Setelah tinggal dua tahun, seorang pengendara motor plat L (Surabaya) bertaubat atas caranya berkendara di jalanan Jogja. Ia merasa berdosa dengan warga lokal: para pengendara motor plat AB.
***
Jalanan Jogja di pagi hari—di jam-jam berangkat kerja—memang ramai kendaraan, terutama motor. Ada yang tengah berangkat kerja, ada pula orang tua yang mengantar anak sekolah.
Meski ramai dan tampak sesak, tapi ada satu perbedaan kentara dari jalanan Surabaya yang bertahun-tahun Amron (24) tinggali: para pengendara plat AB Jogja tampak grasak-grusuk. Mereka memacu gas seolah sak madyane. Seperti tidak terlihat keterburu-buruan bakal terlambat. Setidaknya begitulah penilaian Amron, berdasarkan pengamatan subjektifnya.
Setelah dua tahun pindah kerja dari Surabaya ke Jogja, Amron pun kini mulai mengikuti ritme semacam itu. Jauh berbeda dengan ritme paginya di Surabaya yang tergesa-gesa, yang kerap memaksanya harus serobot kanan-kiri.
“Setelah dua tahun di Jogja, sebagai pengendara motor plat L aku sekarang taubat. Aku merasa berdosa dengan mereka para pengendara plat B,” ujar Amron saat kami bersua di sebuah angkringan pagi ini, Rabu (23/9/2026), di tengah hilir-mudik pemotor.
Pengendara motor plat L jadi anomali di jalanan Jogja
Di tahun pertama kerja di Jogja, Amron masih membawa habit yang sudah menjadi kelaziman di Surabaya: membunyikan klakson berulang di lampu apill.
Di Surabaya, ketika lampu apill baru menunjukkan lampu kuning saja, para pengendara plat L—baik mobil maupun motor—langsung membunyikan klakson secara bersahut-sahutan. Terutama mereka yang berada di barisan tengah ke belakang. Memberi isyarat agar para pengendara di depan lekas memacu gas.
“Kalau di Jogja, plat AB ini nunggu kan sampai lampu nyala hijau. Tapi waktu awal ke sini, aku kan masih kebawa nggak sabar, udah kuning kok nggak pada jalan, ya sudah kubunyikan klakson berulang-ulang,” ungkap Amron.
Para pengendara di depan Amron lantas menyibak jalan dengan tergopoh. Sementara beberapa yang lain menatap Amron dengan tatapan aneh: seperti marah, tapi tidak meluapkan amarah. Padahal kalau di Surabaya, persinggungan kecil saja bisa memicu adu mulut.
Kebiasaan klakson saat masih lampu kuning itu sempat terbawa beberapa waktu. Namun, lambat-laun Amron sadar kalau ia adalah anomali di jalanan Jogja.
Pengendara motor plat L taubat usai merasa berdosa dengan plat AB
Kebiasaan lain yang Amron bawa dari Surabaya adalah: kegemaran menerobos lampu merah, serobot kiri-kanan, dan melanggar marka jalan.
Semasa di Surabaya, lampu apill berwarna merah pun tidak lantas membuat Amron dan beberapa pengendara motor plat L yang ia temui berhenti total. Patokan mereka berhenti adalah ketika pengendara dari arah lain mulai melintas. Sepanjang masih ancang-ancang, maka artinya masih bisa menerobos.
“Nggak jarang terjadi laka di perempatan, karena pas menerobos ternyata sudah ada kendaraan yang tancap gas dari arah lain. Paling sering ya langsung pisuh-pisuhan,” ujar Amron.
Kalau sudah nyaris menerobos tapi keduluan pengendara lain, mentok-mentok ngerem mendadak dan menunggu di depan (melebihi) marka jalan.
Nah, beberapa kali Amron melakukan kebiasaan tersebut di jalanan Jogja. Tidak ayak ia merasa menjadi anomali. Sebab, saat ia melebihi marka jalan, ternyata tidak ada satu-dua pengendara motor plat AB yang melakukan hal serupa. Semua tertib berada di belakang marka, menunggu lampu hijau menyala.
