Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal

Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal (dok. Istimewa)

Di balik suksesnya pagelaran wayang 20 jam nonstop di rooftop Plaza Ambarrukmo, penyelenggara harus melawan angin, hujan, dan isi 40 kepala manusia.

***

Jogja terasa sangat dingin pada Kamis (5/3/2026) dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, sisa gerimis dan kabut tipis masih menyelimuti Roof Space Plaza Ambarrukmo. Namun, di atas panggung, suasana justru sedang tegang.

Dalang muda Sutriswanto sedang memainkan lakon “Indrajit Lena”. Tangan dalang itu bergerak lincah dan cepat. Ia sedang menceritakan adegan peperangan sengit. Di kelir, tampak adegan gugurnya Indrajit, putra mahkota Kerajaan Alengka yang sangat sakti.

Indrajit, yang juga dikenal dengan nama Megananda, akhirnya tewas di tangan Laksmana, adik Prabu Rama. Adegan ini sangat dramatis, mengingat sebelumnya Indrajit sempat membuat Rama tak berdaya dengan senjata sakti bernama Nagapasa.

Waktu sahur pun tiba, seiring pagi yang mulai merayap. Menariknya, area penonton tidak kosong. Ada beberapa orang yang setia duduk dan menonton. Tiga di antaranya adalah anak-anak muda. Mereka bertahan menembus udara dingin demi menyaksikan pegalaran wayang tersebut.

wayang.MOJOK.CO
Potret gelaran wayang 20 jam nonstro di rooftop Plaza Ambarrukm, Kamis (5/3/2026) dinihari. (dok. Istimewa)

Acara ini sendiri merupakan perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Plaza Ambarrukmo. Dimulai sejak Rabu (4/3/2026) pukul 14.00 WIB, pementasan ini baru akan berakhir pada Kamis (5/3/2026) pukul 10.00 WIB. 

Pihak mal menghadirkan 20 dalang dan 20 sinden untuk membawakan 20 kisah wayang secara bergantian. Tujuannya satu: mencatatkan nama di Rekor MURI sebagai “Pagelaran Wayang Kulit secara Nonstop Terlama di Pusat Perbelanjaan”.

Sementara lakon “Indrajit Lena” yang dibawakan Sutriswanto dini hari itu adalah episode ke-14. Sebelumnya, penonton sudah disuguhi berbagai babak cerita. Misalnya, pada pukul 22.00 WIB ada lakon pembuka konflik berjudul “Sayembara Mantili”. Cerita terus bergulir ke episode “Rama Tundhung” dan “Shinta Ilang”. 

Rangkaian cerita ini nantinya akan ditutup tepat pukul 10.00 pagi dengan lakon pamungkas “Jumenengan Ramawijaya” yang dibawakan oleh dalang legendaris asal Klaten yang menetap di Jogja, Ki Cermo Gundolo.

Cerita wayang manifestasi kebijaksanaan

Mengapa “Jumenengan Ramawijaya” yang dipilih sebagai tema besar? Saya berkesempatan mengobrol langsung dengan Surya Setiawan, Project Director pagelaran ini. Kami bertemu pada Kamis (5/3/2026) sore, setelah acara sukses digelar dan rekor MURI resmi diraih.

Surya menjelaskan, “Jumenengan Ramawijaya” bercerita tentang pengangkatan atau penobatan Prabu Rama sebagai raja di Ayodya. Cerita wayang ini sarat akan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan karakter Rama sebagai titisan Dewa Wisnu. 

Namun, lebih dari itu, ada benang merah yang kuat antara kisah Rama dengan perjalanan Plaza Ambarrukmo yang kini genap berusia 20 tahun.

“Sebelum bertahta, Prabu Rama itu harus melewati masa pengasingan belasan tahun di hutan, kehilangan Shinta, hingga berperang habis-habisan melawan Rahwana. Perjalanan menuju puncak itu penuh rintangan,” jelas Surya, sore itu.

Tema “Jumenengan Ramawijaya” bercerita tentang pengangkatan atau penobatan Prabu Rama sebagai raja di Ayodya. Cerita wayang ini sarat akan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan karakter Rama sebagai titisan Dewa Wisnu. (dok. Istimewa)

Hal itu, kata Surya, menjadi cerminan perjalanan Plaza Ambarrukmo. Mal ini tidak tiba-tiba menjadi besar. Selama dua dekade, mereka harus melewati berbagai ujian berat. Mulai dari beroperasi di tengah masa pemulihan Gempa Jogja 2006, beradaptasi dengan gempuran belanja online, hingga bertahan dari hantaman pandemi Covid-19. 

