ADVERTISEMENT

Awal Merantau Muak sama Telepon Ibu karena Ingin Bebas, Kini Lebih Sering Nangis karena Tak Bisa Pulang “Disandera” Perantauan 

Awal merantau di Jakarta muak dengan telepon orang tua. Setelah sekian tahun malah lebih sering nangis tidak bisa pulang karena tersandera perantauan MOJOK.CO

Telepon dari orang tua menjadi sesuatu yang memuakkan di awal-awal merantau ke kota orang. Namun, setelah sekian tahun, tidak ada malam tanpa tangisan di perantauan karena diserang kangen tapi tidak bisa pulang. 

***

Merantau sama dengan kebebasan. Bagi Arfian (26) pada mulanya terasa demikian di awal-awal ia merantau dari Jombang, Jawa Timur, untuk kuliah hingga kemudian bekerja di Jakarta. 

Sebagaimana julukan Jombang sebagai “Kota Santri”, Arfian mengaku hidup dalam kultur keluarga yang cukup ketat dalam persoalan norma sosial dan agama. Maka dari itu, merantau jauh menjadi semacam tiket kebebasannya menjalani hidup sesuka yang ia mau tanpa pantauan dan teguran orang tua. 

“Kalau orang tua, terutama ibuku, sering lah nelepon. Ngasih nasihat. Waktu itu kuiya-iyain aja. Toh mereka juga nggak tahu kan aku bohong atau nggak,” ungkap Arfian, Minggu (4/10/2026). 

Muak dengan telepon orang tua karena mengganggu!

Di masa awal-awal merantau ke Jakarta, setiap dua malam sekali ponsel Arfian pasti berdering. Nama yang tertera di notifikasi panggilan adalah “Ibu”. Jujur saja, saat itu Arfian merasa muak mendengarnya. 

Sebab, kerap kali telepon tersebut masuk saat Arfian sedang “sibuk” dengan dunianya sendiri. Entah sedang nongkrong, mengerjakan tugas, jalan-jalan dengan pacar, atau aktivitas lain. 

Jelas tidak Arfian angkat. Ia biarkan saja, karena memang Arfian tidak memasang nada dering. Sehingga ia biarkan saja layar ponselnya berkedip-kedip sampai mati sendiri. 

“Sekali nggak diangkat, pasti akan spam telepon terus. Tapi kalau aku di kos, ya pasti aku angkat lah. Cuma nggak langsung gitu, agak ogah-ogahan. Kadang aku bohong, aku sedang di luar dan sibuk, biar teleponnya nggak panjang-panjang,” ujar Arfian. 

Ada alasan kenapa Arfian merasa muak. Sebab, menurutnya, sering kali telepon dari sang ibu tidak urgen. Hanya sekadar basa-basi: tanya sudah makan atau belum dan nasihat-nasihat yang menurut Arfian klise nan diulang-ulang. Arfian bosan. 

Arfian penginnya, kalau ia tidak nelepon, maka orang tuanya jangan inisiatif nelepon dulu. Alasan Arfian, dengan menunggu Arfian menelepon dulu, itu artinya Arfian memang dalam kondisi luang (ya walaupun sebenarnya ia sok sibuk saja). 

“Cuma lama-lama ibuku protes juga, masalahnya kalau nunggu aku nelepon duluan, akunya nggak nelepon-nelepon. Sementara ibuku butuh kabar, karena jarak Jombang-Jakarta jauh, aku nggak bisa sering-sering pulang,” ujarnya. 

Tidak menyadari esensi pertanyaan “Sudah makan belum” dan nasihat klise orang tua

Semasa kuliah, hanya saat libur semester dan libur lebaran saja Arfian pulang. Tetapi dulu ia selalu merasa tidak betah berlama-lama di rumah. Lama tinggal di Jakarta membuat Jombang terasa jauh tertinggal. Rasanya seperti jauh dari peradaban. 

Karena itu, setelah lulus kuliah pun ia memutuskan untuk tidak pulang ke Jombang. Ia memilih bertahan di perantauan: lanjut bekerja di Jakarta. 

“Pas kerja baru tahu real kalau kehidupan menuju dewasa itu keras. Ada banyak momen lah, salah satu yang bikin aku sadar soal betapa butuhnya aku sama orang tua adalah waktu denger cerita teman yang orang tuanya udah nggak ada,” beber Arfian. 

“Mereka kayak kehilangan arah. Menyesal karena dulu waktu orang tuanya masih ada, dia nggak bisa nemenin, nggak manfaatin waktu juga buat bener-bener jadi “anak” yang baik bagi mereka,” sambungnya. 

Arfian sadar, bahwa orang tuanya selama ini sebenarnya adalah orang tua yang hangat terhadap anak-anaknya. Bukan orang tua toksik. Mereka menelepon Arfian toh pada dasarnya untuk memastikan kalau ia baik-baik saja di perantauan. 

