Langit Kota Jogja sedang cerah pada Kamis (5/3/2026) sore itu. Padahal, selama tiga hari berturut-turut, hujan deras mengguyur tiap sore hingga malam hari. Suasana berbeda juga dirasakan para pengunjung Plaza Ambarrukmo. Pasalnya, tak ada alunan musik pop kekinian yang lazim diputar di pusat perbelanjaan. Sebagai gantinya, telinga saya dan pengunjung lain langsung disambut oleh tabuhan gamelan yang menggema kencang.
Kirab Bregodo, saat prajurit keraton berarak di tengah mal
Di area mal berlantai tujuh ini, sedang berlangsung sebuah arak-arakan tradisional yang meriah, atau biasa disebut Kirab Bregodo. Pemandangannya sukses membuat siapa saja berhenti melangkah, termasuk saya.
Di tengah lalu-lalang pengunjung dan deretan toko modern, terdapat 40 prajurit keraton berjalan tegap lengkap dengan pakaian adat kebesarannya. Namun, bintang utama dari arak-arakan ini adalah sebuah tumpukan raksasa yang dibawa dengan penuh kehati-hatian.

Benda itu adalah Gunungan Legomoro. Legomoro merupakan jajanan tradisional khas Kotagede berbahan dasar ketan yang dibungkus daun pisang. Gunungan ini tidak disusun sembarangan, melainkan berisi tepat 5.306 potong legomoro.
Diiringi kelincahan penari Tari Edan-edanan, gunungan raksasa ini diarak berkeliling dengan target memecahkan Rekor MURI.
Puncak kemeriahan terjadi ketika prosesi arak-arakan usai. Sesuai tradisi keraton, gunungan tersebut tidak hanya dipajang, melainkan dibagikan kepada warga melalui prosesi rayahan atau rebutan. Ratusan pengunjung mal yang sejak tadi merekam menggunakan ponsel, perlahan maju dan ikut berdesakan ringan untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut.
Ngalap berkah dengan rebutan 5.306 legomoro
Suasana pun berubah penuh tawa dan sorak-sorai ketika panitia mulai membagikan legomoro. Pengunjung dari berbagai usia, mulai dari anak muda hingga orang tua, tampak antusias menjulurkan tangan.
Di tengah kerumunan yang semarak itu, saya bertemu dengan salah satu pengunjung yang ikut antre. Namanya Disa, seorang mahasiswa yang kebetulan sedang menyempatkan diri ngabuburit ke Plaza Ambarrukmo. Wajahnya tampak semringah sambil memegang “segepok” legomoro di tangannya yang berisi puluhan biji.
“Lumayan buat buka puasa,” ujarnya sambil tertawa.
Bagi masyarakat Jawa, tradisi berebut gunungan memang bukan sekadar mencari makanan, melainkan ada unsur ngalap berkah atau mencari keberkahan. Apalagi sebelum diperebutkan, legomoro ini telah diberkati dengan doa ulama yang hadir.
Mendapatkan makanan dari prosesi adat seperti ini, apalagi di dalam sebuah mal modern, tentu menjadi pengalaman unik dan tak terduga bagi Disa. Apalagi, awalnya ia hanya berniat jalan-jalan sore.
“Dapat banyak, ini sih bisa dimakan sampai sahur,” imbuhnya, masih dengan tawa.
Pementasan wayang 20 jam nonstop di atap mal
Kemeriahan di lantai bawah ternyata baru satu bagian dari rangkaian acara. Pada hari sebelumnya, Rabu (4/3/2026), pemandangan agak lain juga terlihat di Roof Space Plaza Ambarrukmo yang berada di lantai paling atas.
Kalau datang ke area rooftop, kita bakal langsung disambut panggung wayang kulit yang megah. Ya, ada pementasan wayang kulit di lantai paling atas mal. Pementasan ini resmi dimulai pada Rabu (4/3/2026) pukul 14.00 WIB dan terus berlangsung tanpa henti sampai esok paginya, Kamis (5/3/2026) pukul 10.00 WIB. Artinya, 20 jam nonstop.
Lakon yang dibawakan berjudul “Jumenengan Ramawijaya”. Karena merayakan usia ke-20, mal ini menghadirkan 20 dalang dan 20 sinden yang tampil secara bergantian. Pementasan ini diklaim sebagai pertunjukan wayang kulit nonstop pertama di dalam mal modern di Indonesia, dan kembali mencetak Rekor MURI.
Selama ini, ada anggapan bahwa wayang kulit hanyalah tontonan kuno di lapangan desa. Namun, selama dua hari ini, Amplaz mematahkan stigma itu. Banyak anak muda yang tampak asyik duduk lesehan menonton wayang sambil menikmati camilan dari deretan penjual kuliner UMKM lokal yang sengaja dihadirkan di area tersebut.
