ADVERTISEMENT

Guru Bahasa Jawa Dibayar Rp900 Ribu, tapi Dibebani Tugas Melestarikan Bahasa Jawa

guru bahasa jawa

Status honorer sebagai guru bahasa Jawa merupakan beban yang berat. Belum lagi dengan gaji imut itu mereka masih dibebani dengan tugas melestarikan bahasa Jawa di tengah gempuran bahasa medsos.

***

Bagi Eka (27), menjadi guru Bahasa Jawa bukan sekadar pekerjaan. Ia tumbuh dari keluarga yang dekat dengan seni tradisi Jawa. Kakek dan neneknya merupakan pemain ketoprak, sementara bapaknya dikenal sebagai pembawa acara berbahasa Jawa di kecamatannya.

Lebih dari dua tahun terakhir, Eka meneruskan kedekatan itu di ruang kelas. Ia mengajar Bahasa Jawa di sebuah SMK swasta di Boyolali. Dari rumahnya di kawasan Selo, ia hanya membutuhkan sekitar 10-15 menit untuk sampai ke sekolah.

Saya berbincang dengan Eka melalui panggilan WhatsApp. Ia mengaku menikmati pekerjaannya. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal: statusnya masih guru honorer, sementara pekerjaan yang ia jalankan terasa lebih besar daripada sekadar mengajar mata pelajaran.

“Kalau di keluargaku profesi guru masih menjadi idaman, Mas. Bahkan kalau bisa jadi guru Bahasa Jawa itu pasti dipandang sebagai anak yang berhasil. Padahal gaji honorer itu berapa sih, cuma Rp900 ribu, itu buat makan sebulan saja kelar,” katanya, Minggu (20/9/2026)

Guru bahasa Jawa dan cita-cita keluarga

Eka sebenarnya tidak pernah merasa salah memilih profesi. Ia memang mempelajari bidang yang sekarang ia ajarkan ketika kuliah. Menjadi guru juga sudah lama menjadi cita-cita, meski ia mengakui pilihan itu tidak sepenuhnya lahir dari dirinya sendiri.

Di keluarganya, guru masih dianggap pekerjaan yang membanggakan. Apalagi Eka mengajar Bahasa Jawa, bahasa yang sejak kecil sudah akrab dengan kehidupannya.

Masalahnya muncul ketika kebanggaan itu bertemu kebutuhan sehari-hari. Ia berstatus guru honorer di sekolah swasta. Penghasilannya tidak bisa ia samakan dengan guru non-ASN yang mengajar di satuan pendidikan negeri milik Pemprov Jawa Tengah.

Pemprov Jawa Tengah pada 2025 menyebut guru non-ASN di SMA, SMK, dan SLB negeri memperoleh honor melalui APBD dengan besaran yang menyesuaikan UMK. Untuk sekolah swasta, pemerintah provinsi memberikan dukungan pembiayaan pemenuhan honor melalui skema BOSDa dan sesuai ketentuan yayasan masing-masing.

Sementara itu, UMK Boyolali 2026 mencapai Rp2.537.949. Angka tersebut merupakan upah minimum wilayah, bukan otomatis gaji setiap guru honorer di sekolah swasta.

Karena itu, pengalaman Eka menunjukkan persoalan yang lebih spesifik: status honorer membuat pendapatan seorang guru bisa jauh dari gambaran ideal tentang profesi guru. Eka dalam sebulan digaji Rp900 ribu.

“Gaji honorer itu ya segitu. Buat makan sebulan saja kelar,” ujarnya.

Bahasa Jawa bukan sekadar mata pelajaran

Di Jawa Tengah, Bahasa Jawa bukan mata pelajaran tambahan yang muncul tanpa dasar kebijakan. Pemerintah provinsi menetapkan Bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib untuk pendidikan dasar hingga pendidikan menengah, termasuk SMA, MA, dan SMK.

Kebijakan itu masih berjalan. Pada Januari 2026, Gubernur Jawa Tengah bahkan menetapkan buku teks muatan lokal Bahasa Jawa untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/5 Tahun 2026.

Artinya, guru seperti Eka memegang mata pelajaran yang memang mendapatkan tempat dalam sistem pendidikan Jawa Tengah. Namun, bagi Eka, persoalannya tidak berhenti pada buku teks dan jam pelajaran.

Ia berhadapan dengan siswa yang sehari-hari lebih akrab dengan Bahasa Indonesia, bahasa pergaulan, dan bahasa media sosial. Ia harus mencari cara agar Bahasa Jawa tetap masuk akal bagi anak-anak yang kehidupannya sudah jauh berbeda dengan generasi orang tua mereka.

