Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) membuat beberapa mahasiswa merasa “terkecoh”. Hingga terbentuk narasi: jangan terkecoh dengan tampilan luar mahasiswa di kampus berlabel agama tersebut, karena yang tampak di luar bisa jadi berbanding terbalik dengan sisi belakangnya.
***
Mayoritas mahasiswa yang kuliah di UIN berasal dari kalangan santri (lulusan pesantren). Itulah kenapa mahasiswa non-pesantren pasti merasa agak insecure di awal-awal masuk. Khususnya dalam konteks kedalaman pengetahuan soal ilmu-ilmu pesantren yang memang dikaji ulang di kampus.
Jangankan yang non-pesantren. Saya sendiri yang terbilang lama di pesantren, di awal-awal kuliah di UIN sempat merasa insecure kok. Lebih-lebih setelah tahu kalau teman-teman di jurusan saya kebanyakan berasal dari pesantren-pesantren ternama.
Tidak hanya insecure soal keagamaan, mahasiswa non-pesantren juga sudah memiliki asumsi dan ekspektasi: karena kebanyakan adalah alumni pesantren, mestinya tidak jauh-jauh dari kesan syar’i. Namun, setelah melewati tiga semester pertama, ternyata banyak hal yang mengecoh dari tampilan luar mahasiswa UIN, membuat kaget mahasiswa non-pesantren.
Organisasi mahasiswa berlabel Islam tapi “menyimpang”
Hal pertama yang memapar Garin (25) di awal-awal kuliah di UIN di Jawa Timur adalah sebuah organisasi mahasiswa ekstra dengan label Islam. Bagaimana tidak, organisasi mahasiswa ekstra tersebut memang sudah dominan sejak awal masa orientasi mahasiswa baru.
Garin pun kemudian mengikuti proses kaderisasi dan tergabung di organisasi tersebut. Karena jika dilihat dari luar, organisasi tersebut punya beberapa hal menarik.
Pertama, jelas karena dominasinya di kampus. Kedua, para senior organisasinya terlihat sangat progresif. Ketiga, label Islam dan riwayat pendiriannya membuatnya tertarik. Apalagi forum-forum diskusinya sering kali mengusung tema besar “Islam progresif”.
“Karena aku bukan alumni pesantren, sepertinya aku bisa lah mendalami intelektualitas Islam khas Universitas Islam Negeri lewat organisasi mahasiswa ekstra itu,” kata Garin, Rabu (6/5/2026).
Namun, setelah berkecimpung di dalamnya, Garin merasa terkecoh dengan label. Ternyata label sebatas label, bukan menjadi tanggung jawab nilai dan prinsip.
“Kagat ternyata walaupun di dalamnya alumni pesantren, bahkan pesantren besar, diskusinya transendental terus, tapi jauh dari moralitas Islam,” beber Garin.
“Ninggal salat, nggak puasa Ramadan, mabuk-mabukan, basic sih memang. Tapi aku merasa terkecoh. Ekspektasiku organisasi ini ya ekosistemnya benar-benar Islam progresif, bukan Islam label,” sambungnya.
Hal-hal basic itu masih belum seberapa membuat Garin merasa kaget. Yang lebih mengagetkan menurutnya adalah: ternyata lawan jenis di dalamnya bisa tanpa batasan.
Lulusan pesantren yang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) justru lebih liar
Benar-benar liar dan vulgar. Begitu gambaran tanpa batasan yang Garin dapati dari sejumlah temannya di organisasi Islam tersebut.
Bercandaan mereka (khususnya laki-laki), kata Garin, benar-benar sangat seksis. Paling tidak tahan jika melihat lawan jenis. Tidak melulu yang berpakaian ketat, yang berpakaian syar’i tetap bisa menjadi fantasi.
“Kata mereka sih bercandaan seperti itu dulu biasa di pesantren. Tapi aku sebagai orang non-pesantren kan kaget. Kukira mereka nggak bakal sevulgar itu,” ucap Garin.
