Ada potensi anomali ketika Jogja—dan sekian destinasi wisata di dalamnya—diserbu 8,2 juta wisatawan selama libur lebaran (Idulfitri 2026) Ini. Sebab, kata pakar, daya beli wisatawan bisa saja rendah. Tapi di saat bersamaan keberadaan mereka akan memicu masalah.
Mobilitas wisatawan ke Jogja lebih tinggi dari warlok
Hingga saat ini Jogja memang masih menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan luar daerah.
Merujuk hasil survei Kementerian Perhubungan, ada 8,2 juta orang wisatawan diprediksi akan melakukan perjalanan wisata di Jogja selama periode libur Idulfitri 2026.
Angka ini mencerminkan mobilitas yang tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk DIY yang hanya 3,7-3,8 juta orang. Begitu kata peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Destha Titi Raharjana.
“Tahun ini ada lonjakan yang diduga akibat akses jalan tol yang semakin mendekati pusat kota, jalur utara via Tempel dan jalur timur via Prambanan,” ucap Destha dalam keterangan tertulisnya di laman resmi UGM, Selasa (17/3/2026).
Destha memperkirakan, puncak arus kedatangan H-5 sampai H-3 lebaran. Sedangkan puncak kunjungan wisata diprediksi sekitar 22 Maret 2026.
Wisata Jogja memang menggoda dan terus bersolek
Bukan tanpa alasan kenapa wisata Jogja selalu menjadi tujuan wisatawan di momen-momen libur nasional. Di mata Destha, Jogja memang menawarkan wisata alternatif yang dapat dijangkau wisatawan.
Belum lagi dengan konektivitas transportasi yang semakin baik. Utamanya keberadaan Tol Trans Jawa yang mempermudah akses mereka yang menggunakan mobilitas darat.
Beberapa wilayah di Jogja pun, nilai Destha, juga menawarkan kuliner dengan harga jual makanan dan minuman relatif masih terjangkau.
“Jogja ini dikenal sebagai destinasi wisata murah. Jogja juga memiliki sejuta kenangan bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan atau bekerja di kota ini. Libur Lebaran tentu menjadi salah satu momen untuk bernostalgia,” beber Destha.
Selain tentu saja keberadaan daya tarik konvensional seperti Malioboro, Titik Nol, Tugu dan sekitarnya, Kraton, dan Tamansari.
Kalau mau wisata alam seperti pantai, wisatawan bisa memilih beberapa wilayah pantai di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Apalagi belakangan ini Gunungkidul tengah bersolek sampai dimirip-miripkan dengan Bali.
“Begitu pula dengan keberadaan kampung wisata dengan homestay, termasuk juga desa-desa di wilayah Bantul, Sleman, dan Kulon Progo. Ini tentu berpeluang menerima kunjungan wisatawan, baik yang di daya tarik ataupun paket berkegiatan di desa wisata,” paparnya.
Tapi tahun ini tidak mesti berdampak tinggi pada ekonomi?
Hanya saja meski mengalami lonjakan wisata yang cukup tinggi, Destha menduga tidak akan berdampak pada belanja wisatawan yang tinggi. Dari sisi perilaku ekonomi, Destha bahkan menilai jika para wisatawan akan selektif dalam merogoh kantong.
Melihat situasi saat ini, ia berpandangan wisatawan nampaknya memiliki daya beli rendah. Dimungkinkan tidak sedikit dari para wisatawan akan memilih aktivitas wisata yang gratis, seperti memilih ruang publik dan menggunakan akomodasi seperti hotel budget atau homestay, serta melakukan kunjungan one-day trip.
“Intinya, wisatawan tahun ini nampaknya akan lebih selektif dalam berbelanja, meski ada juga beberapa yang tetap royal untuk belanja makan dan minum (kuliner), serta membeli oleh-oleh,” jelas Destha.
Sementara dibayangi ancaman nyata
Anomalinya, meski daya beli rendah, tapi lonjakan wisatawan di Jogja tetap memberi ancaman nyata.
Menurut Destha, lonjakan 8,2 juta orang tersebuti akan membawa konsekuensi beban lingkungan yang besar. Oleh karena itu, ia mengimbau pengelola destinasi dan wisatawan untuk memperkuat komitmen pariwisata yang bertanggung jawab.
“Jangan sampai euforia nostalgia di Jogja justru meninggalkan masalah sampah yang mencemari citra estetik Jogja,” imbau Destha.
“Penting untuk diperhatikan terkait dampak lingkungan dari ledakan jumlah pengunjung ini. Kita sama-sama menjaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan lonjakan volume sampah di titik-titik keramaian,” tegasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
Sumber: UGM
BACA JUGA: Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
