ADVERTISEMENT

Kuliah sambil Kerja Jadi Badut usai Ayah Tiada dan Ditolak Beasiswa, Hakim Akhirnya Raih Sarjana di UIN Bandung

Foto dengan Perkumpulan Badut Jawa Barat (PBJB) 1. MOJOK.CO

Muhammad Hakim (25) tampil percaya diri saat merayakan wisuda UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung ke-109 dengan riasan badut di wajah. Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) itu tampak santai, sebab dari pekerjaan itulah dia bisa meraih gelar sarjana di UIN SGD Bandung

***

Beberapa jam setelah meraih gelar sarjana di UIN SGD Bandung pada Sabtu (12/9/2026), Hakim membuka tas berisi kosmetik pribadinya yang ia gunakan sehari-hari untuk bekerja. Di pelataran Aula Anwar Musaddad, Hakim tak segan merias wajahnya sendiri.

Kemampuan Hakim saat merias wajah menjadi badut bersamaan dengan pakaian toga yang dikenakannya mendadak viral di media sosial. Sebagian orang kagum dengannya karena tak malu menjalani profesi tersebut.

Bahkan di momen wisudanya itu, Hakim turut mengajak teman seprofesinya yang tergabung dalam Perkumpulan Badut Jawa Barat (PBJB). Di sana, ketiga orang temannya serta satu adik tingkatnya yang mengenakan kostum badut berkarakter kartun, ikut merayakan momen keberhasilan Hakim meraih gelar sarjana di UIN SGD Bandung.

Gelar ini, kata Hakim, merupakan hadiah untuk almarhum sang ayah, ibu, saudara-saudaranya, serta teman-teman seperjuangan yang telah mendukungnya. Di momen wisudanya itu, Hakim ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak, selama seseorang memiliki kemauan untuk terus berjuang.

Jadi badut untuk raih gelar sarjana di UIN SGD Bandung

Perjalanan Hakim kuliah di UIN SGD Bandung sambil bekerja sebagai badut terjadi saat dirinya masih semester 3. Tepatnya, ketika sang ayah meninggal pada tahun 2021. Laki-laki asal Cirebon itu sempat mendaftar beasiswa KIP Kuliah untuk melanjutkan studinya, tapi gagal.

Hakim berfoto dengan Perkumpulan Badut Jawa Barat. (sumber: dok.istimewa)

Di tengah kebingungan mencari biaya tambahan untuk kebutuhan hidup, Hakim bertemu dengan PBJB. Menurutnya, Hakim punya kemampuan cukup untuk menghibur anak-anak. Oleh karena itu, ia langsung diterima dan bekerja sebagai badut guna meraih gelar sarjana di UIN SGD Bandung.

Profesi itu pun dijalankan Hakim selama 5 tahun. Hakim mengaku, menjadi badut membawanya pada proses pulih yang sesungguhnya alih-alih hanya mendapatkan penghasilan untuk biaya kuliah. Dari profesi itulah dia juga menemukan pengalaman dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, hingga berhasil meraih gelar sarjana di UIN SGD Bandung.

Ia mengaku tidak pernah mendapat perlakuan yang merendahkan karena pekerjaannya. Bahkan, profesinya justru beberapa kali membawanya berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa di UIN SGD Bandung dalam kegiatan sosial untuk menghibur anak-anak.

‎“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada yang meremehkan. Bahkan banyak sekali teman-teman juga mengapresiasi dengan adanya Kak Hakim menjadi seorang badut ulang tahun. Bahkan teman-teman juga di beberapa himpunan mahasiswa (HMJ) UIN SGD Bandung berkolaborasi ketika ada acara santunan atau acara sosial,” tutur Hakim dikutip dari laman resmi UIN SGD Bandung, Selasa (22/9/2026).

Mampu raih gelar sarjana di tengah keterbatasan 

Muhammad Hakim berfoto dengan keluarganya usai lulus sebagai sarjana UIN SGD Bandung. (sumber: dok.istimewa)

‎Karena itulah, riasan badut yang dikenakan Hakim saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda. Hakim sengaja membawa identitas profesinya ke momen bahagia tersebut sebagai bentuk rasa syukur, sekaligus cara berbagi kebahagiaan bersama teman-teman yang selama ini menjadi bagian dari perjuangannya. 

Riasan itu pun digunakan setelah prosesi wisuda selesai, bukan ketika mengikuti acara seremonial di dalam gedung.

‎“Aku ingin berbagi kebahagiaan bersama teman-teman perjuanganku. Meskipun di hari bahagianya Hakim, Hakim juga ingin membahagiakan orang lain dengan cara bagi-bagi snack dan kartu ucapan selamat wisuda,” kata sarjana UIN SGD Bandung tersebut.

‎Lebih dari sekadar aksi berbagi, Hakim ingin penampilannya menyampaikan pesan kepada siapa pun yang melihatnya bahwa pendidikan dan cita-cita bukan sesuatu yang mustahil diraih.

‎‎“Aku ingin menyampaikan bahwa tidak ada kata terlambat, tidak ada kata mustahil. Siapa yang berjuang, siapa yang ada kemauan, pasti bisa,” tuturnya.

‎Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana di UIN SGD Bandung, Hakim memiliki harapan untuk melanjutkan perjalanan dengan pengalaman baru, termasuk mencoba mengikuti seleksi CPNS.

Meski begitu, Hakim tidak ingin meninggalkan profesi yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Baginya, menjadi badut bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan salah satu bagian dari perjuangan yang mengantarkannya hingga berhasil meraih gelar sarjana di UIN SGD Bandung

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version