Mengandalkan ijazah kuliah untuk mencari pekerjaan saat ini sudah tidak semujarab dulu. Perusahaan tidak lagi silau dengan catatan akademik si pelamar kerja. Dunia industri kini lebih realistis: mencari mereka yang datang bukan hanya menyodorkan ijazah, tetapi menawarkan kompetensi yang relevan bagi posisi yang dibutuhkan.
***
Ketika mendatangi gelaran job fair di Jogja pada Juli 2026 lalu, Mojok berbincang dengan sejumlah lulusan perguruan tinggi. Beberapa di antaranya datang membawa map berisi ijazah dengan IPK sempurna.
Awalnya mereka mengira, IPK sempurna bisa langsung membuat para HRD perusahaan terpukau. Nyatanya tidak demikian. Puluhan lamaran yang dikirim ke berbagai perusahaan berakhir mengendap di email tanpa balasan.
Dalam keputusasaan, mereka mencoba mencari peruntungan dari event bursa kerja. Berharap ada satu saja lamaran kerja mereka nyantol di sebuah perusahaan, tidak sesuai jurusan tidak masalah.
Maka tidak heran, ketika Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) melaporkan 1 juta sarjana menjadi pengangguran, narasi kritis pun di antaranya menyasar perguruan tinggi (selain tentu saja menyasar persoalan struktur ekonomi Indonesia). Perguruan tinggi dinilai cenderung hanya banyak-banyakan lulusan, tetapi gagap menyiapkan mereka dengan keterampilan yang relevan dengan pasar kerja.
Fenomena ini bukan perkara sepele. Dengan 856.444 mahasiswa dan lebih dari 2 juta alumni, Universitas Terbuka (UT) menangkap fenomena tersebut sebagai tantangan nyata yang perlu direspons dan diatasi: tidak boleh sekadar pamer angka berapa banyak mahasiswa/lulusannya, tapi juga memikirkan bagaimana nasib mereka setelah lulus nanti.
Pusat perbekalan alumni Universitas Terbuka (UT) agar terserap kerja
Sejak akhir Januari 2026 lalu, UT meresmikan Unit Pemberdayaan Alumni, Sentra Karier dan Penempatan Kerja. Sebagaimana namanya, unit ini memang didesain agar bisa menjawab persoalan mismatch di dunia kerja yang menyebabkan jutaan lulusan perguruan tinggi menganggur.
Kepada Mojok, Erika Pradana Putri selaku Manajer unit tersebut mengamini bahwa kompetensi para lulusan perguruan tinggi saat ini tidak hanya dilihat dari nilai akademik. Tetapi juga aspek non-akademik berupa keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Karena itu, keberadaan unit ini diharapkan bisa menjadi perantara agar mahasiswa UT tidak kebingungan menentukan arah kariernya bahkan dari sebelum lulus kuliah. Sementara bagi alumni yang telah bekerja, ijazah dan bekal keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat daya tawar untuk mengembangkan karier, berpindah bidang, maupun meraih posisi yang lebih strategis.
“Memang ada alumni yang sudah bekerja. Tapi dengan ijazah UT dan bekal dari program-program Unit Pemberdayaan Alumni, Sentra Karier dan Penempatan Kerja, mereka bisa shifting career untuk mendapat pekerjaan dengan salary lebih baik atau promosi di posisi-posisi strategis,” beber Erika, Jumat (21/8/2026) siang.
Fitur pembuatan CV ATS-friendly, info loker, hingga career navigator
Persoalan karier dan bekal keterampilan memang harus diselesaikan dari hulunya: mengurai apa saja yang seharusnya dipersiapkan sebelum terjun ke dunia kerja. Maka dari itu, Unit Pemberdayaan Alumni, Sentra Karier dan Penempatan Kerja Universitas Terbuka menyediakan berbagai program yang bisa diakses secara online melalui laman Pusat Karier.
Erika menjelaskan, ada sejumlah fitur yang tersedia di laman tersebut. Pertama, fitur pembuatan CV yang ATS-friendly. Kenapa ini penting? Pasalnya, saat ini banyak HRD perusahaan yang sudah tidak lagi menggunakan sistem filter CV secara manual, melainkan sudah beralih ke Applicant Tracking System (ATS), yaitu sistem otomatis yang digunakan perusahaan untuk menyaring ribuan pelamar kerja secara otomatis.
