ditaruh bahu, dijambret lah, hilang semua barang-barangnya.”

Mendengar nasihat itu, saya pun maklum. Namun, ada perasaan mengganjal di hati setelah mendengar penjelasannya lebih lanjut. Mengapa jika ada perempuan yang mengenakan tas cantel justru dicap kecentilan dan dianggap wajar apabila dirinya dicopet?

Perempuan harus siaga saat jalan-jalan di Kota Medan

Cap perempuan kementelan dari orang sekitar membuat Gita Mayasari (24) pun pikir-pikir lagi saat ingin memakai tas cantel. Alhasil, dia lebih memilih tas dengan model yang dirasa lebih aman agar terhindar dari kriminalitas seperti jambret dan label centil di Kota Medan. 

”Aku kalau area indoor kayak coffee shop si berani aja (pakai tas bahu atau tas cantel), cuma misal duduk di angkringan kayak Kesawan gitu kurang, ya,” tutur Gita.

Gita merasa, model tas shoulder bag (tas bahu) dan tas jinjing sangat amat tidak disarankan. Model tas ini bisa memengaruhi keamanan dan kenyamanan.

”Pertama, ribet kalau diselempangi jadi kurang nyaman. Terus satu lagi, takut dijambret sama yang minta-minta (pengemis) atau pengamen.”

Kata Gita, rasa ribet bisa hadir karena dia dan perempuan lainnya harus terus memegangi tas yang bermodel shoulder bag ataupun tas jinjing, bahkan ketika mereka menyuapkan makanan. Apalagi kalau ada pengemis dan pengamen, rasa waspada seketika meningkat. Keduanya sering dicurigai masyarakat karena sudah banyak pola pencopetan serupa. 

Senada dengan Gita, Nurlayli (23) bisa memahami rasa takut atas penggunaan tas dengan kedua model itu. Baginya, keamanan tetap menjadi pertimbangan utama.

Shoulder bag memang praktis, tetapi tetap perlu digunakan dengan hati-hati. Misal, ni, dengan menyilangkan tas di depan tubuh dan menghindari membawa barang berharga secara mencolok,” ungkap Nurlayli. 

Nurlayli memahami hak dasar bagi setiap orang adalah rasa aman. Walau begitu, hingga kini hal itu belum bisa didapatkan perempuan di Kota Medan. 

“Namun, perempuan seharusnya tetap merasa aman dan bebas menggunakan barang yang mereka sukai tanpa harus terus-menerus merasa takut menjadi korban kejahatan,” tegasnya. 

Tas selempang bukan jawaban dari aksi pencopetan

Sementara bagi Maslini (47), mau pakai tas model apapun, sejatinya tak mengurangi tingkat kriminalitas di Kota Medan. Buktinya, Maslini pernah menggunakan tas selempang agar terhindar dari risiko pencopetan. Namun, dia tetap menjadi sasaran.

Kejadian itu berlangsung saat Maslini hendak membeli pizza bersama suaminya menggunakan sepeda motor. Saat berkendara di area Ringroad, ada sebuah motor yang berusaha menyalip dari kiri. 

“Bingung juga. Kok nyalip, tapi dari kiri?” ungkapnya.

Ketika berhasil menyamai posisi, pria dalam boncengan di motor itu langsung menarik tasnya. Maslini dan suami yang merasa terguncang, fokus pada usaha untuk mempertahankan motor agar tidak jatuh. 

“Gak bisa dikejar pula, cepat kali dia perginya,” tuturnya.

Maslini masih bersyukur karena akibat kejadian itu, ia dan suami tidak terluka. Walau begitu, ia tetap sedih karena tidak jadi membeli pizza. Seluruh barang berharganya yang ada di dalam tas selempang itu pun raib.

Begitu pula dengan uang tabungan yang sudah mereka kumpulkan, yakni sekitar Rp4 juta untuk biaya rencana renovasi rumah. Alhasil, keluarga Maslini pun tak dapat membeli keramik. 

“Saya sudah lapor polisi, tapi cuma untuk urus KTP yang hilang,” kata Maslini.

Saat berada di kantor polisi, Maslini mengaku hanya ditanya-tanya ala kadarnya. Dia pun hanya diminta melaporkan identitas diri untuk mendapat resi pengganti KTP sementara. Sedangkan laporan untuk kronologi dan ciri-ciri pencopetnya? Masilini hanya bisa tertunduk lesu melihat respons pihak berwajib. 

“Ya sudahlah, takut ribet, takut ngeluarin duit lagi,” keluhnya pasrah. 

Tak boleh lengah saat naik angkot di Kota Medan

Kejadian naas tak hanya dialami Maslini, Fadillah Asmara (26) sempat mengalami peristiwa serupa padahal dia sedang membaca buku dan tidak naik motor melainkan angkot. Pada tahun 2019 silam, Fadillah sedang menuju kampus yang berada di daerah Medan Tenggara.

“Saya duduk di dekat pintu angkot. Lalu, di samping kanan saya ada pria (berumur) sekitar 30-an yang dengan tas ransel ditaruh ke bagian depan,” ucapnya.

Fadillah sempat menyadari gerak-gerik aneh dari pria tersebut. Salah satunya, ketika pria itu mendekat ke posisi duduknya. Padahal, saat itu angkot sedang tidak penuh. Namun, Fadillah memilih membuang prasangka itu dan memilih membaca buku untuk persiapan ujian nanti. 