Perpaduan modernitas dan tradisi di puncak dua dekade Plaza Ambarrukmo
Di sela-sela acara, saya berkesempatan berbincang dengan Rina Febriana, Assistant General Manager Plaza Ambarrukmo. Rina menjelaskan bahwa seluruh kemeriahan hari ini, mulai dari gunungan legomoro hingga pementasan wayang 20 jam nonstop, adalah puncak perayaan ulang tahun ke-20 mal tersebut.
Tahun ini, Amplaz mengusung tema “Swarnacitta”, yang bermakna perjalanan menuju masa keemasan. Namun, yang membuat saya benar-benar kagum adalah alasan di balik pemilihan konsep ini.
Menurut Rina, pihak manajemen sedang merajut sebuah misi besar: menciptakan titik temu yang harmonis antara gaya hidup urban mal yang serba modern dengan kelestarian budaya lokal Jawa.
Langkah ini terasa sangat pas dan esensial, mengingat bangunan megah bertingkat ini pada dasarnya berdiri tegak di atas lahan cagar budaya, serta terus memegang teguh identitasnya sebagai “Gateway of Java“.
“Kami sadar kami berdiri di lahan cagar budaya Jogja, tempat yang sakral. Jadi, meskipun mengedepankan modernitas, kami tidak bisa meninggalkan nilai-nilai tradisi di dalamnya,” kata Rina saat ditemui, Rabu (4/3/2026).
Melalui payung tema besar ini, tradisi yang usianya ratusan tahun dilebur secara mulus ke dalam lanskap mal masa kini. Tujuannya untuk mematahkan stigma bahwa kesenian seperti wayang kulit atau jajanan tradisional hanyalah tontonan milik generasi tua.
“Wayang kulit, misalnya, yang dulu lekat dengan stigma orang tua dan pagelarannya diadakan di lapangan-lapangan desa, kami bawa ke pusat modernitas di dalam mal,” tuturnya.
Dengan menyulap pusat perbelanjaan menjadi ruang perjumpaan budaya yang asyik dan relevan, mereka berharap anak-anak muda yang awalnya cuma berniat nongkrong atau berbelanja bisa kembali melirik, mengenal, dan pada akhirnya jatuh cinta dengan warisan luhur budayanya sendiri.
Memaknai usia dua dekade Plaza Ambarrukmo
Menjaga eksistensi mal selama dua dekade jelas bukan hal yang mudah. Rina menuturkan, sejak mulai dipasarkan pada 2004 hingga resmi dibuka pada 5 Maret 2006, ujian demi ujian datang tak terhindarkan. Misalnya, di awal masa operasionalnya, mereka diuji oleh gempa bumi besar Jogja tahun 2006. Ujian berat lainnya datang saat pandemi Covid-19, di mana pusat-pusat keramaian dipaksa lumpuh total.
“Nah, saat bencana datang atau mobilitas dibatasi itu manajemen harus memutar otak mencari jalan tengah. Tetap memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan, tapi tetap menjaga keamanan para pelaku bisnis, termasuk pegawai di dalamnya,” kata perempuan yang sudah 20 tahun bekerja di Plaza Ambarrukmo ini.
Perjalanan dua dekade Plaza Ambarrukmo mewariskan pesan penting tentang resiliensi dan kemampuan beradaptasi. Menghadapi krisis berat seperti gempa bumi dan pandemi, mal ini membuktikan bahwa strategi adaptif, seperti beralih ke sistem transaksi daring, adalah kunci utama untuk bertahan hidup.
Namun, seiring dengan adaptasi tersebut, kata Rina, perusahaan tidak boleh kehilangan esensinya, yaitu terus menjaga standar pelayanan paripurna (excellent service) karena bisnis ritel pada dasarnya berakar pada keramahtamahan (hospitality).
Selain itu, kesuksesan jangka panjang menuntut pembaruan yang tiada henti. Untuk menavigasi persaingan yang semakin ketat, penyegaran fasilitas secara berkala dan pembaruan kurasi penyewa yang mengikuti tren terbukti sangat krusial agar sebuah pusat perbelanjaan terus relevan.
Pesan paling mendalam dari perjalanan 20 tahun ini adalah pentingnya merawat akar identitas. Berdiri tegak di atas lahan cagar budaya dan membawa nama “Gateway of Java”, Plaza Ambarrukmo sukses membuktikan bahwa laju modernitas komersial tidak harus menyingkirkan kelestarian tradisi.
“Sebuah mal harus bisa bertransformasi menjadi wadah perjumpaan yang harmonis, sekaligus menjadi sarana asyik agar generasi muda masa kini tetap mengingat dan mencintai warisan budayanya sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sojourn: Alunan Laut Tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo, Beri Rasa Lega usai Menepi dari Rutinitas Melelahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan