Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Apesnya Pengendara Motor Plat P di Surabaya, Ikut Diseret kalau Plat M Berulah karena Dianggap Sama-sama Madura

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Januari 2025
A A
Nasib pengendara motor plat P yang selalu terseret karena ulah plat M (Madura) di Surabaya MOJOK.CO

Ilustrasi - Nasib pengendara motor plat P yang selalu terseret karena ulah plat M (Madura) di Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Para pengendara motor plat P merasa resah karena kerap terseret kalau motor plat M (Madura) berulah di Surabaya. Sebab orang-orang dari kedua jenis plat tersebut kadung dianggap bersaudara.

***

Plat P adalah jenis nomor motor yang juga bisa dijumpai di Surabaya. Kota ini memang jadi jujukan para perantau dari berbagai daerah. Namun, jumlahnya tentu tidak sebanyak plat S, plat W, plat AG, plat AE, apalagi plat L dan M.

Hanya saja, para pengendara motor plat P ini sering dipandang sinis di Surabaya. Bukan cuma dari kalangan orang Surabaya sendiri, tapi juga dari kalangan perantau. Hal ini seperti dituturkan oleh Ananda (27), seorang pemuda asal Jember yang pernah kuliah di Surabaya pada 2016 silam.

Motor plat P dianggap sama saja dengan plat M

Selama kuliah, Ananda mengaku tidak banyak menemukan motor dengan plat P di Surabaya. Kalau mahasiswa serumpun, tentu banyak, tapi memang banyak pula yang tidak membawa motor. Setidaknya di fakultasnya sendiri.

Untuk diketahui, motor plat P terdiri dari rumpun daerah tapal kuda. Antara lain, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.

“Orang-orang bilang plat P adalah plat M swasta (karena ada istilah, daerah tapal kuda adalah daerah Madura swasta). Tapi saya menolak. Madura ya madura. Jember ya Jember,” ungkap Ananda saat bercerita kepada Mojok.

Sebab, dengan disama-samakan, Ananda kerap menjadi sasaran ledekan oleh sejumlah teman kampusnya kalau plat M sedang berulah.

“Misalnya bilang, “Heh, itu loh saudaramu, orang-orang M, kenapa berulah terus”. Ya kan yang berulah itu plat M. Bukan motor plat P,” gerutu Ananda.

Stigma miring plat M di Surabaya, plat P ikut terseret

Kebetulan saya pernah kuliah di Surabaya. Saya juga menyaksikan sendiri, betapa orang-orang di sekitar saya (kalangan plat L, S, dan W, khususnya) menaruh sentimen terhadap pengendara motor plat M.

Saya menjaga jarak betul dengan obrolan yang menyasar plat M. Takut melewati garis rasialisme.

Namun, semakin ke sini, ternyata orang-orang di Surabaya banyak yang speak up. Merasa tak nyaman dengan kelompok plat M. Orang-orang bahkan secara terang-terangan mengungkapkan kekesalan mereka di media sosial.

Saya ambil contoh di media sosial X. Misalnya ada berita-berita kriminal—terutama begal, motor hilang, parkir liar, atau perangkat besi di fasilitas umum Surabaya yang hilang—warganet langsung ramai-ramai me-mention plat M.

Mojok sendiri menerima banyak tulisan dari kontributor Surabaya bahkan dari kalangan plat M sendiri yang sama-sama meresahkan kelakuan plat M, yang katanya makin hari makin menjadi-jadi: sering melanggar lalu lintas, ada saja yang berkendara tanpa pakai helm, dan lain-lain.

Iklan

Bahkan, pertengahan 2024 lalu, kanal YouTube Comedy Sunday yang dimotori Dono Pradana dan Virzha Valaza, menayangkan satu sesi roasting terhadap Eri Cahyadi yang intinya adalah meminta Cak Eri memberesi plat M yang kelakuannya dianggap meresahkan di Surabaya. Konten tersebut akhirnya di-takedown karena menuai respons tak menyenangkan dari pihak-pihak yang disinggung dalam konten.

