Tinggal di sebuah kompleks perumahan—apalagi perumahan elite—selama ini terlanjur digambarkan dengan narasi tidak menyenangkan. Terutama di kalangan orang-orang desa. Ternyata, bagi sebagian orang, yang terjadi justru sebaliknya. Tinggal di kompleks perumahan jauh lebih bisa “slow living” dan “frugal living” ketimbang hidup di desa.
***
Tiap melewati sebuah kompleks perumahan semi elite di Surabaya, dulu di masa kuliah, saya dan seorang teman yang sama-sama berasal dari desa pasti saling bergumam: Kehidupan macam apa ini? Tidak ada interaksi sosial dengan tetangga, fokus hidup sendiri-sendiri, ah betapa kesepiannya hidup seperti itu.
Bagaimana tidak. Sebuah kompleks perumahan tersebut nyaris tanpa kehidupan bersosial. Sepanjang waktu pagar dan pintu rumah tertutup. Hanya kelihatan ada orang di pagi hari, di jam-jam pulang kerja. Sementara kalau malam, jam 7 sudah lengang.
Tapi ternyata, kehidupan semacam itulah yang kini justru dikehendaki banyak orang. Sebuah gambaran ideal tentang hidup slow living dan frugal living. Sebab, dua hal itu nyarus susah ditemukan dalam kehidupan di desa, seperti pengakuan beberapa orang dalam liputan “Omong Kosong Slow Living dan Frugal Living di Desa”.
Salah kaprah soal “individualistik” warga perumahan
Sebagai penghuni kompleks perumahan semi elite di Surabaya sejak kecil, Geraldi (26) pertama-tama ingin membantah soal anggapan bahwa antarwarga di sebuah kompleks tidak saling peduli satu sama lain. Narasi yang digunakan adalah “individualistik”.
Bagi Geraldi, individualistik itu beda dengan egois. Salah kaprah banyak orang adalah menganggap keduanya punya representasi yang sama.
“Individualistik di perumahan itu artinya kami fokus ke urusan masing-masing. Nggak mau ikut-ikutan urusan orang lain,” ungkap Geraldi, Kamis (29/1/2026).
Justru itulah wujud kepedulian satu sama lain. Karena peduli dengan privasi orang lain, maka antarwarga memilih untuk tidak saling mencampuri atau bahkan merecoki urusan tetangga. Maka, tidak akan ditemukan budaya saling menggunjing apalagi saling fitnah sebagaimana umum terjadi di desa. Itulah gambaran kehidupan slow living ideal bagi Geraldi.
“Kalau nggak sukses nggak takut dicemooh tetangga. Kalau sukses nggak dicari-cari kesalahan kita. Mau begini nggak waswas jadi omongan. Mau begitu nggak harus memikirkan perasaan dan anggapan orang lain,” ucap Geraldi. Beda jika di desa. Orang sukses saja tetap digunjing, apalagi yang tidak sukses.
Penghuni perumahan tak saling kenal, tapi terjadi interaksi yang tulus dan jujur
Masih dalam konteks perumahan semi elite yang Geraldi huni di Surabaya, antartetangga memang nyaris tidak saling kenal. Ia mengaku hanya kenal beberapa orang saja. Namun, bukan berarti tidak ada budaya gotong royong sebagaimana narasi yang kerap diunggulkan tentang kehidupan di perdesaan.
“Kalau ketemu tetap saling sapa. Bahkan saling ngobrol walaupun nggak kenal pun biasa,” kata Geraldi. Apalagi kalau sudah saling mengenal.
Namun, jangan salah. Tidak saling kenal bukan berarti tidak saling memberi perhatian. Tetap terjadi interaksi sosial kok antarwarga. Misalnya untuk kegiatan kerja bakti, saat tetangga ketiban musibah (kematian hingga sakit), ngobrol ringan selepas jemaah di masjid kompleks, dan lain-lain.
“Bayangkan, nggak saling kenal, tapi kalau ada tetangga kena musibah, kami tetap memberi support. Itu pun nggak pakai model utang-piutang materi ala desa. Yang kalau support materinya dianggap kurang, langsung jadi gunjingan,” ujar Geraldi.
