ADVERTISEMENT

Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia

Cat therapy di Jalan Tunjungan Surabaya yang merawat 12 kucing. MOJOK.CO

Di waktu luang, Bimo sering mengajak Bibi keluar rumah agar tidak stres. Salah satunya di Jalan Tunjungan Surabaya. Tanpa ia sangka, banyak yang menyukai kehadiran Bibi di sana. Beberapa di antaranya bahkan cerita kalau mereka suka kucing tapi lingkungannya tak mendukung. 

Lebih dari itu, kata Bimo, rasanya dunia tak mendukung ikatan kucing dan manusia. Salah satunya berangkat dari pengalaman Bimo yang tak diizinkan memelihara kucing oleh ibunya hingga ia memutuskan jalan hidupnya sendiri.

Dari kiri Momo, Aisyah, Mody, Bibi di Jalan Tunjungan Surabaya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sebagian pemilik hewan peliharaan juga bercerita, melihat Bibi tumbuh sehat dan bermain di Jalan Tunjungan Surabaya, mengingatkan mereka pada kucingnya yang telah tiada. Seandainya kucing kesayangannya itu masih hidup, mereka ingin membawa kucingnya jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama seperti Bimo.

Tampik eksploitasi pada kucing di Jalan Tunjungan

Cerita itulah yang bikin Bimo mencetuskan ide untuk membuka cat therapy di Jalan Tunjungan. Selain Bibi, Bimo juga membawa ketiga kucing lainnya—anak Bibi untuk mejeng di trotoar Jalan Tunjungan. Mereka tak perlu tampil muluk-muluk seperti atraksi topeng monyet, tapi cukup duduk diam sembari mengenakan baju yang dibuat khusus untuk kucing.

“Pengunjung cukup bayar Rp5 ribu untuk kasih makan dan bisa foto bareng juga, intinya uang itu kembali ke kucing bukan untuk pribadi,” kata Bimo.

Meski begitu, ada saja yang mengira Bimo mengeksploitasi kucing-kucingnya. Bahkan ada yang memfitnah kalau ia memberikan kucing-kucingnya obat tidur agar tenang di tengah keramaian. Padahal, kata Bimo, ia mempelajari sendiri sifat-sifat kucing, sekaligus mendidiknya agar punya ikatan emosional terutama kepada pemiliknya.

“Aku sendiri butuh waktu yang lama untuk bonding dengan Bibi. Mangkanya, asal ada aku, Bibi dan anak-anaknya pasti tenang karena merasa aman,” jelas Bimo.

Cerita di balik “Cat Therapy” Jalan Tunjungan

Sebagai pecinta kucing, Bimo mengaku tak sampai hati untuk “menyiksa” hewan lucu dan berbulu tersebut. Sejatinya, ia pun paham rasanya kehilangan hewan peliharaan yang sudah dianggap seperti keluarga.

“Dulu, aku punya 3 ekor kucing yang baru lahir tapi semuanya meninggal. Terus 2 kucingku selainnya juga pernah diracun orang dan 1 lagi meninggal karena virus panleukopenia. Mangkanya sekarang aku selalu manifestasi Bibi, Momo, dan kucing-kucingku yang lain agar bertahan hidup sampai meninggal karena umur,” tutur Bimo.

“Karena aku tahu rasanya patah hati setelah kucing yang kita sayangi meninggal,” lanjutnya.

Selain untuk mengobati rindu para pemilik kucing yang kehilangan hewan peliharaannya, Bimo juga berniat mengedukasi warga di Jalan Tunjungan Surabaya. Bahwa dunia ini tidak terpusat hanya pada kepentingan manusia.

“Aku harap banyak orang yang aware terhadap kehadiran kucing, termasuk kucing liar. Selain memberi makan, ada baiknya untuk mengecek kondisi kesehatannya,” kata Bimo.

“Aku harap nggak ada lagi orang yang menendang kucing hanya karena mereka meminta makan,” lanjutnya yang biasa mangkal bersama kucing-kucingnya di Jalan Tunjungan pada Jumat sampai Minggu mulai pukul 16.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version