“Lakon Jumenengan menjadi simbol perayaan kemenangan atas masa-masa sulit tersebut,” imbuhnya.

Selain itu, penobatan di Ayodya melambangkan terciptanya pusat kemakmuran. Di usia ke-20 yang ibarat manusia sudah masuk fase dewasa penuh ini, manajemen berharap Plaza Ambarrukmo bisa menjadi seperti Kerajaan Ayodya. Bukan lagi sekadar tempat orang lewat dan berbelanja, melainkan ekosistem matang yang menghidupi banyak orang, memajukan ekonomi lokal, dan menjadi titik temu yang nyaman bagi warga Jogja.

Tantangan pagelaran wayang di atas atap mal, harus melawan angin dan “mengakali” hujan

Namun, di balik cerita pewayangan yang sarat makna itu, Surya menyimpan banyak cerita soal beratnya proses di balik layar. Menggelar pertunjukan wayang selama 20 jam terus-menerus di atas atap gedung bertingkat membawa tantangan teknis yang sangat besar.

Tantangan pertama dan paling membuat Surya pusing adalah angin. Ini adalah pengalaman pertamanya menggelar wayang di tempat yang tinggi dengan hembusan angin yang kencang.

“Angin di atas gedung itu sangat berpengaruh pada dua hal: suara dan kelir,” kata Surya.

Kelir atau layar wayang bisa bergoyang kencang jika tertiup angin. Jika layar bergoyang, bayangan wayang tidak akan terlihat jelas. Selain itu, arah angin juga memengaruhi kualitas suara dari sound system. Jika penempatan pengeras suara salah, suaranya bisa terbawa angin dan terdengar pecah oleh penonton.

“Saya ini orangnya perfeksionis dan suka hal yang detail, kalau saya bilang suara sound-nya kurang bagus, ya harus diperbaiki. Makanya angin itu masalah terbesar buat sound,” jelasnya.

Angin dan hujan adalah tantangan utama dalam menggelar pentas wayang di atas gedung perbelanjaan. (dok. Istimewa)

Karena alasan itu, sehari sebelum panggung mulai dibangun, Surya mengambil keputusan besar. Ia merombak total letak panggung murni berdasarkan arah angin. Awalnya, panggung direncanakan menghadap ke barat. Namun, untuk menghindari angin yang bisa menerbangkan kelir, posisi panggung diubah menjadi menghadap utara dengan posisi agak serong.

“Saya hire orang-orang yang sudah berpengalaman dan ngerti soal sound gamelan, apalagi wayang. Bisa set sound di konser musik, belum tentu bisa setting sound gamelan buat wayang.”

Tantangan kedua adalah hujan. Bulan Maret di Jogja masih akrab dengan musim hujan. Surya memang sudah memasang atap panggung (rigging). Namun, angin kencang tetap bisa membawa air hujan masuk atau tampias ke area panggung.

“Ini sangat fatal. Wayang itu terbuat dari kulit. Kalau terkena air, wayang bisa rusak,” jelas Surya.

Untuk mengatasi ini, Surya menyiapkan rencana darurat. Ia meletakkan kantong plastik besar (trash bag) di dekat panggung. Ia juga memotong panjang batang pisang (debog) yang digunakan untuk menancapkan wayang. Tujuannya, jika tiba-tiba terjadi hujan badai atau force majeure, debog beserta wayang yang menancap bisa langsung digulung utuh dan dibungkus plastik dalam hitungan detik untuk diselamatkan.

Presisi waktu dan “memanajemen”40 kepala

Selain cuaca, manajemen waktu adalah kunci utama acara ini. Durasi 20 jam harus sangat akurat. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.

Untuk memastikan semua berjalan tepat waktu, Surya menugaskan dua orang khusus sebagai penghitung waktu (time keeper). Satu orang bertugas menghitung mundur total durasi 20 jam. Satu orang lagi bertugas menghitung mundur waktu tampil setiap dalang.

Untuk memastikan semua berjalan tepat waktu, Surya menugaskan dua orang khusus sebagai time keeper. (dok Istimewa)

Rata-rata, setiap dalang diberi jatah waktu 55 menit untuk mendalang dan 5 menit untuk masa transisi pergantian dalang berikutnya. Semuanya harus on time. Saking ketatnya aturan ini, Surya sampai meminta agar sebuah jam dinding berukuran besar dipasang di ruang kontrol agar semua kru bisa melihat waktu dengan jelas.

Feel-nya itu beda. Kalau saya itu punya perhitungan sendiri, makanya minta jam dinding di ruang kontrol,” kata dia.

