Bermula dari keinginannya menyediakan pakan sehat yang terjangkau untuk sang anak yang berkebutuhan khusus, Juli sukses membangun bisnis Bread is Home sebagai oleh-oleh khusus saat berkunjung ke Jayapura, Papua.
***
Perjalanan Juli membangun Bread is Home, sebagai salah satu produk oleh-oleh khas Papua dimulai pada tahun 2020, tepatnya saat ia pindah dari Jakarta ke Jayapura mengikuti sang suami. Pertama kali menginjakkan kaki di Jayapura, Juli mengaku terkejut karena harga produk oleh-oleh di Papua ternyata cukup mahal.
Di sisi lain, Juli ingin memastikan anaknya yang berkebutuhan khusus tetap bisa menikmati makanan yang sesuai. Oleh karena itu, ia mulai membuat alternatif yang lebih terjangkau dari dapur rumah dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, seperti sagu.
Dari sana, ide Bread is Home akhirnya muncul. Kini, langkah sederhana itu berkembang menjadi usaha yang membawa harapan bagi lebih banyak anak berkebutuhan khusus di Papua.
Bread is Home jadi rujukan oleh-oleh di Papua
Siapa sangka, tak berselang lama setelah Juli meluncurkan produk makanan Bread is Home, banyak warga maupun wisatawan yang tertarik dan berbondong-bondong untuk memesan, sebagai oleh-oleh khas Papua.
Meski permintaan oleh-oleh khas Papua terus bertambah, Juli merasa skala bisnisnya masih kecil sampai dia merasa kurang percaya diri.

Guna mengatasi masalah tersebut, Juli pun mencari program pemberdayaan UMKM perempuan, hingga bertemu lah ia pada program SisBerdaya yang diselenggarakan DANA bersama Ant International Foundation.
Melalui program tersebut, Juli mempelajari public speaking, psikologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk bisnis. Ia juga memperoleh kerja sama baru, salah satunya dengan Meja Kopi, kafe di Jayapura yang kemudian menjadi salah satu mitra Bread is Home.
“Dari satu kafe, akhirnya saya mulai membuka kerja sama dengan kafe-kafe lainnya,” ujar Juli dikutip dari keterangan resmi, Selasa (6/10/2026).
Lebih dari sekadar oleh-oleh khas Papua yang murah
Karena keaktifan Juli mengikuti program SisBerdaya, bisnis Bread is Home sebagai salah satu rujukan oleh-oleh di Papua pun semakin berkembang. Selain mengeksplorasi sagu, ia dan sang suami bahkan mengolah petatas (sejenis ubi yang merupakan pangan lokal khas Papua) menjadi roti modern yang dapat dijadikan oleh-oleh dan cocok dinikmati bersama kopi Papua.
“Saya berpikir bagaimana bahan pangan lokal seperti petatas bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih modern, tetapi tetap punya identitas Papua,” ujar Juli.

Pertumbuhan tersebut juga membawa Bread is Home semakin dekat dengan misi personal Juli. Berangkat dari pengalamannya membesarkan anak berkebutuhan khusus, ia mulai membuka kesempatan bagi siswa SLB 1 Jayapura, tempat anaknya bersekolah, untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam proses pembuatan roti.
Selain itu, Bread is Home juga tengah mengembangkan kurikulum keterampilan baking sekaligus memberikan pelatihan kepada para orang tua. Semangat pemberdayaan ini juga ia bawa ke lingkungan sekitar dengan melibatkan ibu rumah tangga dan ibu tunggal (single parent) dalam usahanya, agar mereka memiliki ruang untuk berkarya dan tumbuh lebih mandiri.
Sagu dan petatas, bahan pangan lokal yang kini naik kelas
Tak berhenti sampai di situ, dalam jangka panjang, Juli berencana mengembangkan toko fisik, open kitchen, dan baking studio sebagai salah satu rujukan pusat oleh-oleh di Papua. Ia berharap tempat itu tak hanya menjadi ruang usaha, tetapi juga ruang belajar tentang bakery, pangan lokal, kewirausahaan, dan inklusivitas.
Dari dapur rumah hingga memproduksi lebih dari 3.000 produk per bulan, Bread is Home menjadi bukti bahwa pertumbuhan bisnis bukan hanya tentang angka. Namun, juga berarti membuka lebih banyak peluang bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar, berkarya, dan menjadi lebih mandiri.
Kini, Bread is Home mencatat pertumbuhan produksi sekitar 135 persen, dari sebelumnya 1.300 menjadi 2.800 hingga 3.300 produk per bulan. Produk oleh-oleh khas Papua itu juga mulai dipasarkan melalui sejumlah kafe lokal, yaitu Embai Coffee and Roastery, Sandyakala, Meja Kopi, dan Hujan Sore di Jayapura.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan