Derita Guru Bimbel Matematika untuk Pintarkan Siswa: Tawar-menawar Tarif Menjengkelkan sampai Dibayar Sembako

guru bimbel

Menjadi guru bimbel matematika nyatanya tidak seindah itu. Mulai dari waktu kerja yang tidak jelas, tawar menawar tarif, hingga pernah dibayar sembako oleh orang tua murid agar anaknya mendapat tambahan pelajaran.

***

Baru-baru ini di linimasa Thread saya sedang ramai perbincangan mengenai bimbingan belajar (bimbel) di Jogja yang pendaftarannya saja sampai war. Sudah seperti war tiket konser K-Pop. 

Yang unik dan menarik dari fenomena tersebut adalah bagaimana effort orang tua di Jogja yang menginginkan anaknya mendapat tambahan pelajaran di luar sekolah. Bahkan, dalam salah satu perbincangan, ada orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk masuk bimbel tahun depan, persis seperti indent motor.

Karena perbincangan tersebut memantik rasa penasaran saya, akhirnya saya menemui salah satu tetangga saya, namanya Ari (25), ia adalah alumni Matematika Universitas Negeri Yogyakarta yang kebetulan sudah lama bekerja sebagai guru bimbel matematika privat.

Memutuskan menjadi guru bimbel matematika karena bingung lulus mau jadi apa

Ari sudah melakoni profesi sebagai guru bimbel matematika bahkan sebelum dirinya lulus dari UNY. Dulu awalnya dia menjadi guru bimbel matematika ini karena ia merasa bingung kalau lulus mau bekerja apa.

“Awalnya bingung juga kalau nanti lulus mau jadi apa, kamu tahu sendiri jurusanku matematika murni, tidak punya basic mengajar, tidak mudah juga masuk ke instansi kalau masih fresh graduate,” ujarnya ketika saya temui di sebuah angkringan di pinggir Ring Road Barat Gamping, Sleman.

Keputusasaan Ari mengantarkan dirinya menjadi guru bimbel matematika privat. Bermodalkan jejaring yang ia punya, ia mulai menawarkan diri untuk membantu kesulitan belajar matematika dari rumah ke rumah.

Jam kerja yang tidak jelas menjadi tantangan pertama guru bimbel

Banyak orang mengira bahwa menjadi guru bimbel itu enak karena jam kerjanya fleksibel, namun bagi Ari itu hanya omong kosong. Baginya, karena jam kerjanya fleksibel ia harus membagi waktu antara murid satu dengan yang lainnya.

“Kadang kalau mendapat murid yang jadwalnya bertabrakan dengan murid lain susah juga ngaturnya. Si A bisa jam 4 sore, si B ternyata juga bisa jam segitu. Akhirnya harus ada yang aku negosiasi lagi agar mundur jamnya,” ujarnya mendengus. 

Tantangan menjadi guru bimbel tidak berhenti di situ, ketika menghadapi murid yang memang terkenal hiperaktif, ia selalu menyiapkan kesabaran ekstra. Karena terlalu galak juga bisa menghancurkan reputasinya sebagai guru bimbel privat.

Tawar menawar tarif bimbel adalah hal yang biasa dialami, namun tetap menjengkelkan

Ari sendiri tidak mematok tarif yang berlebihan untuk satu kali pertemuan. Ia mempertimbangkan jenjang pendidikan dan juga kondisi ekonomi keluarga dari si murid juga. 

“Kalau aku sih standarnya di Rp100 ribu untuk satu sesi 90 menit, namun kadang juga ada yang meminta diturunkan harganya, bahkan ada yang meminta harga segitu untuk dua orang anaknya yang berbeda jenjang pendidikannya,” kata Ari.

Menurutnya, harga segitu tentu jauh lebih manusiawi dari kebanyakan guru bimbel matematika privat lainnya. Bahkan kawan Ari sendiri sudah mematok tarif Rp150 ribu untuk satu sesi di luar biaya transport menuju rumah muridnya.

Pernah dibayar dengan sembako karena orang tua murid tidak punya uang

Selama menjadi guru bimbel matematika privat ini tentunya Ari pernah menjumpai banyak cerita unik juga cerita yang menyayat hati. Salah satu cerita yang selalu dikenang Ari adalah ketika ia mendapat bayaran sembako dari orang tua murid. 

Ketika itu Ari mendapat permintaan untuk mengajar anak kelas 6 SD, dengan jadwal dan tarif yang sudah disepakati sejak awal. Ketika tiba hari pembayaran, orang tua murid ini mengaku tidak punya uang dan hanya memiliki sembako untuk diganti sebagai bentuk pembayarannya.

Ari yang iba tentu tidak menerima pemberian itu. Ia merasa bahwa apa yang ia lakukan semata untuk membantu muridnya agar bisa lulus SD dan mendapatkan SMP yang diidam-idamkan.

“Ya tidak aku terima, dong. Kasihan, justru aku malah bilang ke orang tuanya kalau aku bakal bantu sampai anaknya lulus SD, namun tidak usah dibayar apalagi sampai harus membelikan paket sembako. Menurutku yaudah deh sedekah ilmu aja,” kata Ari.

Memang, pekerjaannya sebagai guru bimbel matematika privat ini bukan pekerjaan yang mudah. Namun, baginya ketika ia bisa membantu di sela-sela kebutuhan hidupnya juga sudah menjadi kepuasan batin tersendiri. 

Kini Ari masih melakukan pekerjaannya tersebut, saban sore hingga malam ia masih berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Pekerjaan menjadi guru bimbel matematika privat ini memang tidak membuatnya lekas kaya, namun mampu membuat ia mengerti bahwa sebegitu besarnya usaha orang tua untuk melihat anaknya mendapat tambahan pelajaran, meski harus ditukarkan dengan sepaket sembako. 

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rahasia di Balik Alumnus S2 Matematika UGM yang Bisa Lulus Hanya dalam Waktu 1 Tahun lewat Program “Studi Kilat” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version