Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Working Poor dalam Bayang-Bayang UMP DIY 2026 dan Biaya Hidup yang Semakin Tinggi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
28 November 2025
A A
ump diy.MOJOK.CO

Ilustrasi - UMP DIY 2026 dalam Bayang-Bayang Biaya Hidup yang Semakin Tinggi (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rizky (25) sudah mendengar wacana Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang akan menaikan upah minimum provinsi (UMP) daerah tempatnya bekerja. Alih-alih senang, berita itu ia respons dengan pertanyaan kilat:

“Emang naiknya berapa, sih?” ujarnya saat ditemui Mojok, Kamis (27/11/2025) malam.

Iklan

Dua tahun Rizky bekerja di Jogja. Dua tahun juga, ia merasakan kenaikan UMP kota pelajar. Namun, ia merasa, kenaikan ini tak terlalu signifikan. Bahkan dalam bahasa dia, “cuma bersifat seremonial”.

“Lihat kota-kota lain sekitar Jakarta, naiknya berapa? Kemudian lihat Jogja tahun lalu, berapa naiknya? Padahal biaya hidup sama-sama tinggi, tapi kenaikan jauh berbeda,” tegasnya.

Menurut data resmi, UMP DIY tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp2.264.080,95 per bulan. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 6,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sialnya, kalau menilik data kenaikan UMP DIY dalam, setidaknya, lima tahun terakhir saja, nominalnya terkesan kecil. Kenaikannya lambat. Kalau kata Rizky, “naiknya nggak teras”.

Sejak 2020 hingga 2025, UMP DIY hanya naik sekitar Rp250 ribu. Dari Rp2.004.000 pada 2020, menjadi Rp2.264.080 di tahun 2025. Bandingkan dengan Provinsi DKI Jakarta yang naik lebih dari Rp1 juta selama lima tahun: Rp4.276.349 (2020) ke Rp5.396.761 (2025).

“Kos, sama-sama mahal. Makan, sama mahalnya. Tanah? Nyaris tak terbeli. Tapi UMP Jogja naiknya nggak kerasa.”

UMP DIY tak cukup untuk hidup layak

Senada dengan Rizky, Wahid juga merasa bahwa kenaikan UMP DIY bukan lagi soal wacana, tapi nominalnya. Kalau nominalnya segitu-segitu aja, kata dia, “sama aja bohong”.

“Kalau naik cuma 200 ribu gitu ya sama aja bohong,” ujarnya.

Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY sendiri pernah melakukan survei kebutuhan hidup layak (KHL). Berdasarkan survei tersebut ditemukan bahwa untuk bisa hidup layak, setidaknya masyarakat di Jogja harus punya penghasilan Rp3,6 juta per bulan.

“Upah minimum Jogja selalu di bawah KHL berdasarkan survei yang kami lakukan,” tegas Ketua MPBI DIY, Irsad Ade Irawan dalam unjuk rasa yang ia lakukan Oktober lalu.

Oleh karena itu, Irsyad mengkritik kenyataan bahwa upah tetap stagnan sementara biaya hidup–termasuk makan, hunian, transportasi–melesat. Ia pun mendesak agar UMP DIY 2026 naik setidaknya ke angka Rp4 juta.

Untuk melihat relasi ini lebih jelas, simak data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY yang mencatat pada Maret 2025 persentase penduduk miskin di DIY adalah 10,23 persen, setara sekitar 425.820 orang.

Sementara itu, garis kemiskinan per kapita ditetapkan di angka Rp626.363 per bulan. Dan, rata-rata rumah tangga miskin di DIY memiliki 4,26 anggota. Rrtinya garis kemiskinan rumah tangga kira-kira Rp2.668.306 per bulan.

Jika dibandingkan, UMP 2025 Rp2.264.081 tidak jauh lebih tinggi daripada garis kemiskinan rumah tangga. Dengan kata lain, upah minimum yang seharusnya dianggap “cukup untuk hidup” berada di dekat ambang kemiskinan.

