ADVERTISEMENT

Buka Lapak Puisi Sebagai Ide Bisnis dan Obat Pelipur Hati Kaum Gen Z

Modal Lapak Puisi Bisa Jadi Ide Bisnis dan Obat Hati Kaum Gen Z. MOJOK.CO

Dalam tekanan dunia yang cukup keras ini, ada banyak cara gen z memutar otak untuk mendapatkan cuan tambahan sekaligus memperluas jaringan dan rekanan. Salah satu yang dilakukan adalah membuka lapak puisi. Mereka yang datang ke lapak puisi cukup duduk, bercerita, lalu membiarkan seseorang mengubah isi kepala mereka menjadi puisi.

***

Itulah yang dilakukan Farjihan Putri (25-an), yang akrab disapa Jihan. Ia membuka lapak puisi dengan mesin tik di ruang terbuka, salah satunya di jogging track Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Pengunjung cukup menceritakan sesuatu yang ingin mereka tuangkan. Jihan kemudian merangkai cerita itu menjadi puisi yang lebih personal.

Dalam percakapan melalui Threads pada Kamis (8/10/2026), Jihan mengaku tidak pernah merencanakan kegiatan tersebut sebagai bisnis. Ia justru memulainya karena ingin kembali menulis puisi dan mengurangi waktu di depan laptop.

Berawal dari jenuh menatap laptop, berakhir membuka lapak puisi

Selama sekitar tiga tahun, Jihan bekerja secara daring. Rutinitas itu membuatnya jarang berinteraksi langsung dengan orang lain. Padahal, ia sudah menulis puisi sejak sekolah dasar dan hampir setiap hari menulis ketika kuliah. Ia bahkan pernah mengirimkan puisinya ke sejumlah media, meski tidak semuanya lolos kurasi.

“Selama kerja pun saya jadi kesulitan nulis puisi lagi, padahal sejak SD sudah mulai nulis puisi,” kata Jihan.

Suatu hari, ia menemukan konten penyair yang menulis puisi menggunakan mesin tik di taman. Ide itu membuatnya ingin membeli mesin tik sendiri. Ia ingin kembali menulis tanpa terus menatap layar komputer.

Awalnya, Jihan tidak berniat membuka lapak. Ia justru menyiapkan puisi gratis dalam bentuk surat beramplop untuk dibagikan di acara konser band Korea di Jakarta. Setelah itu, ia membawa mesin tik ke Bukit Senja Diponegoro Undip untuk menulis puisi di tengah suasana alam. Ia belum membuka layanan untuk umum. Namun, orang-orang yang melihatnya mulai penasaran.

Jihan kemudian mencoba kembali pada pekan berikutnya, kali ini di jogging track Undip yang menurutnya lebih nyaman. Dari situ, kegiatan menulis puisi perlahan berubah menjadi lapak yang dapat dikunjungi orang lain.

Lapak Puisi Jihan (doc. Jihan)
Lapak Puisi Jihan (doc. Jihan)

Puisi bukan barang baru, tetapi cara menjualnya menarik

Jihan tidak mengklaim dirinya sebagai pelopor lapak puisi bermesin tik di Indonesia. Sebelum ia memulai, sudah ada sejumlah inisiatif serupa, seperti @puisionthespot di Jakarta, @rikues_puisi di Manokwari, dan @piknikpuisi di Semarang.

“Sampai kepikiran ide tersebut itu tidak saya rencanakan dari awal gitu kak,” ujarnya.

Yang menarik dari lapak Jihan bukan semata-mata mesin tik atau puisi yang ia hasilkan. Ia menawarkan pengalaman menulis puisi berdasarkan cerita pribadi pengunjung, secara langsung, di ruang terbuka.

Pengunjung tidak harus datang membawa gagasan matang. Jihan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk membantu mereka menemukan hal yang ingin diceritakan. Ada pula pengunjung yang langsung mengungkapkan perasaannya tanpa perlu banyak dipancing. Dari cerita itulah Jihan mulai menulis. Ia tidak sekadar menyusun kata-kata indah, tetapi mencoba menangkap pengalaman personal yang ingin disampaikan pengunjung melalui puisi.

Gen Z punya banyak tempat curhat, tetapi belum tentu merasa aman

Kehidupan Gen Z hari ini lekat dengan komunikasi digital. Mereka bisa mengunggah keresahan di media sosial, mengirim pesan kepada teman, atau menyimpan perasaan dalam catatan pribadi. Namun, kemudahan berkomunikasi tidak selalu membuat seseorang merasa nyaman untuk bercerita.

Survei Jakpat terhadap 1.158 responden berusia 17–28 tahun yang terbit pada Februari 2026 mencatat bahwa kekhawatiran mengenai masa depan menjadi pemicu persoalan kesehatan mental yang paling banyak disebut responden Gen Z, yakni 60 persen. Tekanan finansial menyusul dengan 57 persen, sedangkan ekspektasi sosial mencapai 42 persen.

