Bagi Djamaluddin Beddu yang menyandang gelar kehormatan sebagai veteran pembela Indonesia, euforia kemerdekaan seharusnya tidak hanya dinikmati oleh pejabat tinggi, melainkan juga seluruh warga Indonesia, khususnya kaum papa.
***
Djamaluddin Beddu lahir di Makassar pada 12 Juli 1948. Dia bercerita, semasa kecil ingin menjadi orang besar di dunia militer walaupun ayahnya hanya seorang pegawai negeri sipil (PNS) golongan 1.
Artinya, sulit baginya untuk meraih mimpi itu dengan keterbatasan relasi yang ada. Namun, Beddu perlahan bisa membuktikannya.
Di usianya yang ke-78 tahun, Beddu pernah menjabat sebagai komandan peleton, komandan perwira seksi intel, komandan kodim, staf ahli panglima TNI, hingga pensiun dari dunia militer Angkatan Darat dan menyandang gelar veteran pembela Indonesia.
Lebih dari itu, yang membuat Beddu bahagia kini bukan rentetan jabatan tersebut atau kemewahan secara materi, melainkan keluarga sederhana dengan 6 orang anak dan 4 orang cucu.
Sebagai veteran pembela Indonesia, Beddu pun hadir sebagai tamu kehormatan pada upacara pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI) di Gedung Agung, Yogyakarta pada Senin (17/8/2026) pagi.
Mengenang jasa veteran Indonesia
Beddu tampak khidmat saat Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tim Cakra Nanggala memasuki lapangan upacara, terutama ketika Muhammad Yahya Rizqi Nur Fadhilah selaku pengerek dan Irsyad Rizqi Fayad sebagai pembentang bersiap mengibarkan bendera Merah Putih.
Walaupun sudah melewati rangkaian upacara kemerdekaan selama puluhan tahun, veteran Indonesia itu mengaku momentum kemerdekaan tak pernah kehilangan suasana sakralnya. Sembari mengikuti prosesi mengheningkan cipta yang dipimpin Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan khusyuk, Beddu turut mengenang jasa pahlawan terdahulu termasuk rekan-rekan sejawatnya.

Dia berharap, Peringatan HUT ke-81 RI tahun ini dapat menjadi pengingat bangsa Indonesia agar tak lupa dengan tanggung jawabnya untuk merawat kemerdekaan, terutama bagi pemerintah di masa sekarang untuk mengentaskan isu kemiskinan.
“Mudah-mudahan ke depan pemerintah bisa lebih berempati kepada rakyat miskin dan lebih bijaksana lagi dalam menanggapi situasi di masa sekarang,” ucapnya saat ditemui Mojok di sekitar Gedung Agung, Yogyakarta pada Senin (17/8/2026) usai upacara pengibaran bendera Merah Putih.
Pesan veteran Indonesia kepada generasi muda
Beddu juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya dengan berita hoax yang bertebaran di media sosial, hingga tersulut emosi dan merugikan bangsa sendiri.
“Jangan melemparkan berita-berita yang tidak mendukung fakta yang ada. Saya kira, anak-anak muda sekarang harus lebih banyak lagi membaca buku-buku sejarah,” pesannya.
Dengan membaca buku sejarah, lanjut Beddu, kecintaan terhadap tanah air akan semakin kuat. Sehingga, tidak akan ada lagi fenomena “kabur aja dulu” seperti sekarang. Alih-alih ingin pindah negara, warga akan memilih untuk memperbaiki bangsanya karena rasa cintanya terhadap NKRI.
“Bayangkan, untuk memperjuangkan kemerdekaan dulu, masyarakat bahkan berjuang hanya dengan menggunakan bambu runcing,” ujar veteran Indonesia tersebut.
Perjuangan itulah yang menginspirasi Beddu untuk mendaftar sebagai anggota militer Indonesia di usia 19 tahun.
“Ketika itu saya melihat para tentara sangat gagah sekali. Dari situ saya akhirnya memutuskan untuk bermimpi menjadi orang yang besar di militer dan mengabdikan diri saya pada negara,” ucapnya.
Sadar bahwa tantangan veteran dulu dan kini berbeda
Pada tahun 1975, Beddu yang masih menjabat sebagai perwira sempat dikirim ke Timor Timur. Wilayah itu dulunya dijajah oleh Portugis sejak tahun 1520. Setelah Revolusi Bunga di Portugal, Timor Timur berintegrasi menjadi provinsi ke-27 Indonesia pada 1976.
Walaupun pada akhirnya, Timor Timur resmi merdeka dan menjadi negara berdaulat pada 20 Mei 2002. Namun, Beddu masih ingat betul perjuangannya dulu bersama rekan sejawat. Saat dia beserta pasukannya harus mendarat dari pesawat dan melakukan perjalanan darat dengan berjalan kaki, meski situasi waktu itu sebenarnya tidak memungkinkan.
Semangat itulah yang dia harap bisa diwariskan ke generasi sekarang. Beddu pun sadar, tantangan anak muda kini tak melulu soal perang secara fisik, tapi perang keilmuan di tengah arus teknologi yang semakin cepat.
“Oleh karena itu, menurut saya penting bagi generasi sekarang untuk melek literasi, terutama membaca buku-buku sejarah. Namun juga selektif lagi dalam membaca agar tidak terpapar hoax,” jelas veteran Indonesia tersebut.
Senada dengan amanat Sri Sultan
Pesan Beddu selaku veteran Indonesia pun senada dengan apa yang disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam HUT ke-81 Kemerdekaan RI, bahwa kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga dan diwariskan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Itulah persatuan yang ditegakkan di atas satu tekad, yakni menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri, menentukan arahnya sendiri, dan memastikan kesejahteraan sampai ke seluruh pelosok negeri,” ujar Sri Sultan.
Dengan demikian, Sri Sultan mengajak segenap masyarakat DIY untuk mewarisi semangat para pendiri bangsa bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata.
Bersama menjaga harmoni, memperkuat gotong royong, dan berani berinovasi, sehingga Daerah Istimewa Yogyakarta dan Indonesia, menjadi teladan kemajuan yang tetap berakar pada nilai luhur bangsa.
“Semoga Tuhan Yang Maha Bijaksana berkenan menunjukkan arah di jalan lurus-Nya, sehingga Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 benar-benar dapat menuntaskan misi kemerdekaan: Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Dirgahayulah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Sri Sultan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang.
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Belajar dari Sejarah: Darurat Militer Cuma Bikin Negara Menjadi Neraka, Rakyat Makin Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan