Tradisi Lisan Jawa Membuka Pikiran Anak Muda Jogja, Bukan Sekadar “Omongan Tua” tapi Sumber Gagasan dan Warisan Penuh Nilai

Advertorial / Iklan
tradisi lisan jawa

Tradisi lisan Jawa selama ini memang kerap kali dianggap tidak lebih dari “cerita kuno” atau “omongan orang tua”. Di titik tertentu bahkan dianggap sebatas mitos yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun, bagi anak-anak muda di Jogja, tradisi lisan Jawa ternyata bisa membuka pikiran sekaligus memantik gagasan mereka untuk mencipta karya. 

***

Sejumlah siswi berseragam putih abu-abu khusyuk menyimak paparan perihal tradisi lisan di Jawa di Panggung Sastra Festival Sastra Yogyakarta, Taman Budaya Yogyakarta, Embung Giwangan, Kamis (27/8/2026). Saya turut berada di tengah-tengah mereka untuk mengikuti Workshop Sastra Jawa SMA dari Balai Bahasa Provinsi DIY. 

Saat membicarakan tradisi lisan Jawa, ingatan saya melompat ke masa-masa silam, ketika masih kanak-kanak hingga beranjak remaja. Dalam banyak kesempatan, orang-orang sepuh di tempat tinggal saya di Gamping, Sleman, kerap berbagi cerita-cerita yang entah mereka kutip dari mana. Perihal kesaktian tokoh tertentu di masa lalu, tempat-tempat wingit yang konon dihuni makhluk tak kasat mata, hingga petuah-petuah kehidupan yang lebih terdengar seperti otak-atik gathuk. 

Saat itu saya dan anak-anak kampung lain amat antusias menyimak cerita yang dituturkan para orang sepuh, saat sore di halaman rumah, atau selepas Magrib di teras langgar. Kami akan duduk meriung mendengar cerita: sebagian dengan mulut menganga karena takjub, yang lain menatap si penutur dengan tidak berkedip, dan tidak sedikit yang ndusel-ndusel karena merinding dan takut. 

Dulu pemahaman saya tentang tradisi lisan Jawa memang hanya sebatas cerita menarik dari zaman jauh di belakang. Akan tetapi, usai menyimak paparan para fasilitator Workshop Sastra Jawa SMA di Festival Sastra Yogyakarta 2026, saya akhirnya memahami kalau tradisi lisan ternyata tidak sedangkal itu. 

tradisi lisan jawa
Festival Sastra Yogyakarta 2026 (Dok. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Pada mulanya hanya mendengar, lalu menyelami makna

Pemahaman serupa juga diungkapkan oleh dua siswi peserta workshop yang saya ajak berbincang siang itu, Syifa dan dan Ulfa. 

Persinggungan Syifa dengan tradisi lisan Jawa dari kebiasaan keluarganya yang kerap mendengar uyon-uyon dan tembang-tembang berbahasa Jawa di rumah. Hampir setiap siang selalu diputar, sehingga lambat-laun menempel kuat di dalam kepalanya. 

“Dari situ saya mulai tertarik. Karena akhirnya tahu, yang saya dengar itu bukan hanya suara. Tapi ada makna yang harus dipahami,” ucapnya. 

Tidak jauh berbeda, persinggungan Ulfa dengan tradisi lisan Jawa juga berasal dari orang tua dan lingkungannya yang menggemari karawitan. Semula Ulfa memang hanya ikut arus—FOMO kalau istilah anak sekarang. Akan tetapi, dari FOMO itu ia justru semakin penasaran: sebenarnya apa sih yang terkandung unsur-unsur budaya Jawa yang memang agak asing bagi generasi muda saat ini. 

Rasa penasaran dan keingintahuan itu lantas membawa Ulfa dan Syifa datang ke Taman Budaya Yogyakarta, Embung Giwangan, Bantul. Menyimak paparan para fasilitator seperti mendengar uyon-uyon di rumah: tidak terlalu menggebu, tapi ampuh melarutkan alam pikir mereka ke khazanah tradisi Jawa yang ternyata sangat dalam. 

Tradisi lisan: kekayaan kita dan medium untuk mewariskan nilai luhur Jawa 

tradisi lisan jawa
Festival Sastra Yogyakarta 2026 (Dok. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Tidak berlebihan ketika Daru Winarti dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) DIY selaku fasilitator workshop menyebut tradisi Jawa sebagai sebuah kekayaan. Pasalnya, melalui penuturan turun-temurun, nyatanya sebuah cerita atau tuladha (petuah) masa lalu bisa melintasi zaman. 

Dan memang, ungkapan maupun petuah dalam tradisi lisan Jawa memuat nilai luhur yang masih bisa relevan. Misalnya, orang tua di masa lalu punya petuah: “Kalau makan dihabiskan, nanti nasinya menangis.” Terdengar tidak masuk akal kalau hanya dipahami sebagai ungkapan-teks belaka. 

Tetapi sejatinya petuah itu memuat pesan penting agar anak-cucu menghargai makanan. Sebab, dalam sepiring nasi yang terhidang, ada keringat orang tua yang mencari nafkah. Menjadi pengingat syukur kepada Tuhan pula karena masih bisa makan, di saat di luar sana masih banyak orang yang menderita kelaparan.  

