Rahasia Sukses Budidaya Belut Kang Wardi, dari Satu Kolam Kini Punya 200 Kolam di Cangkringan

Ilustrasi Rahasia Sukses Budidaya Belut Kang Wardi, dari Satu Kolam Kini Punya 200 Kolam di Cangkringan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Awalnya disepelekan, Kang Wardi membuktikan ia bisa budidaya belut dengan sukses. Dari sebuah tong bekas, kini ia punya 200 kolam belut. Ia membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang ingin belajar ternak belut tanpa memungut biaya. 

***

“Maaf, Pak, nanti hubungi saya satu atau dua jam lagi ya, saya masih ada tamu,” laki-laki di depan saya lantas meletakkan handphonenya yang dari tadi tak berhenti berdering. 

Namanya Suwardi (46) tapi biasa dipanggil Kang Wardi. Saya datang ke kolamnya secara tak sengaja saat melihat sebuah papan kecil bertuliskan Omah Belut Kang Wardi di Wukirsari Cangkringan, Sleman, Rabu (17/01/2024). 

“Hari ini yang telepon kalau cuma 50 orang sudah ada, itu belum yang kirim WA, sampai saya bingung, mau jawab yang mana dulu,” katanya menunjukkan nomor yang masuk ke handphonenya. Selain menerima telepon, saya sempat menyapa dua orang muda-mudi yang ternyata juga baru selesai konsultasi dengan Kang Wardi soal bagaimana cara budidaya belut.

Rencana serius budidaya belut

Kondisi ini tentu tak pernah Kang Wardi bayangkan 6 tahun yang lalu atau pada 2018 saat memulai budidaya belut. Semua bermula pada 2010 saat ia pindah dari kampung halamannya di Bogor, ke Wukirsari, Cangkringan, kampung halaman istrinya. Di Sleman ia bekerja sebagai tukang di usaha mebel. 

Ia dan istrinya kemudian mencoba peruntungan untuk merantau ke Kalimantan pada 2014. Namun, tiga tahun kemudian ia dan istrinya memutuskan pulang kampung ke Wukirsari. 

“Saya kembali kerja di tempat yang dulu, usaha mebel. Tahun 2017, saya buka usaha mebel sendiri, tapi persaingan usaha ini ketat,” katanya. 

Lantas ia ingin buka usaha lain. Di sekeliling tempatnya tinggal, rata-rata orang beternak sapi, kambing, budidaya ikan nila, dan lele. Terlintas dalam pikirannya untuk kemudian melakukan budidaya belut. 

“Saya tanya sana sini ternyata katanya belut nggak ada, saya nyoba ngurek atau mancing belut, juga belutnya kecil-kecil. Mereka nggak percaya pas cerita kalau belut bisa besar,” katanya.

Tertantang ingin punya pendapatan tambahan dari budidaya belut, Kang Wardi memutuskan untuk serius dengan rencananya. Ia mencari informasi tentang bagaimana beternak belut dari internet. Setiap informasi tidak ia telan mentah-mentah.

Semua orang bilang, budidaya belut itu susah, mending ternak ayam

Rencananya untuk budidaya belut juga direspon kurang baik oleh teman-temannya bahkan oleh istrinya. Mereka menyarankan untuk ternak ayam atau memelihara ikan yang sudah umum saja seperti lele atau nila. 

Budidaya belut bisa membuat sukses
Kang Wardi, awalnya diremehkan saat akan memelihara belut di Cangkringan,. Ia membuktikan beternak belut bisa menguntungkan. (Agung P/Mojok.co)

“Ada banyak yang ngasih tahu saya untuk ke Pasar Godean. Saya keliling pasar, banyak yang jual, tapi pas bilang saya buat budidaya, mereka juga bilang, ‘belut kok dipelihara, belut yang untuk konsumsi,” kata Kang Wardi.

Sama seperti suara orang-orang sebelumnya, bos belut hasil tangkapan alam ini menyampaikan hal yang sama. Bahkan bercerita ada orang yang pernah beli setengah kwintal untuk dibudidaya, tapi saat panen hanya tinggal beberapa kilogram saja.

Akhirnya, Kang Wardi tetap membeli dua kilogram belut yang masih ukuran kecil. Sebelumnya ia sudah mencari informasi tentang bagaimana budidaya belut lewat internet. Awalnya ia menggunakan drum bekas obat yang ia potong jadi dua. Media tanam juga sudah ia sesuaikan dengan informasi yang ia dapat.

Baru beberapa hari, belut-belutnya mati. “Pikir saya, kalau pun mati, belut-belut itu masih bisa ia konsumsi,” kata Wardi. Ia kembali membeli bibit belut. Namun, istrinya makin keras protesnya. Hal yang istrinya khawatirkan terjadi. Belut-belut itu kembali mati.

Baca halaman selanjutnya…

Berbohong ke istri lalu sukses punya 200 kolam

Berbohong ke istri lalu sukses punya 200 kolam

Setiap kali belut-belutnya mati, Kang Wardi mengamati dan menganalisis sebabnya. Ia kemudian memutuskan membeli belut lagi. Kali ini ia membeli bibit belut dari Kalimantan. Untuk mengambil hati istrinya, akhirnya Kang Wardi berbohong. 

“Saya bilang, kalau benih belut itu titipan teman untuk dipelihara. Kalaupun mati nggak papa,” kata Kang Wardi tertawa. 

Ternyata uji cobanya yang ketiga untuk budidaya belut sukses. Belut-belut itu bisa hidup. Kang Wardi kemudian memanen belut-belutnya empat bulan dari sejak ia tebar. “Saat panen istri saya tanya, loh sudah panen kok temannya nggak datang. Alasan saya, teman saya ingin belutnya dikembangkan lagi, jadi hasil panenannya nggak dibagi,” ujar Kang Wardi tertawa.

