Pada mulanya, tawaran kerja Work from Home (WHF) atau Work from Anywhere (WFA) tampak menggiurkan. Bagaimana tidak. Tidak ada kewajiban ke kantor. Bisa kerja dari/di mana saja. Fleksibilitas seperti itu tentu menjadi dambaan banyak orang—bisa slow living.
Namun, tidak semua kantor dengan sistem WFH dan WFA benar-benar sesuai sesuai yang diharapkan. Ada juga yang rasanya malah seperti jebakan. Begitu yang dirasakan Nano (27) setelah bertahun-tahun kerja di sebuah kantor content creator di yang beralamat kantor di Jakarta Barat.
Kerja WFH – WFA, awalnya tampak enak karena fleksibel
Nano bekerja di kantor dengan produk utama content writing tersebut sejak 2021 melalui lowongan kerja yang dikirim seorang teman yang sudah lebih dulu bekerja di sana.
Bungah nian hati Nano karena begitu mudah diterima. Mengingat, di tahun-tahun tersebut—di tengah badai pandemi Covid-19—mencari kerja memang sedang susah-susahnya.
Terlebih, kerja di kantor tersebut tidak ada kewajiban ngantor sama sekali. Malah memang harus work from home atau work from anywhere.
“Nggak apa-apa modal WiFi di rumah. Dan menurutku, di tengah pandemi, kerja WFH atau WFA justru lebih ideal. Pikirku saat itu,” tutur Nano, Kamis (26/3/2026). Dengan sistem kerja seperti itu, Nanon justru punya fleksibilitas tinggi. Malah terkesan nyantai di rumah.
Nano mengisi posisi sebagai editor untuk konten-konten artikel SEO yang masuk. Gajinya Rp2 juta. Memang segitulah standar gaji di kantor tersebut untuk posisinya. Nanti seiring waktu konon akan naik.
Meski kerja WFH – WFA, tapi presensi, jam kerja, dan beban kerja ketat
Meski dalam skema work from home dan work from anywhere, kantor yang beralamat di Jakarta Barat itu memberlakukan sistem kerja ketat. Presensi dibuka dari jam 6-8 pagi. Jam kerja berlangsung dalam 8 jam perhari. Ada beban kerja yang sudah dipatok untuk karyawan penuhi. Dan ada pembagian shift pagi dan malam.
Sekali lagi, awalnya itu tidak menjadi persoalan bagi Nano. Pemuda asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu menikmati tahun pertamanya sebagai pekerja WFH – WFA.
Kalau dapat shift pagi, ia punya waktu lebih leluasa di sore-malam hari untuk main-main. Kalau dapat shift malam, ya prei dulu mainnya. Habis kerja langsung maraton nonton film hingga Subuh. Pokoknya terasa sangat slow living.
Setelah bertahun-tahun, sadar kalau itu jebakan
Nano kerja dengan sistem work from home atau work from anywhere di kantor beralamat Jakarta Barat itu hingga pertengahan 2024. Setelah bertahun-tahun itu, ia akhirnya merasa kalau kerja WFH – WFA yang awalnya tampak enak itu justru menjebak.
Di tahun pertama memang terasa biasa saja. Namun, di tahun-tahun setelahnya, banyak situasi tidak menyenangkan bagi Nano.
“Misalnya, karena work from home atau work from anywhere, itu jadi alasan nggak ada THR untuk karyawan. Gaji pun hanya naik sedikit. Aku sampai 2024 cuma terima gaji Rp2,3 juta total. Nggak ada BPJS Ketenagakerjaan,” kata Nano.
Alasannya, lanjut Nano, ya karena sistem kerja work from home atau work from anywhere (alias dari rumah masing-masing). Tidak ada beban uang bensin untuk pergi-pulang kantor atau sewa kos.
Masalahnya, beban kerja pun ikut ditambah. Misalnya, dalam kasus Nano, selain mengedit tulisan, ia juga harus menggarap artikel sendiri karena beban kerja yang ditambah. Sama sekali tidak slow living.
Alhasil, untuk memenuhi beban kerja tersebut, Nano sering kali harus overtime. Secara tertulis jam kerjanya memang 8 jam. Tapi secara praktik, ia bisa bekerja lebih dari itu. Alasan dari penambahan beban kerja tersebut lagi-lagi sama: toh karyawan bisa mengerjakan di rumah masing-masing. Sehingga harusnya tidak ada persoalan.
“Karena kalau di rumah sendiri, asumsinya tetap bisa sambil makan dengan leluasa, jajan leluasa, dan sesekali disambi rebahan sambil nonton tv juga nggak masalah,” jelas Nano.
Iri ke mereka yang bahkan bisa kerja WFC tanpa mikir duit
Tak pelak jika lama-lama Nano merasa kerja work from home atau work from anywhere dengan kantor yang beralamat di Jakarta Barat itu lebih terasa seperti jebakan. Gaji mentok. Sementara kebutuhan hidup dirasa semakin bertambah.
“Ada masanya aku iri, karena ternyata ada banyak orang di luar sana yang bisa kerja WFH atau WFA tapi dengan gaji sangat layak. Kalau kantor di Jakarta sementara karyawan ada di daerah, gajinya tetap standar Jakarta,” kata Nano. Itulah gambaran slow living sesungguhnya—bagi Nano.
Apalagi, Nano melihat ada karyawan yang kerja WFH atau WFA yang tidak hanya terkungkung di rumah. Tapi bisa juga work from cafe (WFC).
Semakin ke sini, Nano tentu mikir-mikir untuk WFC. Bahkan ia tidak pernah WFC. Sebab, ia pasti tidak sampai hati memangkas uang gaji yang mentok itu untuk WFC. Sementara ia masih harus membagi untuk membantu kebutuhan rumah orang tua seperti belanja bahan pokok, bayar listrik, dan bayar WiFi. Belum kebutuhan lain seperti bayar pajak tahunan motor.
Skill dan karier mentok
Selain itu, Nano merasa skill dan keriernya juga mentok.
Sebab, kerja WFH atau WFA membuat Nano hanya terkungkung di rumah. Tidak berinteraksi dengan orang lain. Tidak bisa merasakan ekosistem dunia kerja yang “sebenarnya”.
Alhasil, tidak ada trigger bagi Nano untuk menggali potensi lebih dalam. Atau merambah potensi lain. “Skill-ku akhirnya mentok gitu-gitu aja. Dan itu bahaya sekali,” ucap Nano.
Selama bertahun-tahun kerja di rumah (karena merasa terjebak di kantor yang salah), membuat Nano akhirnya merasa takut menjadi manusia yang gagap dan tidak relevan misalnya suatu saat kerja di ekosistem kerja yang sesungguhnya.
“Kegagapan itu memang benar-benar kurasakan. Aku keluar 2024, terus kerja yang ngantor beneran. Gagap dengan habit kerja kantoran. Terutama soal komunikasi dan kolaborasi dalam tim,” kata Nano.
“Tapi benar-benar kerasa bedanya. Di kantor, dengan iklim yang kompetitif, aku terpancing untuk memperkaya potensi diri. Lama-lama kerasa kalau skill-ku nambah, selain gaji an karier yang nggak mentok nggak ke mana-mana seperti sebelumnya,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