Fitur kedua memuat informasi seputar lowongan kerja yang tersebar untuk berbagai wilayah sebaran kampus UT (dari Jawa hingga Sumatera). Bahkan tersedia pula informasi lowongan kerja dari luar negeri untuk membukakan jalan bagi alumni UT yang ingin berkarier di sana.
Kemudian ada pula fitur career navigator. Melalui fitur ini, terang Erika, mahasiswa UT bisa mengakses untuk berkonsultasi: Apa passion mereka dan kira-kira karier apa yang cocok untuk mereka jajaki? “Dari situ nanti akan diberikan rekomendasi-rekomendasi perihal pilihan karier, terus skill apa yang harus disiapkan dan diasah,” terang Erika.
Sebagai tindak lanjut dari career navigator, UT menyediakan career mentoring yang melibatkan praktisi dan alumni dengan kualifikasi tertentu. Mahasiswa bisa menjadwalkan pertemuan one on one dengan mentor untuk mendapat mentoring khusus seputar karier dan dunia kerja.
“Proses mentoring juga mencakup beberapa simulasi, seperti simulasi pertanyaan-pertanyaan saat interview dengan HRD. Pertanyaannya dibuat spesifik sesuai posisi yang akan dilamar,” papar Erika.
Daya tawar alumni Universitas Terbuka (UT) makin kuat di mata perusahaan
Lebih lanjut Erika bercerita, menurut temuannya, salah satu kompetensi yang diharapkan dunia industri saat ini adalah kompetensi di bidang literasi digital. Dalam konteks ini, lanjutnya, alumni UT sudah tidak dipandang sebelah mata. Mengingat, “Kampus Kuning” punya reputasi sebagai PTN yang lebih dulu mengembangkan sistem pembelajaran secara digital.
Sebelum adanya Unit Pemberdayaan Alumni, Sentra Karier dan Penempatan Kerja untuk mengoptimalisasi potensi setiap alumni UT, kata Erika, alumni UT yang sudah terserap di industri membuktikan punya reputasi positif di mata perusahaan.
“Sejumlah users (yang mempekerjakan alumni UT) bilang, yang menjadi unggulan dari alumni UT ya literasi digitalnya. Alumni UT juga disebut punya kemampuan menyelesaikan pekerjaan tanpa harus adaptasi lama atau dipandu terlalu detail, karena sudah terbiasa belajar secara mandiri,” ungkap Erika.
Dengan begitu, ketika UT kemudian mengembangkan Unit Pemberdayaan Alumni, Sentra Karier dan Penempatan Kerja, harapannya semakin memperkuat daya tawar para alumni dan memperbesar keterserapan kerja mereka. Tidak hanya sekadar kerja, tapi juga kerja layak di bidang yang benar-benar mereka minati.
Peluang kerja para alumni UT juga akan terus terbuka lebar. Sebab, kata Erika, unitnya saat ini juga tengah menjajaki kemitraan dengan sejumlah korporasi guna membuka jaring penempatan kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Tidak mau jadi penyumbang angka pengangguran terdidik
Apa yang UT lakukan menjadi langkah vital di tengah pola rekrutmen yang sudah berubah. Merujuk laporan Coursera dan Rep Data dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026, perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi.
Hasil survei menunjukkan 98% perusahaan di tujuh negara (Amerika Serikat, Inggris Raya, India, Arab Saudi, Meksiko, Indonesia, dan Filipina) telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skill based) untuk posisi entry level.
Khusus dalam konteks Indonesia, tercatat hampir 100% pemberi kerja yang disurvei menyatakan telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan. Sebanyak 97 persen mengaku menggunakan pendekatan tersebut secara luas untuk posisi entry level. Sebanyak 96% perusahaan di Indonesia bahkan menyatakan bahwa karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama.
Coursera pun mencatat, 67% pimpinan perguruan tinggi di Indonesia menilai kampus yang tidak mengintegrasikan micro credentials ke dalam program pendidikan menghadapi risiko strategis: menjadi penyumbang angka pengangguran terdidik. Universitas Terbuka, tegas Erika, tidak ingin menjadi salah satu penyumbang itu.
Di titik itulah Unit Pemberdayaan Alumni, Sentra Karier dan Penempatan Kerja mengambil peran. Dari membantu menyusun CV yang lebih ramah sistem rekrutmen, memetakan pilihan karier, mempertemukan mahasiswa dengan mentor, hingga membuka jejaring dengan perusahaan, UT berupaya memperpendek jarak antara pendidikan dan dunia kerja.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
.