Bagi Geraldi, itu adalah gambaran interaksi paling jujur dan tulus. Tidak seperti di desa, yang kerap kali menyimpan kepura-puraan.
Toleransi dan tidak mengusik lewat kebisingan
Hal lain yang Geraldi syukuri dari tinggal di sebuah kompleks perumahan adalah: tingkat toleransinya. Sesederhana: masjid hanya akan menggunakan speaker luar untuk azan dan pengumuman penting.
Sisanya, untuk ngaji, salat, salawat, dan kegiatan keagamaan lain lebih sering menggunakan speaker dalam. Itu membuat Geraldi—sebagai umat Kristiani—merasa nyaman karena dihargai.
“Yang jelas, perumahan itu hening. Nggak mungkin ada tetangga yang geber motor lama, muter sound system kenceng-kenceng, yang bikin bayi tetangga susah tidur misalnya. Apalagi di desa yang warganya penggila sound horeg,” kata Geraldi.
Barangkali bagi warga desa kehidupan semacam itu adalah kenormalan. Tapi Geraldi hanya ingin meluruskan, bahwa hidup di sebuah kompleks perumahan itu tidak semengerikan itu hanya karena salah kaprah mengartikan konsep “individualistik”. Karena berkat cara hidup “masing-masing” itulah, ia merasa bisa menemukan ketenangan, slow living.
Bisa frugal living karena tidak harus “menyenangkan tetangga”
Seorang teman sampai menyebut, alasan kenapa di desa terlalu banyak acara—dan seperti diharuskan ada—tidak lain adalah untuk menyenangkan tetangga.
Pasalnya, misalnya saja, ketika ada orang menggelar resepsi pernikahan, kalau acaranya tidak dibuat besar-besaran, takutnya bakal diolok-olok tetangga. Dianggap pelit lah, sombong karena tidak mengundang tetangga lah, dan macam-macam.
Alhasil, alih-alih frugal living, yang ada justru boncos terus-menerus. Kalau sudah menjadi tradisi, ya harus diikuti tanpa toleransi. Kalau memang tradisi menikah adalah mengundang tetangga, atau kalau memang tradisi saat kematian orang adalah menggelar tahlilan dengan menyiapkan sekian banyak hidangan, maka punya atau tidak punya uang, bagaimana pun caranya tetap harus dilakukan.
“Kalau ada kematian di tempatku, tahlilan atau doa bersama paling cukup di hari pertama kematian dan hari ketujuh. Setelahnya, paling keluarga sendiri yang kirim doa, nggak harus bikin acara buat mengundang tetangga,” begitu pengakuan Elmira (24), perempuan yang mengaku tinggal di sebuah kompleks perumahan non elite di Sidoarjo, Jawa Timur.
Tak ada beban utang-piutang dan tradisi yang dipaksakan
Sejauh masa tinggalnya di sana, ia mengaku nyaris tidak menemukan tradisi mengikat yang selalu harus melibatkan tetangga. Selain soal tahlilan di atas, contoh lain adalah pernikahan.
Jika sebuah keluarga menghendaki menggelar resepsi pernikahan secara intimate (sekadar akad dan kumpul keluarga), tetangga tidak akan mempermasalahkan. Biasa saja. Ada kesadaran: ya kan memang itu acara buat keluarga itu.
“Sementara dari cerita-cerita temanku, di desa mengerikan. Sekali tetangga nggak dilibatkan, bisa habis nama si pembuat acara itu,” ucap Elmira.
Kalau toh ada sebuah keluarga yang saat membuat acara melibatkan tetangga, tidak berlaku skema utang-piutang. Kalau seseorang nyumbang uang, malah seringnya memberi amplop tanpa nama. Si penggelar acara pun secara otomatis tidak punya kewajiban untuk mencatat jumlah uang dalam amplop yang diterima dan tidak dibebani keharusan mengembalikannya.
Jadi malah relatif bisa frugal living. Karena pemasukan sebuah keluarga memang hanya difokuskan untuk kebutuhan keluarga. Tanpa harus dibebani acara atau tradisi sebagaimana di desa yang terkesan dipaksakan untuk diadakan-adakan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













