“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

ilustrasi - Arga dan keluarganya dalam film "Tunggu Aku Sukses Nanti". (Mojok.co/Ega Fansuri)

Karakter Tante Yuli di film Tunggu Aku Sukses Nanti adalah villain kita di dunia nyata. Sosoknya muncul dalam setiap keluarga besar, meneror anak yang dianggap paling gagal.

***

Mari bertaruh, hampir di setiap keluarga, kita pasti punya setidaknya satu sosok seperti Tante Yuli. Di keluarga besar saya, misalnya, ada satu orang yang perannya persis seperti ini. Kalau kumpul Lebaran, mulutnya jadi mesin yang terus menanyakan kegagalan orang lain. 

Di lingkaran pertemanan saya, ceritanya bahkan lebih gila lagi. Ada teman yang sampai nekat memalsukan jadwal shift kerjanya setiap hari raya hanya demi menghindari ruang tamu dan interogasi tantenya. Kehadiran sosok “tante julid” ini sangat nyata, hidup berdampingan dengan kita, dan seolah tidak pernah kehabisan peluru untuk mencela.

Keresahan kolektif inilah yang membuat karakter Tante Yuli (diperankan dengan sangat apik oleh Sarah Sechan) dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti terasa begitu personal. Sejak awal film bergulir, sosoknya memang seolah langsung ditahbiskan sebagai villain alias penjahat utama. 

Jangankan menonton film utuhnya, dari cuplikan trailer-nya saja kita sudah bisa melihat betapa annoying-nya si tante ini. Ia tanpa henti mencaci, melempar sindiran tajam, bahkan mengolok-olok Arga tanpa ampun.

Melihat Arga (Ardit Erwandha) dihajar habis-habisan oleh omongan pedas sang tante di hadapan keluarga besar membuat saya merenung. Sebenarnya, apa sih yang ada di dalam kepala orang-orang seperti Tante Yuli ini? Kenapa mereka seakan mendapat dopamin kali melihat anggota keluarganya sendiri menderita?

Saya sendiri punya kebiasaan yang mungkin agak aneh: menonton film di bioskop lebih dari satu kali. Alasannya tidak melulu karena filmnya kelewat bagus, kadang murni karena penasaran saja. 

Misalnya, saya rela dua kali menonton Pengabdi Setan (2017) cuma demi mencatat berbagai easter egg yang dimunculkan. Atau, dua kali menonton The Batman (2022) atas alasan serupa, sambil mencari-cari teori untuk kemungkinan plot sekuelnya.

Nah, Tunggu Aku Sukses Nanti pun mendapat perlakuan yang sama. Bedanya, kali ini saya menonton dua kali murni karena ingin fokus mengamati Tante Yuli.

Setelah menonton pertama kali pada Rabu (25/3/2026) lalu, rasa penasaran yang bercampur kesal di dada saya belum juga tuntas. Akhirnya, saya memutuskan kembali ke bioskop untuk menonton kedua kalinya pada Minggu (5/4/2026) siang.

Terus menggeser standard demi mengamankan ego

Di salah satu momen dalam film, sutradara seolah memberikan harapan bahwa penderitaan Arga akan berakhir. Arga akhirnya mendapat pekerjaan mapan. Ia bahkan berhasil membelikan motor baru untuk ayahnya. 

Sebagai penonton, saya ikut bersorak dalam hati. Saya membayangkan Arga akhirnya bisa membungkam mulut Tante Yuli dengan pencapaiannya.

Namun, apa yang terjadi? Tante Yuli tetap merendahkannya. Motor hasil keringat Arga itu dikerdilkan dan dibandingkan dengan moge serta mobil mewah milik anak-anak si tante. Pekerjaan Arga tetap diremehkan dibanding sepupunya yang sudah menjadi manajer.

Di sinilah saya sadar, bagi orang seperti Tante Yuli, ini bukanlah tentang pencapaian kita, melainkan tentang ego mereka yang rapuh. Otak manusia terkadang punya mekanisme pertahanan yang menyebalkan bernama confirmation bias atau “bias konfirmasi”. Sederhananya, ini adalah kecenderungan otak untuk hanya memercayai hal yang sesuai dengan keyakinan awalnya.

Sejak awal, otak Tante Yuli sudah melabeli Arga sebagai “si pengangguran yang gagal”. Jadi, saat Arga terbukti sukses, ego Tante Yuli terancam. Untuk menenangkan otaknya yang menolak fakta tersebut, ia sengaja memindahkan “garis finis” standard kesuksesan ke level mobil mewah, misalnya. Tujuannya, ya, buat memastikan Arga tetap terlihat berada di bawah, sehingga keyakinan awalnya tidak runtuh.