Tantangan teknis selesai, Surya masih harus menghadapi tantangan manajemen manusia. Ia harus menyatukan 20 dalang dan 20 sinden. Mengatur 40 kepala dalam satu acara tentu bukan hal mudah. Apalagi, dalang yang dilibatkan berasal dari lintas generasi. 

Ada dalang anak-anak dan dalang muda yang terkadang masih menggebu-gebu, hingga dalang sepuh yang biasanya lebih tenang.

Pemilihan 20 dalang ini juga tidak sembarangan. Surya memilih mereka berdasarkan keahlian spesifik masing-masing. Dalam dunia pedalangan, ada beberapa kemampuan dasar, seperti sabetan (teknik gerakan atau peperangan), antawacana (dialog dan penguasaan suara tokoh), dramatikal (pembangunan suasana), suluk (nyanyian dalang), dan sanggit (kreativitas merangkai cerita).

Surya mencocokkan lakon dengan keahlian dalangnya. Contohnya, Sutriswanto dipilih untuk membawakan lakon “Indrajit Lena” karena ia sangat ahli dalam sabetan. Episode tersebut memang berisi banyak adegan perang yang butuh gerakan wayang yang cepat dan lincah.

Contoh lain, dalang Andhika Rahmanto dipilih untuk membawakan episode “Shinta Tundhung”. Andhika dikenal ahli dalam dramatikal. Ia pandai membolak-balikkan emosi penonton, mengubah suasana dari yang tadinya tenang menjadi sangat sedih atau tegang.

“Makanya, memilih dalang yang pas itu pun nggak sembarangan.”

Melalui gelaran wayang 20 jam nonstop, Plaza Ambarrukmo ingin mematahkan pandangan lama. Selama ini, wayang kulit sering dianggap sebagai tontonan orang tua yang hanya digelar di lapangan desa. Rina ingin mengubah stigma itu. (dok. Istimewa)

Untuk menyiapkan semua ini, Surya menghabiskan waktu selama satu bulan penuh. Ia harus menulis naskah lakon secara keseluruhan, memecahnya menjadi 20 episode yang saling nyambung, lalu mendiskusikannya satu per satu dengan para dalang dan sinden. Meski lelah, Surya mengaku sangat puas karena pagelaran berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Menyatukan tradisi dengan modernitas

Kesuksesan rekor MURI ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan juga pencapaian visi. Mengapa pihak mal bersikeras membawa pertunjukan wayang kulit yang sering dianggap “kuno” ke dalam pusat perbelanjaan yang serba modern?

Assistant General Manager Plaza Ambarrukmo, Rina Febriana, punya jawabannya. Saat saya temui pada Rabu (4/3/2026), Rina menjelaskan bahwa manajemen mal sedang menjalankan misi besar. Mereka ingin menciptakan titik temu yang pas antara gaya hidup masyarakat kota yang modern dengan pelestarian budaya lokal Jawa.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Bangunan Plaza Ambarrukmo berdiri di atas lahan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah kuat. Mal ini juga terus memegang identitasnya sebagai “Gateway of Java” atau Gerbang Jawa.

“Kami sadar kami berdiri di lahan cagar budaya Jogja, tempat yang sakral. Jadi, meskipun kami mengedepankan modernitas, kami tidak bisa meninggalkan nilai-nilai tradisi di dalamnya,” ungkap Rina.

Lewat acara seperti ini, manajemen ingin mematahkan pandangan lama. Selama ini, wayang kulit sering dianggap sebagai tontonan orang tua yang hanya digelar di lapangan desa. Rina ingin mengubah stigma itu.

“Wayang kulit yang dulu lekat dengan stigma orang tua dan pagelarannya diadakan di lapangan-lapangan desa, kini kami bawa ke pusat modernitas di dalam mal,” tambah Rina.

Dengan menyulap atap mal menjadi ruang budaya, pihak Plaza Ambarrukmo berharap ada perubahan kebiasaan. Anak-anak muda yang awalnya datang ke mal cuma untuk nongkrong, minum kopi, atau berbelanja, diharapkan bisa berhenti sejenak untuk menonton wayang. Dari sekadar melihat, perlahan mereka bisa mengenal, dan pada akhirnya jatuh cinta dengan warisan budayanya sendiri.

Melihat tiga anak muda yang masih bertahan menonton wayang di tengah dinginnya angin jam tiga pagi hari itu, sepertinya harapan Rina perlahan mulai menjadi kenyataan. Tradisi dan modernitas ternyata bisa duduk berdampingan, bahkan di atas atap mal sekalipun.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version