Sempat belajar di rumah sakit dan kehilangan ayah jelang ujian, Rani bangkit dan berhasil lolos kuliah gratis dengan beasiswa UKT 100 persen di UGM.
***
Rumah sakit pada umumnya bukanlah tempat yang nyaman untuk belajar. Namun, bagi Francisca Rani Indira, seorang gadis berusia 18 tahun, bangsal perawatan medis justru menjadi saksi bisu perjuangan kerasnya menembus perguruan tinggi negeri.
Menjelang pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Rani terpaksa harus membawa buku-buku pelajaran tebalnya ke rumah sakit.
Fokus belajarnya saat itu terbagi menjadi dua hal yang sama-sama menyita perhatian. Di satu sisi, ia harus memeras otak mengerjakan soal-soal latihan masuk kuliah. Di sisi lain, hati dan pikirannya terus tertuju pada sang ayah yang sedang terbaring lemah karena sakit.
“Waktu itu bapak dirawat di rumah sakit, jadi buat belajar juga susah fokus. Setelah nggak keterima SNBT, aku langsung belajar lagi buat UM UGM,” ujarnya, dikutip Kamis (23/7/2026).
Menjaga konsentrasi di tengah suara alat medis dan rasa cemas sebagai seorang anak tentu sangat menguras tenaga dan emosi. Namun, Rani tetap berusaha sekuat tenaga agar siap menghadapi ujian.
Tak lolos SNBT, ditambah duka kehilangan ayah
Sayangnya, hasil pengumuman SNBT tidak berjalan sesuai dengan harapan. Rani dinyatakan belum lolos. Belum sempat ia menata rasa sedih dan kecewanya, cobaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan datang menghampiri keluarganya.
Sang ayah yang selama ini ia temani di rumah sakit akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Kehilangan sosok ayah menjadi pukulan telak yang menghancurkan hati Rani. Ayahnya bukan sekadar orang tua biasa. Ia adalah sosok pendukung utama yang paling dekat dengannya.
Ayahnya lah yang selalu mengantarnya berangkat ke sekolah setiap pagi, setia menemani saat mengambil rapor, dan tidak pernah bosan menyemangatinya untuk rajin belajar.
Ngebut belajar selama 11 hari, mengerjakan 100-200 soal per hari
Di tengah rasa duka yang masih sangat membekas, waktu terus berjalan. Jadwal Ujian Mandiri UGM (UM UGM CBT) sudah ada di depan mata. Hanya tersisa waktu sebelas hari sebelum ujian tersebut dilaksanakan.
Di titik inilah, Rani memutuskan untuk segera bangkit. Ia menjadikan mimpi mendiang ayahnya sebagai alasan terkuat untuk terus melangkah. Sejak lama, ayahnya memang sangat ingin melihat putrinya memakai almamater UGM.
Demi mewujudkan keinginan tersebut, Rani mengejar ketertinggalan. Ia menjadikan Perpustakaan Daerah sebagai tempat untuk menyepi dan memusatkan pikiran.
“Selama sekitar 11 hari aku mengerjakan 100 sampai 200 soal setiap hari,” kenangnya.
Rasa sedih karena kehilangan ayah perlahan ia ubah menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.

Kuliah gratis, UGM memberi subdisi UKT full 100 persen
Segala keringat, kelelahan, dan waktu tidur yang terpotong itu akhirnya terbayar lunas. Saat hari pengumuman ujian mandiri tiba, nama Rani tercantum sebagai mahasiswa baru di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM.
Tangis haru pun pecah. Keberhasilan ini menjadi kado persembahan terindah yang bisa ia berikan untuk almarhum ayahnya.
Di balik rasa syukur itu, ibunda Rani, Yuani (48), sempat merasa khawatir memikirkan biaya kuliah. Sejak kepergian suaminya, Yuani harus berjuang sebagai orang tua tunggal. Ia hanya bekerja sebagai buruh harian di sebuah rumah produksi keripik tempe di Kabupaten Bantul, dengan penghasilan yang pas-pasan.
Beruntung, kecemasan itu tak berlangsung lama. Pihak kampus memberikan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen. Itu berarti, Rani berhak menempuh pendidikan di UGM secara gratis tanpa membebani ibunya sama sekali.
Pencapaian Rani menembus ketatnya seleksi kampus sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Saat masih duduk di bangku SMAN 2 Bantul, ia sudah dikenal sebagai siswi yang gemar beraktivitas.
Sejak kelas 10, ia bergabung dalam tim riset sekolahnya dan pernah terjun langsung meneliti kehidupan para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Tidak berhenti di situ, ia juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR), aktif mengurus perpustakaan melalui organisasi Prapanca Muda, dan rutin terlibat dalam berbagai kegiatan kerohanian di lingkungan sekolahnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
Sumber: ugm.ac.id
BACA JUGA: Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