Pola keras kepala semacam ini mengingatkan saya pada karakter Pak Domu (diperankan Arswendy Beningswara) dalam film Ngeri-Ngeri Sedap (2022). Otak Pak Domu sudah telanjur terprogram bahwa sukses bagi laki-laki Batak itu adalah lulusan hukum. Ketika anaknya, Gabe, justru sukses menjadi komedian dan masuk TV nasional, Pak Domu menolak bangga. 

Ia justru melabeli pekerjaan anaknya sebagai “badut”. Tante Yuli dan Pak Domu adalah contoh nyata bagaimana orang tua seringkali menggeser gawang kesuksesan hanya supaya anak atau keponakannya tetap terlihat gagal di mata mereka.

Dalam Tunggu Aku Sukses Nanti, anak dianggap sebagai trofi pajangan

Lebih jauh lagi, kelakuan Tante Yuli yang gemar memamerkan anaknya yang mau kerja ke luar negeri ini sebenarnya bukan fenomena baru. Kalau meminjam kacamata psikoanalis Heinz Kohut, kelakuan ini dikenal dengan istilah narcissistic extension, yakni sikap narsis yang diperluas.

Kohut menjelaskan, bahwa ada tipe orang tua yang tak lagi melihat anaknya sebagai manusia utuh yang mandiri, tetapi sekadar “perpanjangan ego” mereka sendiri. Karena Tante Yuli mungkin merasa hidup pribadinya biasa-biasa saja atau punya banyak kekurangan, ia menjadikan pencapaian anaknya sebagai “trofi” di momen Lebaran. 

Tante Yuli sedang lapar validasi, dan sayangnya, ia memakan harga diri Arga untuk menutupi rasa insecure-nya sendiri yang akut.

Coba ingat-ingat karakter Ibu Debby (Karina Suwandi) di film Imperfect (2019). Ibu Debby selalu memamerkan anak bungsunya, Lulu, di depan teman-teman arisannya karena Lulu cantik dan sukses. Di saat yang sama, ia terus merendahkan anak sulungnya, Rara, karena fisik Rara dianggap tidak sesuai standar.

Polanya sama persis dengan Tante Yuli. Keluarga dan anak-anak hanya digunakan sebagai etalase pameran untuk memuaskan narsisme orang tua di ruang publik.

Dalam Tunggu Aku Sukses Nanti, Tante Yuli punya kecenderungan “menikmati kesengsaraan orang lain”

Pertanyaan selanjutnya yang sering mampir di kepala saya: kenapa cecaran itu dilontarkan berulang kali, padahal Tante Yuli tahu korbannya sudah hancur?

Orang Jerman ternyata punya satu kosakata yang kejam tapi sangat akurat untuk kelakuan ini: Schadenfreude. Dalam literatur psikologi-emosi, istilah ini dipakai untuk membedah rasa puas, lega, atau senang yang muncul secara diam-diam saat kita melihat kesialan orang lain.

Realita ini sering saya temui di dunia nyata. Ada kerabat yang sorot matanya justru terlihat berbinar penuh semangat saat mendengar kita bercerita tentang susahnya mencari kerja atau lagi apes, misalnya. Nah, dalam film, melihat hidup Arga yang luntang-lantung memberi Tante Yuli ilusi bahwa hidupnya sendiri jauh lebih aman dan terkendali.

Karakter seperti ini juga sangat jelas digambarkan lewat sosok Bu Tejo (Siti Fauziah) dalam film pendek Tilik (2020). Saat berada di atas bak truk, Bu Tejo terlihat sangat berenergi dan “hidup” ketika mencari-cari celah keburukan Dian. 

Bu Tejo dan Tante Yuli adalah dua sisi koin yang sama. Mereka adalah tipe manusia yang butuh melihat orang lain terlihat buruk, cacat, atau gagal, supaya hidup mereka sendiri terasa benar dan sukses. Schadenfreude!

Berlindung di balik “Namanya juga orang tua”

Satu hal yang paling membuat saya geregetan—baik di film maupun di kehidupan nyata—adalah betapa kebalnya sosok-sosok toksik ini. Kenapa Tante Yuli tidak pernah diusir dari kumpul keluarga? Kenapa tidak ada om atau tante lain yang menyuruhnya diam?

Jawabannya cukup tragis: karena budaya kita tanpa sadar memelihara dan melindunginya.

Ini mengingatkan saya pada gagasan Robin Stern dalam bukunya, The Gaslight Effect. Stern membedah praktik manipulasi mental yang membuat korban meragukan dirinya sendiri. 

Orang-orang seperti Tante Yuli sangat pintar mengemas hinaan menjadi bentuk perhatian. Dalih klasiknya selalu sama: “Tante kan nanya gini karena sayang sama kamu”, atau “Namanya juga keluarga, masa gitu aja baper”.