Saat memanen belut-belut itu, ternyata ia menemukan ada belut-belut kecil di kolam belutnya. Rupanya belut yang ia tebar kawin, bertelur dan menetas tanpa ia sadari. Belut-belut hasil panenan pertama itu kemudian ia kembangkan lagi hingga sekarang sudah ada 200 kolam. 

Ketika mulai memanen belutnya, Kang Wardi sempat khawatir tidak bisa menjual ke pasar. Alasannya belut itu mahal. “Satu kilogram untuk belut konsumsi sekarang harganya Rp80 ribu. Logikanya orang mending beli ayam, atau ikan lain,” kata Kang Wardi. 

Temannya menyarankan untuk menjual lewat media sosial. Kang Wardi lantas menawarkan di Facebook, dan ternyata banyak orang yang tertarik untuk membeli. “Jadi kalau dulu bingung mau jual kemana, sekarang malah bingung buat memenuhi pesanan,” kata Kang Wardi.

Ia akhirnya memutuskan untuk fokus dulu pada pengembangan kolamnya. “Target saya punya 2.500 kolam belut,” kata Kang Wardi.

Bagikan ilmu dengan pelatihan gratis agar harga turun

Gara-gara postingannya di Facebook, orang-orang dari berbagai daerah banyak yang datang ke rumahnya. Mereka ingin belajar untuk budidaya belut. Bahkan kemudian ada instansi dari luar kota yang memintanya untuk menjadi narasumber. “Saya bilang nggak bisa presentasi. Power Point saja saya saat itu nggak tahu,” katanya tertawa. 

Akhirnya dari pengalaman menjadi narasumber itu, Kang Wardi berpikir untuk membuka pelatihan budidaya belut di rumahnya. Namun, uniknya, Kang Wardi tidak meminta bayaran. Ia justru menggratiskan biaya pelatihan. 

“Tujuannya biar semakin banyak orang yang budidaya belut, ketersediaan belut itu masih sedikit di Indonesia. Kalau semakin banyak yang memelihara belut, harga di pasar akan turun. Misalnya jadi 30 ribu per kilogram, nah dari situ kan belut jadi seperti ayam, yang ngonsumsi banyak. Bukan hanya kalangan tertentu saja,” katanya. 

Kang Wardi siap memberi pelatihan beternak belut di rumahnya tanpa biaya. Ia ingin harga belut jadi lebih murah sehingga masyarakat bisa membelinya. (Agung P/Mojok.co)

Kang Wardi mengaku saat ini belum fokus menjual belut konsumsi, ia masih mengejar untuk pengambangkan kolam dulu. Bahkan sudah ada dua pihak yang mengaku dari China dan Jepang yang memintanya bekerjasama menyediakan belut konsumsi. “Mereka minta 1 ton per bulan. Saya nggak sanggup, makanya dengan adanya pelatihan gratis ini harapannya makin banyak yang beternak belut,” ujarnya.

Tiga hal agar budidaya belut itu sukses

Dalam pelatihan ia akan membeberkan rahasia bagaimana ia sukses mengembangkan kolam belut dari satu tong sekarang menjadi 200 kolam. Menurutnya, jika sudah tahu tekniknya maka beternak belut bisa jadi sesuatu yang gampang dan murah. 

Setidaknya menurut Kang Wardi ada tiga hal untuk sukses budidaya belut yaitu dalam pembuatan media kolam, pemilihan bibit, dan pemberian pakan yang pas. 

Media tanam yang baik menurut Kang Wardi punya unsur lumpur, jerami, dan cacahan batang pisang, dengan komposisi yang tepat. Selain itu penting untuk terlebih dulu media tersebut difermentasi hingga menghasilkan pakan alami untuk belut. 

Selanjutnya adalah memilih benih belut yang bagus. “Analisis saya kenapa waktu ketiga kalinya saya berhasil karena bibitnya pakai belut rawa, yang mungkin belum terkontaminasi zat kimia seperti yang ada di sawah,” katanya. Agar tidak terjadi kanibal, penting untuk mengamati belut di kolam dan menyediakan makanan tambahan.

Banyak yang bilang juga kalau salah satu kendala dari beternak belut adalah waktu panennya yang lama. Namun, Kang Wardi meyakinkan, soal waktu panen sebenarnya sesuai dengan keinginan peternak. Tergantung apakah ingin panen dalam bentuk kecil, sedang atau besar. Untuk dijadikan peyek, belut goreng, atau sambal belut.

“Kalau soal waktu panen itu sebenarnya bisa kapan saja. Mau masih kecil dipanen itu bisa untuk peyek. Hitung-hitungannya itu, saya nebar benih yang besarnya seperti rokok dalam empat bulan beratnya naik empat kali lipat,” kata Kang Wardi.

Oh ya soal apakah istrinya masih marah, tentu saja sekarang tidak lagi. Bahkan sangat mendukung. Di lokasi kolam belutnya yang sekarang, bahkan istrinya membuka warung. Sehingga ketika ada tamu yang berkunjung bisa langsung mencicipi menu serba belut yang istrinya masak.

“Saya baru cerita ke istri saya kalau sebenarnya saya itu bohong saat bilang ada teman yang titip bibit belut. Itu juga saya belum lama ngakunya,” kata Kang Wardi tertawa.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Nikmatnya Sambal Belut Kang Shobirin Bantul, Ada Menu Rahasia untuk Para Lelaki

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version