Sial bagi Fadillah, karena baru menyadari gawainya hilang setelah turun dari angkot di daerah Simpang Amplas. Tak hanya itu, Fadillah juga mendapati tasnya sobek di sisi kanan. Sejak kejadian itu, Fadillah menjadi lebih waspada. Ia juga jadi takut menaiki kendaraan umum, terkhusus angkot. 

Kisah lansia melawan pencopet di Kota Medan

Nyatanya, bukan perempuan kementelan yang sering menjadi korban dari pencopetan. Orang lanjut usia pun tak terhindar dari target. Asmurni Harahap (75) misalnya. Dia nyaris menjadi korban pencopetan atau kriminalitas di Medan saat usianya 57 tahun. 

Meski kejadiannya sudah sekitar 18 tahun yang lalu, Murni masih mampu mengingat jelas bagaimana ia dapat menang melawan dua penjambret. 

Saat itu, Murni sedang menaiki becak motor bersama putri dan cucunya. Di Medan, becak bermotor lebih mudah dijumpai daripada becak sepeda. 

Becak bermotor (betor) menempatkan penumpang di sisi kiri. Kabinnya terbuat dari rangka yang tersusun atas besi atau kayu dengan terpal yang menjadi atapnya. Walau posisi ini menyulitkan penjambretan, tetapi masih banyak yang menjadi korban kala menaiki betor. Salah satunya Murni.

Kala itu, Murni tengah mengenakan tas bahu berwarna hitam. Tas itu ia genggam erat dan diletakkan di atas paha. Hingga tiba-tiba, saat berada di area Ringroad, sebuah motor menyalip betor yang dinaikinya.

”Ada orang tiba-tiba nyalip dari kiri Nenek. Tarek-tarek-an kami,” ucap Murni.

Murni diuntungkan dengan posisi yang lebih stabil. Ia bisa memberi kekuatan penuh pada tangannya ketika tas itu coba dirampas.

”Sempat pula Nenek tunjang (tendang) dia pake kaki kiri,” jelasnya.

Tendangan Murni pada pencopet menjadi titik balik. Motor pencopet itu oleng sejenak. Keduanya lantas kabur dengan kecepatan penuh tanpa berhasil membawa apapun.

Hari itu, Murni tidak menang karena satu tendangan. Kemenangan itu adalah hasil belajar puluhan tahun. Murni mengenal pola, bersahabat dengan rasa waspada, serta mempraktikkan reflek yang selama ini sudah mengakar dalam alam bawah sadarnya. 

Satu tendangan memang berhasil menyelamatkannya. Namun, seribu atau bahkan sejuta tendangan tidak akan mampu menyelesaikan akar masalah.

Label mentel yang menghantui korban copet perempuan

Kisah Gita Mayasari, Nurlayli, Maslini, Fadillah Asmara, dan Asmurni Harahap, membuktikan bahwa Medan adalah kota yang sejatinya tak ramah bagi perempuan. Karena tingginya kriminalitas di Medan, perempuan selalu waspada dari apapun dan kapanpun agar tak menjadi korban copet.

Sialnya, perempuan justru mendapat label mentel hingga dituntut menaati aturan-aturan tak tertulis. Sebaliknya, label yang dilekatkan pada tubuh perempuan itu tak pernah disematkan pada laki-laki, dalam kasus apapun. 

Kata mentel pun mengalami penyempitan makna atau peyorasi dalam kasus pencopetan, sehingga posisi perempuan diperlakukan sebagai objek semata bukan individu yang memiliki hak maupun kehendak sendiri. Pada akhirnya, penjara justru diberikan kepada perempuan, bukan pelaku kejahatan.

Seorang ahli linguistik asal Prancis, Antoine Meillet berujar bahwa sebuah kata bakal mudah sekali goyah maknanya, sebab makna dalam kata lebih sulit ditentukan batasnya. Termasuk kata mentel ini. 

Mentel yang mulanya berfungsi untuk mendeskripsikan gaya atau sikap perempuan yang dianggap berlebihan, kini beralih fungsi menjadi alasan untuk menyalahkan korban dengan sebab yang sebenarnya abstrak dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. 

Pemberian label mentel menempatkan perempuan sebagai korban berlapis. Kalau dia dicopet dalam keadaan memegang handphone atau menggunakan tas yang dianggap mengundang, korban lah yang justru disalahkan.

Perempuan di Kota Medan berhak melawan

Nawal El Saadawi, seorang penulis maupun aktivis hak perempuan, menegaskan perempuan sejatinya dapat melawan, apabila mereka sudah mengenali akar budaya dan permasalahan yang mereka hadapi.

Nawal mencontohkan kasus di daerah tempat tinggalnya. Menurutnya, perempuan Arab tidak akan mendapat kebebasan bila yang menjadi solusi adalah legalnya seks bebas. Hal ini karena persoalan perempuan Arab dan feminisme di barat memiliki konteks permasalahan dan budaya yang berbeda.

Begitu pula budaya patriarki di Medan yang masih mengakar kuat. Pencopetan mestinya adalah tindak kriminal yang tak wajar, dan perempuan tak perlu merasa bersalah jika ingin menggunakan tas cantel, sebab rasa aman sejatinya adalah hak semua orang.

Oleh karena itu, alih-alih menyematkan kata mantel kepada perempuan korban pencopetan, kasus kriminalitas di Medan lah yang seharusnya dibasmi.

Penulis: Feninda Rahmadiah

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version