Di budaya ketimuran kita yang sangat mendewakan hierarki umur, keponakan yang berani membalas omongan tante akan langsung dilabeli kualat, tidak sopan. Korban dipaksa menelan amarahnya, sementara sang pelaku berlindung nyaman di balik tameng “orang tua yang harus dihormati”. 

Inilah sebabnya ruang tamu Lebaran sering kali menjadi ajang gaslighting berjemaah. Arga pada akhirnya hanya bisa memblokir nomor WhatsApp atau ngedumel di kamar—sebuah realita pelarian yang saya yakin pernah kita lakukan semua.

Lagi-lagi, sinema kita merekam hal ini dengan baik. Di film Selesai (2021), karakter Ibu Mertua (Marini Soerjosoemarno) mewajarkan perselingkuhan anaknya dengan me-gaslight sang menantu lewat dalih budaya: “Namanya juga laki-laki, istri yang harus sabar”. Tokoh-tokoh ini memakai norma kesopanan dan hierarki keluarga sebagai senjata untuk membungkam korban.

(PERINGATAN: BAGIAN INI MENGANDUNG SPOILER FILM)

Jika film Tunggu Aku Sukses Nanti berhenti di situ, mungkin tulisan ini hanya akan berisi daftar kemarahan. Namun, di dua puluh persen bagian akhir film, sutradara melemparkan sebuah plot yang sukses membelah opini publik dan penonton di bioskop.

Tante Yuli dikisahkan meninggal dunia secara mendadak. Setelah kepergiannya, sebuah rahasia besar terungkap. Di balik mulutnya yang sepedas silet di meja makan, Tante Yuli ternyata diam-diam punya sisi perhatian. 

Film memperlihatkan bahwa almarhumah terus mengirimkan pesan WhatsApp berisi dukungan penyemangat kepada Arga (yang tentu saja tidak pernah terbaca karena nomornya diblokir). 

Lebih mengejutkan lagi, beberapa klien besar yang membuat karier Arga melesat ternyata adalah hasil campur tangan dan rekomendasi diam-diam dari Tante Yuli, tanpa sepengetahuan Arga sama sekali.

Pengungkapan ini memicu perdebatan sengit. Di satu sisi, banyak penonton yang mendadak luluh dan berbalik simpati. Mereka merasa bersalah karena telah membenci Tante Yuli. Bagi kubu ini, Tante Yuli dinilai sebagai orang baik yang punya love language yang buruk; seorang tsundere sejati yang tak tahu cara mengekspresikan kasih sayangnya dengan benar.

Namun, di sisi lain, ada kubu yang tetap menganggap Tante Yuli adalah karakter yang jahat. Kebaikannya dari belakang layar tidak serta-merta membenarkan kelakuan toksiknya di masa lalu.

Jika Anda bertanya di mana saya berdiri? Saya dengan tegas dan sadar menempatkan diri di kubu kedua.

Sebagai penonton dan orang awam yang hidup di dunia nyata, saya berpendapat bahwa niat baik yang dilakukan secara rahasia tidak akan pernah bisa menebus trauma akibat penghinaan yang dilakukan di depan publik. Tante Yuli mungkin membukakan jalan rezeki untuk Arga secara sembunyi-sembunyi, tetapi ia jugalah yang secara konsisten membantai harga diri Arga di ruang tamu, disaksikan oleh seluruh anggota keluarga.

Luka mental akibat dipermalukan di depan umum tidak bisa sembuh begitu saja hanya dengan melihat riwayat chat yang belum terkirim. Uang dan proyek dari klien tidak bisa membeli kembali kewarasan dan harga diri yang sudah telanjur hancur lebur diinjak-injak selama bertahun-tahun.

Lagi pula, kehidupan kita bukanlah naskah film layar lebar yang diatur oleh sutradara. Di dunia nyata, “sisi jahat” Tante Yuli-lah yang benar-benar kita hadapi secara langsung saat mengunyah opor di hari Lebaran. 

Sangat naif jika kita terus-terusan memaklumi kerabat yang merendahkan kita dengan dalih berserah diri, “Ah, mungkin diam-diam dia mendoakanku dari jauh.” Kenyataannya, kebanyakan tante toksik di dunia nyata memang murni toksik tanpa ada plot twist mencarikan kita pekerjaan di belakang layar.

Tunggu Aku Sukses Nanti memberikan kita tontonan yang sangat emosional tentang kerumitan hubungan keluarga. Namun, sebagai penonton, film ini mengajarkan saya satu hal yang jauh lebih penting: kita punya hak penuh untuk memutus rantai kebencian ini. Kita tidak perlu menunggu kerabat toksik kita meninggal dunia untuk menyadari bahwa validasi mereka tidaklah penting.

Dan, yang paling krusial, kelak ketika roda berputar dan giliran kita yang duduk di kursi barisan orang tua di ruang tamu Lebaran, pastikan mulut kita tidak mewarisi bisa beracun milik Tante Yuli.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: “Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version