Temuan itu tidak berarti semua Gen Z membutuhkan puisi. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang masa depan, uang, dan tuntutan sosial memang menjadi bagian dari persoalan yang mereka hadapi.

Jihan menemukan persoalan lain melalui pengalaman di lapaknya. Ia pernah bertemu pengunjung yang mengaku hanya berani menceritakan keresahannya di sana karena takut mendapat penilaian negatif dari orang yang dikenalnya.

“Ada juga yang bilang, dia cuma berani cerita di Lapak Puisi soal keresahannya, karena takut orang yang dia kenal kalo diceritain bakal nge-judge,” tutur Jihan.

Bagi pengunjung itu, orang asing justru memberi jarak yang membuatnya lebih leluasa bercerita. Jihan tidak perlu mengetahui seluruh riwayat hidup mereka untuk mulai menulis. Ia cukup mendengarkan cerita yang ingin mereka tuangkan.

Lapak Puisi Jihan (doc. Jihan dari Threads)
Lapak Puisi Jihan (doc. Jihan dari Threads)

Ada yang menangis karena rindu orang yang sudah meninggal

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Jihan terjadi ketika seorang pengunjung menangis saat menceritakan kerinduannya kepada seseorang yang sudah meninggal dunia. Mereka sebelumnya tidak saling mengenal. Bahkan, hari itu menjadi pertemuan pertama mereka. Namun, cerita tentang kehilangan membuat suasana lapak berubah menjadi ruang yang cukup intim bagi seseorang untuk mengungkapkan perasaan yang lama dipendam.

“Ada kak, yg menarik itu ada yg sampe nangis dia menceritakan perasaannya yg udah lama dipendam karena merindukan seseorang yg sudah wafat, padahal kami sebelumnya tidak kenal bahkan hari itu baru bertemu,” kata Jihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan tentang keterhubungan sosial yang terbit pada 2025 menyebut sekitar satu dari lima remaja dan dewasa muda di dunia mengalami kesepian. WHO juga mengingatkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat berdampak serius terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Pengalaman pengunjung Jihan tentu tidak cukup untuk mewakili seluruh Gen Z. Namun, kisah itu memperlihatkan bahwa seseorang terkadang membutuhkan ruang untuk mengungkapkan perasaan tanpa harus menjelaskan dirinya kepada orang-orang terdekat.

Puisi menjadi medium yang dipilih Jihan untuk mengolah cerita tersebut. Perasaan yang semula berantakan memperoleh bentuk melalui kata-kata. Setidaknya, pengunjung bisa pulang membawa sesuatu yang merekam pengalaman mereka.

Membuat puisi tanpa berpura-pura menjadi psikolog

Jihan menerapkan sistem pay as you wish atau membayar sesuai keinginan pengunjung yang datang langsung ke lapaknya. Dengan cara ini, puisi tidak memiliki tarif tetap yang harus dipenuhi setiap orang.

Skema tersebut membuat lapak puisi sekaligus menjadi eksperimen usaha kreatif. Jihan menawarkan keterampilan menulis yang selama ini ia tekuni, tetapi tidak menjadikan setiap cerita sebagai komoditas yang harus dihargai dengan nominal tertentu.

Meski pengunjung boleh bercerita tentang hal-hal yang sensitif, Jihan berusaha menjaga batas perannya. Ia tidak ingin orang menganggap lapaknya sebagai tempat untuk mendapatkan penanganan psikologis profesional.

“Saya di Lapak Puisi berperan sebagai penulis yg mengolah cerita menjadi puisi, bukan pihak yg memberikan layanan psikologis,” tegasnya.

Jihan memilih lebih banyak mendengarkan dan merespons seperlunya. Baginya, batas antara karya, ruang bercerita, dan layanan profesional harus tetap jelas.

Pada akhirnya, lapak puisi Jihan bukan jawaban atas seluruh persoalan Gen Z. Puisi juga tidak otomatis menyelesaikan masalah pekerjaan, tekanan finansial, atau kehilangan orang terkasih. Namun, di tengah kebiasaan membagikan kehidupan melalui layar, lapak kecil bermesin tik itu menawarkan pengalaman yang berbeda: seseorang duduk, menceritakan perasaannya kepada orang asing, lalu melihat ceritanya tumbuh menjadi puisi.

Jihan memulai semuanya karena jenuh menatap laptop dan ingin kembali menulis. Ia tidak pernah merencanakan bisnis itu sejak awal. Kini, ia justru menemukan bahwa puisi yang sempat sulit ia tulis kembali bisa menjadi jalan bagi orang lain untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini mereka simpan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Upaya Mahasiswa UNY Mengatasi Luka Batin dan Amarah pada Hidup Lewat Puisi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.