Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

ilustrasi - Budaya senioritas dan bullying di kampus (Ega Fansuri/Mojok.co)

Niat Gilang (26) saat didapuk menjadi ketua panitia malam keakraban (Makrab) di jurusannya saat masih kuliah dulu, sebenarnya sangat mulia. Ia dan teman-teman panitia sengaja menyusun rundown yang jauh dari kesan perploncoan. 

Isinya, kalau kata Gilang, hanya games seru, diskusi santai, dan agenda hiburan yang dirancang agar mahasiswa baru merasa nyaman.

“Kami kan dulu pernah maba juga, jadi paham gimana nggak enaknya diplonco,” kata lelaki yang kini bekerja sebagai guru ini, Senin (11/8/2026).

Namun, semua jadwal rapi yang sudah disusun berminggu-minggu itu hancur berantakan tepat di hari H. Penyebabnya adalah kedatangan rombongan “tamu tak diundang”.

Tamu ini adalah para alumni gaek dan kakak tingkat semester akhir yang merasa berstatus sebagai sesepuh organisasi. Menurut Gilang, kehadiran mereka tak hanya bikin suasana jadi tegang, tapi juga merepotkan urusan dapur.

Makrab isinya cuma senior yang minta diistimewakan, makan saja pilih-pilih

Gilang ingat betul, saat itu panitia dan peserta sudah sepakat makan katering seadanya sesuai bujet yang pas-pasan. Namun, rombongan senior ini datang dan minta diistimewakan. 

Mereka menuntut dibelikan makanan beda menu, dibikinkan kopi, sampai minta dibelikan rokok. Kalau panitia menolak, siap-siap saja dicap “nggak tahu cara menghargai senior”.

“Guilt trip-nya selalu begitu. Kalau menolak, selalu ngomong, ‘Kok berani-beraninya sih sama senior?’” ujar alumnus PTN Jogja ini.

Puncak kekesalan Gilang terjadi pada sesi malam puncak. Waktu yang seharusnya dipakai untuk sesi curhat intim antara maba dan panitia malah dibajak secara sepihak. Tiba-tiba, beberapa alumni mengambil alih mikrofon. 

Mereka nimbrung tak jelas, menceramahi maba ngalor-ngidul soal kerasnya senioritas di zaman mereka dulu.

“Maba yang tadinya udah mulai nyaman ngobrol santai, mendadak tegang lagi karena diceramahi orang yang bahkan belum pernah mereka temui di kelas. Suasana yang udah kita bangun susah payah hancur gitu aja cuma demi memuaskan ego mereka,” kenang Gilang.

Apa yang dialami Gilang itu sebenarnya pernah saya rasakan sendiri. Saat masih kuliah dulu, saya juga pernah terjebak menjadi panitia makrab di sebuah unit kegiatan mahasiswa. 

Saya masih ingat betul betapa menjengkelkannya melayani para “sesepuh” yang beberapa di antaranya memang menuntut buat diistimewakan.

Kating ndakik-ndakik, tapi hipokrit

Kalau para panitia saja suaranya sudah dipenuhi rasa muak, jangan tanya apa yang dirasakan oleh mahasiswa baru.

Kacaunya budaya makrab ini terekam jelas dalam ingatan Riki (25). Di tahun pertamanya kuliah dulu, ia punya semangat berorganisasi yang kelewat tinggi. 

Kepolosannya itu membawanya mendaftar di tiga organisasi dan UKM berbeda di jurusan dan fakultas. Konsekuensinya, dalam kurun waktu satu tahun saja, Riki harus mengikuti empat makrab yang berbeda.

Meski acara itu diadakan oleh organisasi yang beda-beda, Riki menemukan sebuah pola copy-paste yang menggelikan. Kalau kata dia, kesamaannya bukan cuma pada agenda jurit malam yang klise.

Siksaan utamanya justru ada pada kating-kating hipokrit dan forum diskusi yang dipaksakan.

Di empat makrab tersebut, Raka selalu dihadapkan pada senior yang tiba-tiba menjelma menjadi “filsuf dadakan”. Para maba dipaksa duduk melingkar sampai jam tiga pagi, menahan kantuk demi mendengarkan kating fafifu ndakik-ndakik soal peran mahasiswa, ideologi, dan sebagainya.

“Padahal, kalau didengarkan baik-baik, isi omongan para senior itu aslinya kosong. Muter-muter nggak jelas, cuma onani intelektual aja,” kata Riki.

Belum lagi kelakuan panitia yang sok menjadi komisi disiplin. Maba telat kumpul dua menit ke forum langsung dibentak habis-habisan, bahkan dipermalukan.

“Lucu aja ngingetnya. Kating yang sok bijak di forum, dan galak banget jadi komdis pas makrab, aslinya di kampus sering titip absen. Kelihatan banget hipokritnya.”

Bukan malah akrab, sekadar nyapa saja ogah

Bagi Riki, jargon bahwa makrab akan merekatkan hubungan angkatan adalah omong kosong terbesar di dunia kampus. Solidaritas sesama mahasiswa baru memang terbentuk, tapi bukan karena mereka menikmati acaranya. 

Menurutnya, mereka menjadi solid karena punya musuh bersama yang sangat menyebalkan, yakni para kating dan alumni hipokrit yang gila hormat.

Bukti paling nyata dari gagalnya budaya ini terlihat saat acara selesai dan semua kembali ke kampus. Alih-alih akrab, suasana di kampus malah jadi sangat canggung.

Riki dan teman-teman seangkatannya biasanya akan sengaja menghindari tempat-tempat yang biasa dipakai nongkrong oleh senior, saking malasnya ketemu. Boro-boro mau mau akrab, menyapa saja ogah.

“Kalau dipikir lagi makrab dulu itu cuma budaya gagah-gagahan para senior aja,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version