Ada anggapan masuk Teknik Kimia UGM berarti seseorang sudah jago matematika, kimia, dan segala macam hitung-hitungan. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, bagi Dianisa (19), anggapan tersebut justru menjadi salah satu bagian paling melelahkan dari kehidupan kuliahnya.
***
Mahasiswi yang biasa dipanggil Nisa atau Dian itu kini duduk di semester tiga Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia bercerita melalui WhatsApp pada Selasa (29/9/2026) tentang kehidupan kuliah yang menurutnya jauh lebih berat daripada bayangannya sebelum menjadi mahasiswa.
“Sebenarnya beban berat kuliah di Teknik Kimia UGM, Mas. Karena jelas kami dipandang keren. Padahal bebannya sangat berat,” kata Nisa.
Masuk UGM adalah kebanggaan, namun juga beban berat yang harus dipikul
Nisa masuk Teknik Kimia karena merasa punya kemampuan hitung-hitungan yang cukup kuat. Ia juga merupakan lulusan SMA Negeri 2 Yogyakarta yang menurutnya membuat ia cukup percaya diri menghadapi perkuliahan di UGM.
Namun, ekspektasi itu runtuh setelah ia menjalani kuliah. Salah satu masalah yang ia rasakan adalah sistem penilaian di sejumlah mata kuliah. Ia mencontohkan mata kuliah Penggerak Mula yang menurutnya memiliki bobot soal sangat besar.
“Persentase nilai per soal itu besar. Di Penggerak Mula ada satu soal yang persentasenya 40 persen. Jadi kalau soal itu salah, ya sudah hancur nilainya. Presensi penuh juga tidak berpengaruh ke nilai. Komposisinya 40 persen UTS, 40 persen UAS, dan 20 persen kuis atau tugas,” ujar Nisa.
Dengan komposisi tersebut, satu kesalahan ketika mengerjakan soal bisa berdampak besar terhadap nilai akhir. Bagi Nisa, kemampuan memahami materi saja belum cukup. Ia harus benar-benar teliti ketika menghadapi ujian.
“Kadang sudah belajar, tetapi pas ujiannya ada saja yang bikin salah. Jadi memang harus siap,” katanya.
Jurusan bergengsi dengan beban yang tidak main-main
Nama UGM dan Teknik Kimia membuat ekspektasi terhadap mahasiswa seperti Nisa semakin tinggi. Program Studi Sarjana Teknik Kimia UGM sendiri memang memiliki posisi akademik yang kuat. UGM mencatat program ini sebagai satu-satunya program studi Teknik Kimia di Indonesia yang terakreditasi internasional oleh The Institution of Chemical Engineers (IChemE). Program tersebut juga mengantongi akreditasi IABEE.
Kurikulumnya pun tidak sebatas belajar mencampur bahan kimia. UGM menjelaskan bahwa mahasiswa Teknik Kimia mempelajari matematika, fisika, kimia, ilmu hayati, ilmu material, hingga prinsip dasar teknik kimia untuk memecahkan persoalan rekayasa.
Mahasiswa juga diarahkan memahami perancangan proses dengan mempertimbangkan keselamatan, ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan. Bagi Nisa, reputasi tersebut justru membuat orang di luar kampus sering membayangkan kuliahnya lebih mudah daripada kenyataan.
“Orang kadang mikir, ‘Teknik Kimia pasti mudah, lah.’ Padahal enggak begitu,” katanya.
Baru tiga semester di teknik kimia, beban sudah terasa
Nisa baru memasuki semester tiga. Perjalanannya menuju kelulusan masih panjang. Namun, ia merasa tekanan akademik sudah muncul sejak awal kuliah. Ia tidak menyesal masuk Teknik Kimia. Hanya saja, ia mulai memahami bahwa kemampuan berhitung dan latar belakang sekolah tidak otomatis membuat seseorang mudah mendapatkan nilai tinggi.
“Saya memang suka hitung-hitungan. Awalnya saya kira karena itu bakal lebih gampang. Ternyata salah besar,” ujar Nisa.
Ia harus berhadapan dengan materi kuliah, tugas, kuis, praktikum, dan ujian yang menuntut ketelitian. Departemen Teknik Kimia UGM sendiri memiliki sejumlah laboratorium, mulai dari Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Proses Pemisahan, Teknologi Polimer, hingga Komputasi dan Simulasi Proses.
Beban itu bertambah ketika dikira teroris dan bisa meracik petasan
Masalah Nisa ternyata tidak berhenti pada nilai. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia juga menghadapi stigma lain: mahasiswa Teknik Kimia dianggap pandai meracik racun atau petasan.
Stigma tersebut sudah ia dengar sejak semester pertama. Padahal, menurut Nisa, bidang yang ia pelajari berkaitan dengan proses industri dan rekayasa, bukan sekadar mencampur bahan kimia secara sembarangan.
“Memang kami bersinggungan dengan bahan kimia, tapi kami meracik untuk kebutuhan industri. Misalnya perancangan pabrik dalam skala industri. Produknya bisa pupuk, semen, dan bahan bakar. Keliru kalau kami dianggap pandai meracik petasan, apalagi racun,” ujarnya.
Kompetensi Teknik Kimia UGM memang mencakup perancangan alat, sistem, dan proses untuk mengolah bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Mayoritas perempuan di teknik kimia, tapi tetap kena stigma
Menurut Nisa, angkatannya juga memiliki jumlah mahasiswa perempuan yang cukup besar. Ia menyebut sekitar 100 dari 184 mahasiswa merupakan perempuan. Bagi Nisa, fakta itu seharusnya cukup untuk membantah bayangan bahwa mahasiswa Teknik Kimia identik dengan orang yang setiap hari bermain-main dengan bahan peledak atau racun. Namun, candaan tersebut masih saja muncul.
“Sudahlah mendapat nilai susah, masih saja dikasih stigma pandai meracik racun dan petasan. Hadeh,” kata Nisa.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa Teknik Kimia UGM bagi Nisa bukan cuma perkara memakai almamater kampus ternama. Ada nilai yang harus diperjuangkan, materi yang harus dipahami, praktikum yang harus dijalani, sekaligus stigma yang kadang harus diluruskan.
Masuk UGM memang membuatnya terlihat keren di mata orang lain. Namun, di balik label itu, Nisa tetap harus duduk di depan soal ujian dan berharap satu kesalahan tidak membuat nilai 40 persennya ikut lenyap.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sulitnya Jadi Mahasiswa Jurusan Teknik, Susah Dapatkan Nilai Bagus hingga Kepercayaan di Hati Cewek atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