“Ada banyak lagi bentuk tradisi lisan Jawa, mulai dari cerita rakyat, puisi rakyat, sajak rakyat, hingga geguritan. Dan itu semua merupakan kekayaan yang bisa terus digali (nilainya),” ungkap Daru.

Mitos-cerita rakyat bukan sekadar cerita yang dibuat-buat, tapi sumber gagasan

Sebagai anak yang tumbuh bersama berlimpah mitos hingga cerita rakyat, penjelasan Avi Meilawati (fasilitator lain dalam workshop tersebut), saya, Syifa, dan Ulfa anggapan kami dipatahkan telak. 

Modernitas memaksa mitos hingga cerita rakyat terpinggirkan pelan-pelan, karena anggapan tidak rasional karena terlalu khayal. Namun, di situlah memang letak kecerdasan leluhur masyarakat Jawa: bagaimana mengeksplorasi lingkungan cerita menjadi sebuah narasi yang bisa terus diperbincangkan.  

“Cerita yang berkembang di masyarakat, termasuk mitos dan kisah yang diwariskan secara turun-temurun, sebenarnya kan bisa menjadi bahan untuk menciptakan karya sastra.” Itulah poin yang ditekankan Avi. Cerita-cerita itu sungguh lahir dari kepekaan indra dan intuisi dalam membaca sekitar. 

tradisi lisan jawa
Festival Sastra Yogyakarta 2026 (Dok. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Sebagai contoh, dari pohon-pohon pisang, di desa Avi kemudian berkembang sebuah mitos tentang seorang putri yang meninggalkan jejak hidupnya karena terpeleset pohon pisang yang tertanam di pinggiran sungai tersebut. Bayangkan, hanya dari pohon pisang pinggir kali, tapi tercipta sebuah narasi yang panjang umur hingga sekarang. 

Itu satu contoh sederhana. Belum mitos-mitos yang lebih filosofis. Misalnya tentang sebuah pohon beringin di dekat sumber mata air (sendang) yang dijaga oleh makhluk mengerikan, yang tidak segan merenggut nyawa siapa saja yang berani mengencingi sendang atau bahkan menebang si pohon. Mitos itu memuat pantangan agar masyarakat tidak semena-mena terhadap alam. Karena jika alam rusak, kelangsungan hidup mereka pun turut terancam. 

Mengakrabkan tradisi lisan Jawa di tengah gempuran “bahasa medsos” di kalangan anak muda

Saat berbincang dengan saya, dengan sorot mata penuh optimisme Avi mengatakan bahwa tradisi lisan Jawa harus dihidupkan di kalangan muda. Bukan hanya untuk melestarikan warisan leluhur, tapi juga menginternalisasi nilai-nilai penting buat bekal hidup anak muda. 

Ya kendati situasi era sekarang tidak mudah dan penuh tantangan. Bukan hanya untuk melestarikan warisan leluhur, tapi juga menginternalisasi nilai-nilai penting buat bekal hidup anak muda. Sebab, paparan konten-konten dari layar ponsel yang tidak terbendung kini membuat anak muda lebih gemar menggunakan bahasa khas media sosial: bahasa gaul hingga bahasa Jaksel (Indonesia campur Inggris). 

tradisi lisan jawa
Festival Sastra Yogyakarta 2026 (Dok. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Di titik tertentu bahkan memudarkan anak-anak muda Jawa dari akarnya: tidak akrab lagi dengan mitos, cerita rakyat, atau petuah-petuah orang tua zaman dulu karena dianggap tidak rasional. 

“Ini betul-betul PR, karena arus globalisasi ini membuat anak muda menerima informasi cukup banyak. Sehingga kita memang harus berjuang betul untuk mengakrabkan tradisi lisan Jawa ke anak-anak muda,” kata Avi.

“Bagi saya, tradisi lisan ini memang harus diakrabkan sejak dini, karena bagaimanapun juga tradisi ini sudah membuktikan bisa bertahan lama dan bisa terus berkembang,” sambungnya bersemangat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Ismawati Retno. Menurutnya, generasi muda perlu didorong untuk tidak hanya mengenal tradisi lisan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga melihatnya sebagai sumber gagasan yang dapat melahirkan karya baru.

“Tradisi lisan menyimpan banyak cerita, pengalaman, nilai, dan cara pandang masyarakat. Ketika generasi muda mau menggali cerita yang ada di sekitarnya, mereka sebenarnya sedang menemukan sumber yang sangat dekat untuk menciptakan karya sastra,” beber Ismawati.

“Yang penting bukan sekadar mengingat cerita lama, tetapi bagaimana tradisi itu dapat diejawantahkan kembali melalui kreativitas generasi sekarang. Dengan begitu, tradisi lisan tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus hidup dan menemukan bentuk baru,” imbuhnya.

Meski begitu, kehadiran sejumlah siswi di tengah panas terik Jogja siang itu, termasuk cerita Syifa dan Ulfa, menunjukkan ternyata masih banyak anak muda—khususnya di Jogja—yang masih menaruh minat besar pada cerita dan ungkapan-ungkapan masa lalu. Rasa ingin tahu mendorong mereka untuk menyelami makna sesungguhnya dari tradisi lisan Jawa yang bertebaran di sekitar mereka. Ah, saya jadi rindu dengan cerita-cerita yang kerap dituturkan para orang sepuh di lingkungan saya dulu.***(Adv)

Penulis: Janu Wisnanyo
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2026 oleh

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.