ADVERTISEMENT

Rela Tinggalkan Istri di Jogja untuk Menjadi ASN di Bali, Namun Nelangsa Karena Kotanya Ruwet dan Lingkungannya Toksik

menjadi ASN di Bali

Menjadi ASN di Bali tidak enak dan menderita. Banyak yang mengatakan bahwa menjadi ASN itu menyenangkan, padahal harus meninggalkan istri di Jogja dan dipaksa bertahan di kota yang ruwet.

***

Gani (27) *bukan nama sebenarnya, lima tahun menjadi ASN di Denpasar, dalam bayangan banyak orang begitu beruntungnya dia. Bekerja sebagai ASN kota pariwisata seterkenal Bali. Namun justru Gani menjadi memahami sisi lain Bali berupa kemacetan, biaya hidup yang mahal, lingkungan tempat tinggal yang tidak nyaman, sampai kerinduan kepada istri yang harus ditinggalkan di Jogja. Bagi Gani, menjadi ASN di Bali tidak otomatis membuat hidup terasa lebih baik.

Lima tahun menjadi ASN di Bali, macet menjadi makanan sehari-hari

Salah satu hal yang paling membuat Gani jengah adalah mobilitas di Denpasar. Jalanan yang padat membuat perjalanan sehari-hari terasa melelahkan. Baginya, masalah bukan sekadar lama perjalanan. Kemacetan membuat waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat justru habis di jalan.

“Kalau di Jogja, mau ke mana-mana rasanya lebih gampang. Di sini kadang perjalanan yang harusnya sebentar bisa jadi lama karena macet,” begitu kira-kira keluhan Gani ketika dihubungi Mojok, Senin (7/09/2026).

Persoalan berikutnya adalah tempat tinggal. Ia harus menyisihkan penghasilan untuk membayar kos dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Gani merasa nominal penghasilan di Bali memang terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan daerah asalnya. Namun, angka tersebut tidak serta-merta membuat hidup lebih longgar.

Dilansir dari BPS Bali, UMK Kota Denpasar 2026 ditetapkan Rp3.499.878,78 per bulan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan UMK Kota Yogyakarta yang berada di Rp2.827.593. Tetapi angka upah minimum tentu bukan ukuran langsung gaji ASN maupun daya beli setiap orang.

Kos mahal, lingkungan tempat tinggal juga bikin tidak betah

Bagi Gani, persoalan Bali tidak berhenti pada harga kebutuhan. Lingkungan tempat ia tinggal juga membuatnya tidak nyaman. Ia tinggal di lingkungan yang banyak dihuni orang yang gemar berjudi dan mabuk. Kondisi semacam itu membuat tempat kos yang seharusnya menjadi ruang untuk beristirahat justru tidak nyaman. Gani tidak mengatakan semua lingkungan di Bali seperti itu. Namun, lima tahun tinggal di Denpasar membuatnya punya pengalaman sendiri tentang bagaimana rasanya hidup jauh dari rumah.

Ada pula persoalan yang bagi Gani cukup sederhana, tetapi terasa setiap hari: makanan halal. Sebagai seorang muslim yang tinggal di daerah dengan komunitas muslim lebih sedikit, mencari makanan halal membutuhkan usaha tambahan. Ketika menemukan makanan yang dianggap cocok dan enak, harganya kadang tidak masuk akal.

Suasana beribadah pun terasa berbeda. Ia tidak sesering ketika berada di Jogja mendengar suara azan dari lingkungan sekitar. Bukan soal tidak bisa beribadah. Bagi Gani, persoalannya lebih kepada rasa asing yang muncul karena berada jauh dari lingkungan yang selama ini familiar.

Gaji menjadi ASN di Bali memang lebih besar, namun tidak menjamin hidup lebih baik

Di sinilah perbandingan Bali dan Jogja menjadi menarik bagi Gani. Secara nominal, penghasilan yang diterimanya sebagai ASN di Bali mungkin tidak buruk. Bahkan jika dibandingkan dengan standar upah minimum, Bali memiliki angka yang lebih tinggi.

UMP Bali 2026 ditetapkan sebesar Rp3.207.459, sedangkan Denpasar memiliki UMK Rp3.499.878,78. Di DIY, UMP 2026 sebesar Rp2.417.495 dan UMK Kota Yogyakarta Rp2.827.593. Namun, Gani justru merasa uang bukan satu-satunya ukuran kenyamanan.

Menurutnya, bekerja di Jogja dengan penghasilan yang mungkin tidak sebesar di Bali tetap terasa lebih aman karena dekat dengan rumah, keluarga, dan lingkungan yang sudah dikenalnya. Ada perasaan tenang ketika selesai bekerja lalu bisa pulang tanpa harus memikirkan perjalanan panjang, biaya hidup di perantauan, atau harus mencari makanan yang sesuai.

Menjadi ASN sekaligus menjalani long distance marriage

Masalah terbesar Gani justru berada jauh dari tempat kerjanya. Ia meninggalkan istrinya di Jogja ketika harus bekerja di Bali. Dua tahun menjalani Long Distance Marriage membuat kehidupan sebagai ASN terasa semakin berat. Setiap hari kerja di Bali berarti ada jarak yang harus dijalani bersama istrinya.

Mereka memang tetap bisa berkomunikasi melalui telepon dan pesan singkat. Namun, komunikasi digital tidak sepenuhnya menggantikan keberadaan pasangan di rumah. Ada hal-hal sederhana yang hilang: pulang kerja dan bertemu istri, makan bersama, atau sekadar berbincang tanpa harus menunggu sambungan telepon. Karena itu, keinginan Gani untuk kembali ke Jawa bukan sekadar perkara tidak betah dengan Bali, karena ada keluarga yang menunggu.

Ingin pulang, tapi itu tidak semudah pindah kos

Setelah lima tahun bekerja di Bali, Gani mengaku pernah terpikir untuk meminta penempatan atau mutasi ke Jawa, termasuk Jogja. Masalahnya, menjadi ASN membuat keputusan tersebut tidak bisa dilakukan sesederhana mencari pekerjaan baru. Ada prosedur, kebutuhan organisasi, persetujuan, dan berbagai tahapan administratif yang harus dilalui. Keinginan untuk pulang pun akhirnya tidak otomatis berarti bisa langsung pulang.

Inilah ironi yang dirasakan Gani. Di satu sisi, Bali memberinya pekerjaan sebagai ASN dan penghasilan yang membuatnya bertahan selama lima tahun. Di sisi lain, tempat yang sama justru membuatnya ingin pergi.

“Pengen ‘sih pulang, tapi prosesnya ribet, alur birokrasinya juga rumit,” menjadi inti kegelisahannya.

Gani tidak membenci Bali. Ia hanya merasa bahwa setelah lima tahun tinggal di sana, Bali bukan tempat yang ingin ia jadikan rumah. Bagi sebagian orang, menjadi ASN di Bali mungkin merupakan keberuntungan. Bagi Gani, keberuntungan itu datang bersama harga yang harus dibayar: hidup jauh dari istri, menghadapi kemacetan, membayar biaya hidup di perantauan, beradaptasi dengan lingkungan yang tidak selalu cocok, dan terus menunggu kesempatan untuk kembali. Kadang-kadang, pekerjaan yang terlihat ideal dari luar memang tidak selalu terasa ideal bagi orang yang menjalaninya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bali Utara adalah Tempat Paling Ideal untuk Slow Living di Bali, Apa Itu Kuta? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.