Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

KIP Kuliah.MOJOK.CO

Ilustrasi - KIP Kuliah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Mahasiswa yang pura-pura miskin demi mendapatkan KIP Kuliah memang benar adanya. Parahnya lagi, uang beasiswa habis bukan untuk kebutuhan kuliah. Ada yang buat beli barang mahal, nonton konser seharga jutaan, sampai buat nraktir teman agar diakui di tongkrongan.

***

Bagi sebagian mahasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN) Jogja, uang kuliah tunggal (UKT) golongan dua sebesar Rp1,2 juta mungkin dianggap angka yang sangat murah. Namun, bagi Rian (20), nominal itu adalah memberatkan.

Rian adalah mahasiswa perantau asal Jawa Timur yang mengadu nasib dengan kantong pas-pasan. Ayahnya adalah seorang buruh serabutan yang sempat menjadi korban PHK beberapa tahun lalu. 

“Bisa dibilang penghasilan orang tua itu hanya cukup buat makan sehari-hari. Nggak bersisa buat kuliah saya,” ujar Rian, Rabu (13/5/2026).

Miskin beneran tapi tak dapat KIP Kuliah

Di perantauan, Rian harus memutar otak setiap hari agar uang kiriman yang tidak seberapa itu bisa cukup untuk membayar kos, bensin, dan makan. Dengan kondisinya ini, ia sebenarnya masuk kriteria layak dibantu negara melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. 

Sayangnya, nasib berkata lain. Beasiswa tak dia dapatkan, pengajuannya pun selalu mental.

Rasa sesak di dada Rian bukan karena ia tidak bersyukur, tetapi karena apa yang ia saksikan setiap hari di kampusnya. Di kelas, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana beberapa teman seangkatannya yang secara kasat mata jauh lebih mampu, justru menikmati kucuran dana KIP Kuliah.

“Tambah nyesek itu kalau lihat teman yang HP-nya iPhone keluaran terbaru, laptopnya bagus, tapi statusnya penerima KIP Kuliah,” cerita Rian dengan nada getir. 

Kepahitannya memuncak saat mendengar beberapa temannya secara terang-terangan bercerita bahwa uang tunai dari beasiswa tersebut baru saja mereka pakai untuk belanja baju merek ternama, sepatu mahal, hingga liburan ke luar kota saat jeda semester. 

“Pernah ada yang terang-terangan bilang mau ke Bali pakai uang KIP. Apa nggak gila saya dengarnya?”

Di titik itu, Rian sadar bahwa keadilan seringkali hanya omon-omon.

Uang beasiswa dipakai buat dugem

Apa yang dialami Rian bukanlah kasus tunggal. Jika kita membuka aplikasi Threads atau X (Twitter), isu penyalahgunaan KIP Kuliah ini adalah “langganan” viral setiap tahun ajaran baru. 

Banyak mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia mengeluhkan fenomena mahasiswa yang berpura-pura miskin demi mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari negara.

Bahkan, sempat beredar sebuah unggahan penyalahgunaan KIP Kuliah untuk hal-hal di luar nalar. Uang negara yang seharusnya dipakai untuk membayar biaya pendidikan, malah lari ke meja-meja kelab malam untuk dugem.

Dari berbagai respons netizen, tak sedikit yang menyebut bahwa “oknum-oknum” ini tidak lagi menganggap KIP Kuliah sebagai bantuan, tetapi “uang jajan tambahan”. 

KIP Kuliah bukan bonus prestasi, tapi jaring pengaman

Sebagai seseorang yang sering menulis liputan mengenai dunia pendidikan, saya telah bertemu dengan banyak penerima KIP Kuliah yang memang benar-benar susah. Mereka adalah anak-anak yang makan sehari dua kali saja sudah syukur, atau mahasiswa yang tetap harus nyambi menjadi ojek online hingga dini hari demi menutupi biaya hidup.

