ADVERTISEMENT

Alumnus UNAIR Tinggalkan Kerja di Bank BUMN, Pilih Jadi Peternak Ayam Petelur Beromzet Rp250 Juta Perbulan

Kisah Rohmat Ansori, alumnus UNAIR pilih tinggalkan kerja di bank BUMN setelah 7 tahun. Rintis peternakan ayam petelur dengan omzet Rp250 juta perbulan MOJOK.CO

Setelah tujuh tahun bekerja sebagai pegawai bank BUMN, seorang alumnus UNAIR kemudian memilih banting setir menjadi peternak ayam petelur. Namun, dari peternakan tersebut justru mampu membukukan omzet sekitar Rp250 juta perbulan.

***

Bagaimanapun, dalam benak jamak orang, menjadi pegawai bank merupakan profesi ideal—menjanjikan kestabilan finansial. Akan tetapi, Rohmat Rohmat justru memilih melepaskannya. 

Alumnus program studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2006 itu mengawali karier profesionalnya di sebuah bank di bawah BUMN. 

Rohmat pertama kali bergabung sebagai pegawai kontrak dengan posisi Trade Service Assistant (bidang layanan yang berkaitan dengan transaksi perdagangan). Berkat kinerja dan dedikasinya, per 1 Agustus 2013 Rohmat kemudian diangkat menjadi pegawai tetap di posisi yang sama.

Lepas pekerjaan di bank BUMN justru demi financial freedom

Setelah kurang lebih tujuh tahun, Rohmat mengambil keputusan besar dalam hidupnya: meninggalkan zona—yang menurut banyak orang—nyaman tersebut. Ia memilih pensiun dini dari bank milik BUMN itu per 1 Agustus 2018 lalu. 

Alumnus S1 FKM UNAIR itu kemudian mulai membangun Rohmat Farm: peternakan ayam petelur. Keputusan tersebut tidak diambil semata-mata karena ingin berganti pekerjaan. Tetapi justru karena Rohmat memiliki tekad kuat untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga sekaligus memperoleh kebebasan finansial dan keleluasaan dalam mengatur waktu.

“Saya keluar dari bank karena ingin mengubah nasib agar ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Saya ingin menambah pendapatan sehingga dapat memiliki kebebasan finansial dan waktu,” tutur Rohmat dalam cerita tertulisnya di UNAIR. 

“Jika bekerja kepada orang lain, kita terikat oleh waktu. Sedangkan dalam berwirausaha kita memiliki kesempatan lebih besar untuk mengelola waktu dan menentukan arah usaha sendiri,” sambung mantan pegawai bank BUMN tersebut. 

Dari pegawai bank BUMN jadi peternak ayam petelur, hampir jatuh karena ambisius

Perjalanan Rohmat merintis bisnis peternakan ayam petelur tidak serta-merta mulus. Beragam tantangan yang dapat memengaruhi keberlanjutan bisnisnya harus ia hadapi.

Menurutnya, setidaknya ada tiga tantangan utama, yaitu kesehatan ayam yang berpengaruh langsung terhadap produksi telur, harga telur yang dapat turun di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), serta kenaikan harga pakan yang tidak selalu diikuti oleh kenaikan harga jual telur.

Tapi Ansori bukannya tidak menghitung dan menyiapkan strategi. Untuk menjaga produktivitas, Rohmat memprioritaskan kesehatan ayam melalui pemeliharaan yang optimal. Sementara itu, sebagai langkah antisipasi terhadap fluktuasi harga telur dan pakan, ia menyiapkan dana cadangan yang dapat digunakan ketika usaha mengalami kerugian.

Tak pelak, Rohmat mengakui bahwa dirinya pernah berada dalam kondisi yang hampir membuat usahanya terpuruk. Pengalaman tersebut terjadi ketika ia terlalu berambisi mengembangkan usaha tanpa didukung perhitungan yang matang.

“Saya belum pernah benar-benar jatuh dan semoga tidak pernah. Namun, saya pernah hampir jatuh karena terlalu ambisius mengembangkan usaha tanpa perhitungan yang matang,” akunya. 

“Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa keberanian harus tetap disertai kehati-hatian, evaluasi, dan pengelolaan risiko,” imbuhnya. 

Pembelajaran penting 

Pengalaman tersebut menjadi titik pembelajaran penting bagi Rohmat sebagai peternak ayam petelur. Sebab, dari pengalaman menghadapi beragam tantangan tersebut, ia semakin memahami bahwa pertumbuhan usaha harus dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kemampuan modal, kondisi pasar, biaya operasional, serta potensi risiko yang mungkin terjadi.

Pengembangan Ansori Farm tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi pemiliknya, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Peternakan ayam petelur Ansori turut mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya melalui penyediaan telur sebagai salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan masyarakat.

Dari sisi ekonomi, usaha tersebut sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi karena memperkuat kewirausahaan dan aktivitas ekonomi produktif. 

Pengelolaan kesehatan ternak serta efisiensi penggunaan pakan juga relevan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama dalam mendorong praktik produksi pangan yang berkelanjutan.

Keberanian yang menghasilkan omzet Rp250 juta perbulan

Sebagaimana disinggung di awal, peternakan milik mantan pegawai bank BUMN tersebut kini mampu membukukan omzet Rp250 juta perbulan. 

Maka, kepada mahasiswa dan generasi muda yang bercita-cita menjadi pengusaha, Rohmat berpesan dua hal. Pertama, sebelum memulai usaha, harus mempersiapkan rencana usaha dengan baik. Kedua, menurutnya, rencana yang matang tersebut harus dilanjutkan dengan keberanian mengambil langkah pertama.

“Perencanaan sebelum membangun usaha itu penting, tetapi yang lebih penting adalah berani memulai usaha itu sendiri. Jangan hanya berhenti pada rencana. Mulailah, terus belajar, lakukan evaluasi, dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan,” tegasnya. 

Sumber: UNAIR

BACA JUGA: Sarjana Sastra Indonesia Hampir Menyerah dan Bertahan Hidup di Jogja dengan Usaha Ayam Presto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version