Tapi hasrat seksual sejumlah teman Garin yang alumni pesantren ternyata memang jauh lebih liar. Mereka berani terang-terangan bercerita pengalaman mereka menginap dengan pacar mereka sesama mahasiswa UIN.
Katanya, itu adalah bentuk pelampiasan kebebasan setelah bertahun-tahun terkurung dan terkekang di pesantren. Sementara dalam kepala Garin, ia mengira kekangan aturan pesantren yang ketat bakal membuat seseorang bakal terbiasa mengontrol hasrat, termasuk hasrat seksual.
“Menjelang lulus, aku tahu ternyata ada mahasiswi UIN yang, mohon maaf, diistilahkan sebagai ayam kampus. Open BO lah. Peredaran narkoba di kalangan mahasiswa juga ada,” kata Garin.
Budaya kultus yang mengagetkan
Kekagetan yang sama juga diungkapkan oleh Pita (24), bukan nama asli, yang pernah kuliah di salah satu UIN di Jawa Timur. Sama seperti Garin, ia bukan lulusan pesantren. Itulah kenapa ia merasa agak kaget ketika mendapati betapa budaya kultus sangat kuat di UIN tempatnya kuliah.
Awalnya ia membayangkan, sebagaimana laiknya lingkungan akademik, ekosistem yang terbangun di UIN juga merupakan budaya akademik.
“Aku pernah berurusan dengan seorang oknum dosen yang bergelar Bu Nyai. Dia itu benar-benar pengin disucikan. Aku pernah beda argumen dengannya di kelas. Karena menurutku terlalu jumud,” beber Pita.
Hasilnya, dosen Bu Nyai tersebut justru mengutuk Pita. Landasannya, menurut ajaran pesantren yang ia yakini, seorang santri/siswa tidak boleh beda pendapat atau berargumen dengan bu nyai atau kiai. Kalau berani, ancamannya adalah ilmu dan hidup bakal tidak barokah.
“Aku dikutuk seperti itu, ilmu dan hidupku nggak akan barokah. Aku kaget lah. Maksudku, silakan kalau di pesantren begitu, tapi ini di kampus. kalau model begitu ekosistem akademik dan kritisnya nggak terbentuk,” keluh Pita.
Dosen cabul dan manipulatif berkeliaran di Universitas Islam Negeri (UIN)
Kecohan paling mengerikan dari sudut pandang Pita adalah: di UIN ternyata ada saja dosen-dosen cabul. Bikin kaget karena merupakan dosen berumur dan mengampu mata kuliah berkaitan dengan hukum dan moralitas Islam. Artinya, seharusnya lebih tahu soal hukum Islam dong.
Sialnya, jarang ada teman perempuan yang benar-benar langsung menyadari. Padahal tanda-tandanya sudah sangat mudah dibaca.
“Misalnya, jokes-nya seksis di kelas. Cenderung lebih akrab dan genit ke mahasiswi. Suka chat pribadi ke mahasiswi. Aku salah satu yang pernah di-chat, ya genit aja chat-nya, misalnya manggil, ‘Cah ayu’, ‘Cantik, gitu-gitu lah,” ujar Pita.
“Manipulatif juga sih. Aku inget dulu dapat dosen pembimbing dosen tua cabul. Dibujuk lah aku buat bimbingan di rumahnya. Tapi aku nolak, karena aku tahu itu modus,” imbuhnya.
Kenapa Pita tahu itu modus. Sebab, sudah terlalu banyak kasus dosen pembimbing mengajak bimbingan di luar kampus ke mahasiswi. Ujung-ujungnya adalah pelecehan.
“Masalahnya, karena kultur kultus yang masih kental, susah melapor ke pihak dekanat atau rektorat. Jatuhnya malah kita yang dianggap fitnah. Wong aku juga pernah dengar kasus di fakultas lain, ada mahasiswa hafiz Qur’an melecehkan secara verbal dan visual ke seorang mahasiswi, pas dilaporkan, pelaku malah dilindungi karena alasan prestasi (sebagai hafiz),” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung Tersesat karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