Teman Arfian menyadarkan, telepon orang tua memang kerap kali terkesan basa-basi. Hanya mengulang pertanyaan “Sudah makan belum?” dan nasihat-nasihat klise seperti “Jangan bergadang”, “Jangan lupa salat”, “Jangan aneh-aneh”, dan sejenisnya. Terdengar sederhana dan memuakkan, tapi justru pertanyaan itu lahir dari kasih sayang yang begitu tulus dan dalam. 

“Salah satu pertanyaan yang dilontarkan ibuku kan kerap kali nggak jauh-jauh dari pertanyaan kapan aku pulang ke Jombang? Asli aku kesel kalau denger pertanyaan itu. Maksudku, aku kan di sini lagi kerja,” kata Arfian. 

“Tetapi ya itu, temanku bilang, harusnya aku bersyukur punya orang tua yang selalu menantikan kepulangan anaknya. Dan memang begitu orang tuaku, kalau aku pulang, senengnya bukan main,” imbuhnya. 

Setelah bertahun-tahun merantau, kini menyesal karena tidak bisa pulang

Semenjak itu, Arfian menjadi lebih rutin menelepon orang tuanya. Bukan menunggu ditelepon, tapi menelepon duluan. Karena perbincangan dengan temannya tersebut justru semakin menguliti betapa selama ini ia tidak memperlakukan kedua orang tuanya secara tidak adil. 

Bagaimana tidak. Ia kuliah dengan biaya orang tua. Ia berangkat merantau ke Jakarta untuk kuliah sampai nyambung bekerja juga atas izin mereka. Dan mereka tidak pernah menuntut pencapaian apa pun terhadap Arfian: kiriman uang, tidak, kesuksesan pekerjaan maupun materiil juga tidak. 

“Kalau diinget-inget, anjing jahat banget aku ke mereka. Kalau pacar atau teman kirim WA aja aku sat-set balesnya. Tapi kalau ibu yang nelepon, aku malah kayak kesel, kan aneh,” ungkap Arfian. 

“Setelah sekian tahun berlalu, setelah ngerasain kerasnya Jakarta yang sesungguhnya (dari dinamika kerja yang berat), aku kan sering ngerasa capek yang capek banget. Kalau udah gitu bayangin di rumah. Nggak perlu cerita, sekadar kumpul sama ibu-bapak, dengerin cerita dan candaan mereka, rasanya pasti menenangkan,” tambahnya. 

Memang begitu yang Arfian rasakan tiap kali pulang di momen liburan. Hanya sekadar kumpul di ruang tengah rumahnya yang sederhana di Jombang, rasanya hangat sekali. 

Tidak pelak situasinya kemudian berubah sama sekali. Jika dulu ia ingin buru-buru kembali ke Jakarta, kini ia selalu merasa di rumah terasa sangat singkat. Alhasil, ketika ia hendak berangkat ke perantauan kembali, ia kerap nyesek sendiri, dari menunggu kereta tiba hingga saat KA Jayakarta membawanya melaju meninggalkan Jombang. Bahkan ia bisa tiba-tiba menangis sendiri sepanjang perjalanan. 

“Karena kan aku nggak bisa sering-sering pulang. Rasanya sekarang gitu, sedihnya di situ. Malah kangen terus. Tapi aku sendiri belum ada keberanian buat kembali ke Jombang, nggak tahu nanti kerja apa. Takut kalau susah kerja,” tutur Arfian. 

Jika terlalu lama merantau, takut kabar buruk datang sewaktu-waktu

Arfian semakin realistis. Orang tuanya kini sudah semakin menua. Ia menyadari bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan itu pasti. 

Sialnya, belakangan di beranda media sosialnya kerap berseliweran konten-konten kepedihan: seorang anak yang lama merantau, sekali pulang justru hanya bisa menyaksikan jasad orang tuanya terbaring kaku di keranda. 

Konten-konten itu tidak ayal membuat Arfian menangis sesenggukan sendiri di kamar kosan. Ia diserang ketakutan hebat kalau ia bakal menjadi salah satu perantau yang mengalami kepedihan semacam itu. Ia tidak sanggup membayangkan. 

Oleh karena itu, setiap bangun tidur atau sepulang kerja, ia pasti menyempatkan barang beberapa menit untuk video call orang tuanya di rumah. Ia pun tidak pernah lagi mengabaikan telepon dari ibunya. Sekali ponselnya berkedip dengan notifikasi panggilan atas nama “Ibuk”, ia pasti bergegas mengangkatnya. Hanya itu yang ia bisa saat ini, saat ia sendiri hanya bisa memendam kangen di antara serangan kangen yang membuncah sementara ia tidak bisa begitu saja pulang ke rumah. 

“Aku masih tersandera di perantauan,” ujarnya, agak tersendat, seperti menahan tangis. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suara Ibu di Telepon Selalu bikin Tenang usai Hadapi Hal-hal Buruk dan Menyakitkan di Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.