Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Juli 2026
A A
Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO

Ilustrasi - Perjuangan masuk UGM (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sempat belajar di rumah sakit dan kehilangan ayah jelang ujian, Rani bangkit dan berhasil lolos kuliah gratis dengan beasiswa UKT 100 persen di UGM.

***

Iklan

Rumah sakit pada umumnya bukanlah tempat yang nyaman untuk belajar. Namun, bagi Francisca Rani Indira, seorang gadis berusia 18 tahun, bangsal perawatan medis justru menjadi saksi bisu perjuangan kerasnya menembus perguruan tinggi negeri. 

Menjelang pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Rani terpaksa harus membawa buku-buku pelajaran tebalnya ke rumah sakit.

Fokus belajarnya saat itu terbagi menjadi dua hal yang sama-sama menyita perhatian. Di satu sisi, ia harus memeras otak mengerjakan soal-soal latihan masuk kuliah. Di sisi lain, hati dan pikirannya terus tertuju pada sang ayah yang sedang terbaring lemah karena sakit. 

“Waktu itu bapak dirawat di rumah sakit, jadi buat belajar juga susah fokus. Setelah nggak keterima SNBT, aku langsung belajar lagi buat UM UGM,” ujarnya, dikutip Kamis (23/7/2026).

Menjaga konsentrasi di tengah suara alat medis dan rasa cemas sebagai seorang anak tentu sangat menguras tenaga dan emosi. Namun, Rani tetap berusaha sekuat tenaga agar siap menghadapi ujian.

Tak lolos SNBT, ditambah duka kehilangan ayah

Sayangnya, hasil pengumuman SNBT tidak berjalan sesuai dengan harapan. Rani dinyatakan belum lolos. Belum sempat ia menata rasa sedih dan kecewanya, cobaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan datang menghampiri keluarganya. 

Sang ayah yang selama ini ia temani di rumah sakit akhirnya mengembuskan napas terakhir.

cerita perjuangan lolos UGM.MOJOK.CO
Potret Rani (kanan) bersama Ibunya. Rani berhasil lolos UGM meskipun sempat dirundung duka karena kehilangan sang ayah menjelang tes SNBT. (dok. UGM)

Kehilangan sosok ayah menjadi pukulan telak yang menghancurkan hati Rani. Ayahnya bukan sekadar orang tua biasa. Ia adalah sosok pendukung utama yang paling dekat dengannya. 

Ayahnya lah yang selalu mengantarnya berangkat ke sekolah setiap pagi, setia menemani saat mengambil rapor, dan tidak pernah bosan menyemangatinya untuk rajin belajar.

Ngebut belajar selama 11 hari, mengerjakan 100-200 soal per hari

Di tengah rasa duka yang masih sangat membekas, waktu terus berjalan. Jadwal Ujian Mandiri UGM (UM UGM CBT) sudah ada di depan mata. Hanya tersisa waktu sebelas hari sebelum ujian tersebut dilaksanakan. 

Di titik inilah, Rani memutuskan untuk segera bangkit. Ia menjadikan mimpi mendiang ayahnya sebagai alasan terkuat untuk terus melangkah. Sejak lama, ayahnya memang sangat ingin melihat putrinya memakai almamater UGM.

Demi mewujudkan keinginan tersebut, Rani mengejar ketertinggalan. Ia menjadikan Perpustakaan Daerah sebagai tempat untuk menyepi dan memusatkan pikiran.

Iklan

“Selama sekitar 11 hari aku mengerjakan 100 sampai 200 soal setiap hari,” kenangnya.

Rasa sedih karena kehilangan ayah perlahan ia ubah menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.

Perjuangan lolos UGM.MOJOK.co
Selama 11 hari, Rani belajar dengan ngebut demi persiapan UM CBT. Tiap hari, ia mengerjakan 100-200 soal. (dok. UGM)

Kuliah gratis, UGM memberi subdisi UKT full 100 persen

Segala keringat, kelelahan, dan waktu tidur yang terpotong itu akhirnya terbayar lunas. Saat hari pengumuman ujian mandiri tiba, nama Rani tercantum sebagai mahasiswa baru di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. 

Tangis haru pun pecah. Keberhasilan ini menjadi kado persembahan terindah yang bisa ia berikan untuk almarhum ayahnya.

Di balik rasa syukur itu, ibunda Rani, Yuani (48), sempat merasa khawatir memikirkan biaya kuliah. Sejak kepergian suaminya, Yuani harus berjuang sebagai orang tua tunggal. Ia hanya bekerja sebagai buruh harian di sebuah rumah produksi keripik tempe di Kabupaten Bantul, dengan penghasilan yang pas-pasan. 

Beruntung, kecemasan itu tak berlangsung lama. Pihak kampus memberikan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen. Itu berarti, Rani berhak menempuh pendidikan di UGM secara gratis tanpa membebani ibunya sama sekali.

Pencapaian Rani menembus ketatnya seleksi kampus sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Saat masih duduk di bangku SMAN 2 Bantul, ia sudah dikenal sebagai siswi yang gemar beraktivitas. 

Sejak kelas 10, ia bergabung dalam tim riset sekolahnya dan pernah terjun langsung meneliti kehidupan para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. 

Tidak berhenti di situ, ia juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR), aktif mengurus perpustakaan melalui organisasi Prapanca Muda, dan rutin terlibat dalam berbagai kegiatan kerohanian di lingkungan sekolahnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Sumber: ugm.ac.id

BACA JUGA: Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: beasiswa ugmBeasiswa UKT UGMCBTFISIPOL UGMJalur mandiri UM UGMKisah mahasiswa baru UGMKuliah gratis UGMkuliah ugmSNBTUGMUM UGM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
kuis rempah rempah
Kabar

Merawat Muruah Rempah Nusantara lewat Riset Genetika

2 Juli 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO
Kabar

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.