Sebagian orang mengatakan menaiki Commuter Line di Jakarta adalah pertarungan. KRL di Jakarta konon hanya dapat ditumpangi oleh orang-orang tangguh, tetapi kenyataannya kelakuan penumpang di sana lebih manusiawi daripada penumpang KRL Jogja yang tak sadar diri.
***
Minggu (25/4/2026) lalu, saya menaiki KRL Jogja setelah dua tahun lamanya dari terakhir kali menjadi penumpang Commuter Line tersebut.
Mulanya, tidak terlalu ada masalah saat menaiki rute Stasiun Jogja menuju Stasiun Klaten. Namun, masalah tiba tanpa diduga dalam perjalanan kembali ke Jogja.
Di sana, sebagai seseorang yang sempat tinggal selama satu tahun di Jakarta, saya menemukan kenyataan bahwa penumpang KRL Jakarta yang selama ini dianggap “buruk” ternyata jauh lebih baik dari penumpang KRL Jogja. Akibatnya saya tak tahan, lalu memilih turun lebih awal di Stasiun Maguwo, menyerah bertahan dengan ulah penumpang di kereta ini hingga mencapai tujuan asal.
Penumpang KRL Jakarta lebih tahu diri soal adab menaiki transportasi umum
Pengalaman serupa juga dirasakan Amira (25). Berkaca dari pengalamannya menaiki KRL selama lebih dari satu tahun bekerja di Jakarta, Amira mengatakan penumpang KRL Jakarta lebih baik berdasarkan kesadarannya.
Menurut dia, mereka lebih tahu bagaimana aturan tak tertulis di KRL berlaku. Misal, aturan mengenai alur keluar masuk penumpang yang mengharuskan penumpang dengan tujuan yang terbilang jauh untuk masuk ke bagian dalam kereta, sedangkan penumpang dengan tujuan dekat mengambil posisi siaga di dekat pintu.
Di Jogja, perempuan ini tidak menemukan kesadaran untuk mengikuti aturan itu.
Bahkan, orang-orang yang seharusnya tidak turun lebih awal, malah terhalang untuk masuk ke bagian dalam gerbong. Mereka juga harus mengorbankan diri naik-turun setiap pemberhentian stasiun karena keegoisan penumpang lainnya.
“Selama di KRL Jakarta aku sadar orang-orangnya itu sudah aware soal flow keluar masuk stasiun. Misal, kalau di Jakarta itu pasti mendahulukan yang turun dulu pasti mereka udah menyisihkan dulu sendiri, kalau di Jogja itu nggak, bahkan orang yang nempel pintu harus turun dulu,” kata Amira kepada Mojok, Senin (4/5/2026).
“Terus di Jakarta itu kalau stasiun mau turun udah dekat mereka akan dekat pintu gak masuk ke dalem, kalau jauh masuk ke dalem biar gak numpuk pintu. kalau di Jogja mau numpuk pintu semua,” kata dia menambahkan.
Penumpang KRL Jogja isinya nirempati
Kegeraman Amira bertambah ketika bercerita bahwa penumpang KRL Jogja tidak memiliki empati terhadap penumpang lainnya. Tulisan yang ditempel di kereta untuk mengingatkan penumpang prioritas tidak diacuhkan, malahan mereka berpura-pura tidak tahu demi mempertahankan tempat duduk.
Salah satu pengalaman saat menaiki KRL dari Stasiun Maguwo ke Stasiun Klaten yang menimpa Amira menunjukkan, penumpang dalam Commuter Line ini perlu petugas untuk memperingatkan mereka.
Seolah-olah kesadaran diri sendiri sulit dibentuk, meskipun berhadapan dengan ibu yang tidak hanya membawa dirinya, tetapi juga menaiki kereta sambil menggendong bayi.
“Aku juga liat ibu-ibu bawa bayi, tapi mbak yang masih muda itu nggak mau nawarin tempat duduknya. Harus petugas dulu yang ingetin untuk geser. Kalau di Jakarta jarang kayak gitu,” kata dia.
Wanda (24) menyetujui hal ini. Ia bilang, pernah menyaksikan langsung anak muda yang tidak mau mengalah dengan orang tua perihal kursi di kereta.
Padahal, mengingat usia dan tenaga mereka yang masih muda, seharusnya anak muda ini memutuskan dengan kesadaran penuh untuk langsung menyerahkan kursinya kepada mereka yang telah lanjut usia (lansia).
“Anak mudanya nggak mau kalah sama orang tua, kurang ajar,” kata Wanda.
Dibanding di Jakarta, penumpang KRL Jogja itu bertingkah nggak tahu tempat umum
Di transportasi umum yang sama, Wanda juga pernah terganggu karena tingkah tidak tahu tempat oleh penumpang. Perempuan ini menemukan laki-laki yang tidur menggunakan headset, tetapi kepalanya mendongak mengganggu penumpang lain.
Permasalahannya adalah ekspresi tidur pulas itu membuat penumpang lain merasa serbasalah. Mereka jadi melihat orang tidur yang belum tentu pantas untuk disaksikan, tetapi juga tidak dapat menghindar karena ruang dalam kereta yang terbatas.
“Apalagi mas-mas tidur pakai headset nggak mau nunduk,” kata dia.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Maria (33) yang menyebut tak tahan dengan tingkah penumpang KRL Jogja. Mereka tidak peduli dengan volume bicara yang dapat mengganggu orang-orang disekitarnya.
Penumpang KRL Jogja dapat berbincang-bincang satu sama lain seakan-akan mereka menguasai tempat itu sendiri, padahal sedang berada di ruang publik. Inilah yang mengganggu, kata Maria, mengingat mereka menciptakan kebisingan yang ujungnya berkompetisi satu sama lain.
“Berisik sumpah, orang-orang penumpang KRL Jogja itu berisik,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