Ini membuka fakta keras bahwa bagi pekerja bergaji UMP (atau bahkan sedikit di atasnya), kemungkinan besar kehidupan mereka tetap berada di garis tipis antara “cukup” dan “kekurangan”. Apalagi ketika beban biaya lain-lain, seperti hunian dan pendidikan, ikut diperhitungkan.

Sepertiga gaji buat bayar kos

Salah satu tekanan terbesar bagi pekerja atau mahasiswa di Jogja adalah soal hunian. Banyak pekerja, mahasiswa, atau keluarga kecil, bergantung pada kos atau kontrakan. 

Iklan

Informasi dari berbagai listing kos di DIY menunjukkan bahwa sewa kamar “murah/biasa” berharga sekitar Rp300-800 ribu per bulan, sedangkan kamar kos privat atau premium dapat mencapai lebih dari Rp1 juta per bulan.

Bayangkan, seseorang bergaji UMP harus membayar sewa kos Rp800 ribu. Itu sudah mengambil lebih dari 30 persen dari pendapatannya. Jika hunian saja menyedot sepertiga pendapatan, bagaimana memenuhi kebutuhan pokok lain seperti makan, transport, kebutuhan rumah tangga, dan terutama (jika ada) persiapan pendidikan anak?

Belum lagi risiko fluktuasi sewa karena tekanan pasar properti, gentrifikasi ruang karena pariwisata, serta permintaan kos tinggi bisa membuat kos semakin mahal dari tahun ke tahun. 

Wahid sendiri adalah contoh dari orang yang merasakan ini. Pada 2017 lalu, ia masih bisa menjumpai kos murah dan layak seharga Rp300 ribu sebulan. Sekarang, yang ia temukan, rata-rata berada di kisaran Rp500-800 ribu.

Pekerja ini tinggal di sebuah kos dengan biaya sewa Rp650 ribu per bulan. Sementara gajinya adalah Rp2,6 juta sebulan. Artinya, tiap bulan, ia menyisihkan seperempat gajinya cuma untuk bayar kos.

“Jadi ya susah kalau disuruh nabung lah, investasi lah. Buat makan buat sebulan saja dah untung.”

Ketimpangan yang menciptakan working poor

Tak sampai di situ. Data ketimpangan di DIY juga menunjukkan keprihatinan serius. Rasio gini per September 2022 tercatat 0,459, naik dari periode sebelumnya. Artinya, distribusi pendapatan di DIY sangat timpang. Sekelompok kecil mendapat keuntungan besar dari ekonomi, sementara banyak pekerja berada di level pendapatan rendah.

Alhasil, kombinasi dari upah minimum dekat garis kemiskinan, beban sewa hunian besar, dan biaya hidup tinggi melahirkan fenomena yang dikenal sebagai “working poor”, orang yang bekerja penuh waktu, tapi tetap miskin atau hampir miskin. 

Di Jogja, fenomena ini nyata. Banyak pekerja paruh waktu, pekerja di sektor jasa, buruh harian, pekerja informal, atau pekerja dengan kontrak jangka pendek yang bergaji UMP, mengalami berbagai kesulitan. Konsumsi minimum, sedikit tabungan, sulit akses hunian layak, dan mobilitas sosial yang terbatas.

Fenomena semacam ini, pada akhirnya, memperlihatkan bahwa kemiskinan di DIY bersifat struktural. Bukan karena kemalasan, tapi karena struktur ekonomi, ruang, dan kebijakan, termasuk UMP.

“Harapanku, kalau mau menaikan UMP, ke angka yang layak lah,” harap Rizky, memungkasi obrolan.

Sementara Wahid lebih skeptis. Ia tak mau berharap banyak. Berkaca dari yang sudah-sudah, kalaupun UMP naik, angkanya tidak akan signifikan dan memuaskan.

“Tidak usah berharap sama pemerintah,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: In This Economy, Kerja Lembur Bagai Kuda Meski Gaji Tak Seberapa dan Tetap Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 November 2025 oleh

Tags: Jogjapilihan redaksiUmpump diyumr jogjaupah minimum provinsi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.