Alhasil, seringnya kejadian seperti itu membuat Amron merasa kikuk dan malu sendiri. Hingga pelan-pelan membiasakan diri berkendara sebagaimana wajarnya orang-orang plat AB. Di titik itu, ia merasa memang harus taubat.
Sebab jelas-jelas bertentangan dengan UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mewajibkan setiap pengemudi kendaraan bermotor untuk mematuhi rambu, marka jalan, serta Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL). Ketentuan itu tercantum dalam Pasal 106 ayat (4).
Puncak taubat di jalur lambat
Puncak taubat Amron karena semakin merasa berdosa—sebagai anomali jalanan Jogja—karena seringnya ia serobot sana-sini, terutama di jalur lambat ring road.
Pada mulanya ia merasa hal tersebut sebagai hal biasa. Baru kemudian ia tahu kalau namanya jalur lambat, yang bukan jalur untuk kebut-kebutan hingga serobot-serobotan. Justru harus menjadi jalur penuh kehati-hatian.
“Aku dulu kalau lewat jalur lambat kan sering kesel, ya sambil nglakson-nglakson. Aku gemes melihat, ini pengendara plat AB di depanku kok pelan bener jalannya, mau disalip juga nggak bisa karena sempit kan, akhirnya klakson aja,” beber Amron.
Ternyata justru Amron lah yang keliru. Pasalnya, jalur lambat di ring road Jogja memang bukan sekadar jalur alternatif. Dinas Perhubungan DIY menjelaskan bahwa sejak awal pembangunan jalan lingkar Yogyakarta, ruas tersebut memang menerapkan pemisahan antara jalur cepat dan jalur lambat menggunakan divider.
Untuk kendaraan roda dua, jalur yang diperbolehkan adalah jalur lambat. Menurut Dishub DIY, pemisahan itu diterapkan untuk memberikan jaminan keselamatan yang lebih tinggi bagi pengguna kendaraan roda dua.
Maka ia merasa berdoa betul dengan para pengendara plat AB. Ia benar-benar bertaubat, lantas benar-benar menghilangkan kebiasaan berkendara ala pengendara motor plat L yang ia bawa dari Surabaya. Tentu meski belum sepenuhnya.
Belajar ketabahan dari antrean SPBU
Dua tahun berkendara di jalanan Jogja tidak hanya membuat Amron bertaubat karena telah menjadi anomali jalanan. Dari pengendara motor plat AB ia pun belajar perihal ketabahan dalam urusan antre di SPBU.
Jangankan saat harga BBM non-subsidi naik, sebelum naik saja ada beberapa titik SPBU di Sleman, Jogja, yang kerap antre mengular. Situasi itu kerap membuat Amron tidak sabar.
“Rumus kalau di Surabaya, orang kalau habis isi BBM, belum dapat kembalian, belum sempat nutup tangki motor, itu sudah harus langsung mendorong motor ke luar barisan. Kalau nggak, yang antre di belakangnya bisa nesu-nesu,” kata Amron.
Namun, tidak begitu dengan pemandangan di beberapa SPBU tempatnya kerap mengisi BBM di Sleman. Para pengendara motor plat AB ini bisa sangat tabah menunggu orang di depannya benar-benar menuntaskan proses transaksi isi bensin.
Setelah tangki motor terisi, si pengendara masih bisa leluasa menutup tangki-menutup jok, menunggu kembalian, lalu masih harus menekan tombol starter sebelum akhirnya meninggalkan barisan antrean. Orang yang ada di belakangnya tidak ngedumel dan manggopohi. Jadi tidak ada adegan tergopoh-gopoh di sana.
“Selain bikin aku merasa berdoa dan taubat, orang-orang plat AB ini ngasih aku pelajaran soal tabah dan alon-alon asal kelakon. Bagian terakhir itulah yang susah sekali kuterapkan ke diriku sendiri, hahaha,” tutup Amron.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Cara Berkendara Plat AB di Jogja bikin Plat L Surabaya “Malu” dan Introspeksi, Dirugikan tapi Malah Kasih Wejangan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan