ADVERTISEMENT

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Ijazah tidak terpakai, malah jadi sopir hingga bikin orang tua merasa kecewa

Sejak kuliah, Wardana memang suka melakukan perjalanan. Waktu kuliah konteksnya adalah traveling. 

Ia merasa lebih hidup dan utuh menjadi diri sendiri memang ketika dalam perjalanan jauh ke kota-kota lain. Salah satunya karena ia menemukan suasana baru dan orang-orang baru. 

“Selama ini kan aku hidup dalam paksaan dan tekanan ekspektasi orang tua. Aku ini ya ibarat echo (pantulan) dari keinginan orang tua, bukan diriku sendiri. Perjalanan membuatku merasa bebas,” kata Wardana. 

Awalnya Wardana memang hendak menuruti keinginan sang ibu agar ia kerja swasta dulu sebelum akhirnya menjadi PNS. Namun, setelah merenung, Wardana merasa: hidup cuma sekali, masa tidak bisa seutuhnya menjadi diri sendiri? 

Kuliah—meskipun di jurusan paling dicari di sebuah PTN Semarang—karena paksaan saja membuat Wardana menjalaninya tanpa gairah. Maka ia tidak bisa membayangkan kalau nanti ia kerja karena paksaan juga. 

Alhasil, Wardana memutuskan bebas. Ia memilih menjadi sopir truk logistik Jawa-Bali (awalnya hanya kernet, kemudian beralih menjadi sopir). Tentu saja pilihan itu membuat orang tuanya kecewa. Terutama sang ibu.

“Kalau ayah cenderung ya sudahlah. Tapi kalau ibu itu sejak awal memang nentang. Masa lulusan Teknik Sipil dari PTN cuma jadi sopir,” beber Wardana. 

Hanya saja, sang ibu akhirnya menyerah karena Wardana memang keukeuh menjadi sopir. Akhirnya sang ibu hanya bisa memendam rasa kesal dan kecewanya. 

Diremehkan, tapi temukan kebahagiaan

Di antara risiko yang paling pertama menyasar Wardana dan orang tuanya adalah “diremehkan”. Terutama oleh saudara dan tetangga: kuliah mahal-mahal di jurusan paling dicari tapi ujung-ujungnya cuma jadi sopir truk. Sementara Wardana berangkat dari keluarga PNS. 

Ibu Wardana pun beberapa kali selalu bertanya ke Wardana: kapan akan berhenti dari sopir? 

“Tapi aku pastikan, gajiku layak. Dan aku bahagia menjalani profesi tersebut,” kata Wardana. 

Lambat-laun orang tua Wardana malah memaklumi pilihan Wardana. Menyayangkan, sih, masih. Tapi seiring waktu mencoba lebih memahami. 

Sebab, Wardana memang tampak lebih bahagia. Toh hasil dari menjadi sopir itu nyatanya bisa Wardana gunakan untuk hidup. Setelah menikah dan punya anak pun bisa mencukupi kebutuhan keluarga. 

“Minusnya kan memang nggak punya jaminan hari tua seperti PNS. Tapi aku lagi ngumpulin modal, nanti bakal buka travel. Itu jaminan hari tuaku. Masa tua nunggu setoran, amin lah,” tutup Wardana. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.