“Bagaimana mengkondisikan siswa supaya bisa berbahasa Jawa yang baik dan benar itu tantangannya,” katanya.

Di sinilah Eka merasa pekerjaannya mempunyai lapisan lain. Ia bukan cuma menyampaikan materi pelajaran. Ia juga harus membuat siswa tetap mau menggunakan bahasa yang semakin jarang mereka pakai dalam percakapan sehari-hari.

Gajinya honorer, beban kerjanya pelestarian

Eka tidak keberatan mengajar. Ia juga tidak menyesal memilih Bahasa Jawa. Yang membuatnya mengeluh adalah beban pekerjaan yang menurutnya tidak sebanding dengan penghasilan.

Dalam seminggu, ia harus memenuhi jam mengajar. Setelah pulang, masih ada pekerjaan administrasi yang harus ia selesaikan. Di sela-sela itu, ia merasa guru Bahasa Jawa juga membawa tuntutan lain yang tidak tertulis dalam daftar pekerjaan: menjaga bahasa dan budaya Jawa tetap hidup di kalangan siswa.

“Gajinya honorer tapi beban kerjanya adalah pelestarian. Bayangkan dalam satu minggu harus memenuhi jam mengajar agar terpenuhi, di rumah masih harus ngerjain tugas-tugas administratif, eh masih diminta untuk menjadi pelestari budaya dan bahasa Jawa. Repot, Bos,” keluhnya.

Bagi Eka, istilah pelestarian terdengar besar jika dibandingkan dengan kondisi kesehariannya sebagai guru honorer.

Ia harus mengajar seperti guru pada umumnya. Ia harus mengerjakan administrasi. Ia harus menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda. Namun, pada saat bersamaan, ia juga merasa ikut memikul tanggung jawab agar Bahasa Jawa tidak semakin asing bagi generasi muda.

Menjadi MC agar dapur tetap ngebul

Keterampilan Bahasa Jawa akhirnya tidak hanya Eka gunakan di sekolah. Ia membuka jasa sebagai MC pernikahan berbahasa Jawa di sekitar tempat tinggalnya. Pekerjaan itu tidak datang setiap minggu, tetapi cukup membantu ketika honor mengajar tidak banyak tersisa.

“Dijadikan sambilan saja sih, Mas. Tidak setiap minggu ada, tapi lumayan buat tambah-tambah beli beras,” ujarnya.

Pekerjaan sampingan itu justru masih berkaitan dengan kemampuan yang ia gunakan untuk mengajar. Bahasa Jawa yang menjadi mata pelajaran di sekolah berubah menjadi keterampilan mencari tambahan penghasilan di luar sekolah.

Eka tidak sendirian. Anwar (30), kawan saya yang sudah sekitar lima tahun menjadi guru honorer Bahasa Jawa, mengalami persoalan serupa. Pendapatannya sebagai guru juga minim. Untuk menambah pemasukan, ia menerima pekerjaan sebagai MC berbahasa Jawa untuk pernikahan dan berbagai acara seremonial.

Keduanya menjalani pola yang hampir sama: mengajar Bahasa Jawa sebagai pekerjaan utama, lalu menggunakan kemampuan berbahasa Jawa untuk mencari tambahan penghasilan.

Bagi mereka, persoalannya bukan karena Bahasa Jawa tidak bernilai. Justru sebaliknya. Bahasa itu masih mereka gunakan untuk mengajar, memandu acara, dan menjalankan pekerjaan yang mereka cintai.

Yang mereka persoalkan adalah nilai pekerjaan tersebut belum selalu sejalan dengan penghasilan yang mereka terima. Eka masih ingin mengajar. Anwar juga masih bertahan.

Mereka hanya sedang menjalani ironi yang sama: menjadi guru honorer dengan penghasilan terbatas, tetapi pada saat bersamaan membawa tanggung jawab yang mereka anggap lebih besar—memastikan Bahasa Jawa tetap terdengar di ruang kelas ketika semakin banyak anak muda lebih nyaman berbicara dengan bahasa Indonesia dan bahasa media sosial.

“Bukan berarti saya tidak mau melestarikan bahasa Jawa, tapi mbok ya ikut dipikirkan kesejahteraannya,” kata mereka senada.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Jakarta Terpaksa Belajar Bahasa Jawa biar Nggak Diketawain Orang Surabaya, Malah Geli Sendiri Pakai “Aku-Kamu” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.