KIP Kuliah bagi mereka adalah napas tambahan.

Baca juga:

(1) Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

(2) Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

(2) Kompleks Kos Karangmalang, Saksi Bisu Mahasiswa KIP Kuliah UGM-UNY Kelaparan dan Makan Sampah Gara-Gara Beasiswa Cairnya Molor

Namun, saya juga tidak bisa menutup mata terhadap praktik-praktik penyalahgunaan yang makin berani. Ada kesalahpahaman fatal di pikiran para oknum mahasiswa “hedon” ini. 

Mereka sering berargumen, “Kan saya berprestasi, wajar dong saya dapat beasiswa dan uangnya terserah mau saya pakai buat apa.”

Di sinilah logika mereka keliru. Sebagaimana disinggung dalam laman Kemenristekdikti, KIP Kuliah adalah jaring pengaman sosial atau bantuan sosial (bansos), bukan “bonus prestasi” seperti beasiswa dari perusahaan swasta. 

Sebagai bansos, dana ini diambil dari APBN, pajak rakyat yang kita bayar setiap hari. Dana ini ditujukan agar mahasiswa tidak putus kuliah karena kendala ekonomi.

Secara teknis, pemerintah membagi bantuan biaya hidup KIP Kuliah ke dalam lima klaster wilayah, mulai dari Rp800.000 hingga Rp1.400.000 per bulan. Artinya, dalam satu semester, seorang mahasiswa bisa memegang uang tunai sekitar Rp4,8 juta hingga Rp8,4 juta. 

Angka yang sangat besar bagi mereka yang benar-benar tidak mampu. Namun, seringkali dianggap sebagai “modal gaya hidup” oleh oknum yang menyalahgunakan KIP Kuliah.

Sakit hati uang beasiswa dipakai buat nonton konser sampai jutaan rupiah

Penyalahgunaan KIP Kuliah bukan sekadar soal gaya-gayaan. Bagi Rian sendiri, itu seperti sebuah permainan zero-sum. Artinya, ada pihak yang menang karena ada pihak lain yang dirugikan secara telak. 

Setiap tahun, pendaftar KIP Kuliah di seluruh Indonesia bisa mencapai hampir 1 juta orang. Namun, kuota yang disediakan pemerintah biasanya hanya berkisar 200 ribu mahasiswa baru.

Artinya, persaingannya adalah 1 berbanding 5. Setiap satu kuota yang disalahgunakan, di detik yang sama, ada satu masa depan anak miskin asli di luar sana yang sedang dibunuh. Rian adalah salah satu korbannya.

“Nggak sedikit dari oknum ini pakai uang beasiswa buat diakui ditongkrongan. Makanya buat beli iPhone lah, traktir teman di tongkrongan, bahkan ada yang buat ngonser di Jakarta sampai jutaan,” kata Rian.

Tak dapat KIP Kuliah sampai harus utang buat bayar UKT

Sementara Rian sendiri pernah mencoba mengajukan ulang beasiswa tersebut di semester ganjil, tapi gagal. Upayanya meminta penurunan golongan UKT pun selalu ditolak oleh pihak kampus dengan alasan administrasi.

Puncaknya terjadi pada satu semester yang lalu, ketika Rian nyaris tidak bisa membayar UKT Rp1,2 juta tersebut. Ia sudah pasrah dan berniat mengambil cuti kuliah karena tidak ingin menambah beban orang tuanya. 

Namun, ayahnya yang hanya buruh serabutan itu menolak keras. Ayah Rian akhirnya nekat mencari pinjaman ke sana-kemari dan berutang demi menyelamatkan studi anaknya.

“Di luar sana banyak mahasiswa pura-pura miskin demi dapat beasiswa. Sementara saya yang miskin beneran, malah nggak dapat.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah Banting Tulang Belajar sambil Kerja Pakai iPhone, Malah Dikira Flexing dan Nggak Cocok Hidup Layak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version