“Sialnya, plat P selalu terseret. “Mau plat M atau plat P, mereka serumpun. Sama-sama meresahkan.” Aku bahkan pernah dengar selentingan semacam itu. Padahal, motor plat P di Surabaya ini nggak banyak. Ya nggak macem-macem juga,” ucap Ananda.

Isu menjajah dan kriminalitas

Sepanjang yang Ananda bisa simpulkan, motor plat M di Surabaya selalu identik dengan dua terma di atas. Pertama, pasalnya, hampir di setiap sudut daerah Surabaya ada komunitas masyarakat plat M.

Mereka bahkan membentuk perkampungan sendiri. Dan itu sering dikaitkan dengan terma “penjajahan”.

Kedua, isu-isu kriminalitas cenderung sering melibatkan plat M. Paling banter adalah motor hilang dan besi hilang. Dari pemberitaan yang beredar, saat Satpol PP Surabaya melakukan operasi, kebetulan maling besinya adalah dari kalangan plat M. Lalu dari penyisiran Kepolisian Surabaya, sering kali motor hilang selalu mengarah ke Bangkalan.

“Kenapa saya ingin memisahkan antara plat M dan plat P? Karena di Jember, banyak orang Jember juga yang meresahkan kelakuan motor plat M di sana. Apa memang di setiap daerah selalu begitu? Saya nggak tahu,” ucapnya.

Tapi plat M tak selalu buruk

Perantau Surabaya dari rumpun plat P lain, Umi (26), sebenarnya menyadari betapa stigma terhadap plat M makin memburuk dari waktu-waktu. Dan sialnya, plat P yang dianggap bersaudara dengan plat M selalu ikut terseret.

“Aku asli Banyuwangi. Padahal Banyuwangi ini suku aslinya adalah Oseng. Tapi kini lebih dikenal dengan suku Madura karena makin banyak orang berbahasa Madura di Banyuwangi,” ungkap Umi.

Jengkel, tentu iya. Kadang Umi berpikr, sebagai orang yang merantau dan menumpang hidup di kota orang, kenapa nggak hidup normal-normal saja? Biasa-biasa saja. Nggak arogan apalagi berbuat kriminal.

Namun, meski begitu, dia merasa ada banyak juga teman-temannya dari rumpun plat M yang jauh dari stigma itu. Bahkan, Umi memiliki kekaguman tersendiri dalam konteks spiritualitas dan etos kerja orang-orang Madura.

“Kalau bulan Maulid misalnya, di sana sudah seperti lebaran Idulfitri. Itu bukti cintanya mereka sama Nabi (Muhammad),” ujar Umi.

“Aku nggak tahu datanya. Tapi di Surabaya kan nggak mesti yang kriminal itu plat M. Mereka pun di mataku adalah orang-orang yang selalu survive. Buka toko kelontong 24 jam, buka warung-warung makan, yang kerja halal banyak, walaupun informal,” sambungnya.

Kondisi yang memaksa menyambung hidup di daerah lain

Antropolog Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Dr. Mohammad Adib, pernah membuat analisis kenapa orang-orang rumpun plat M terkesan menjamah daerah mana-mana di seluruh Indonesia, hingga akhirnya muncul terma “penjajah”.

Masalahnya begitu kompleks. Persoalan pertama, tanah di Madura tidak bisa jadi harapan untuk sektor pertanian karena sangat sulit ditanami.

Menyadari pertanian tak akan mampu menghidupi mereka, maka para perantau Madura itu pun kemudian berburu rezeki di daerah-daerah lain.

“Faktor ekologi seperti tanah yang tidak subur itulah yang memaksa mereka untuk merantau mencari mata pencaharian di daerah lain,” beber Adib.

Persoalan kedua, kuantitas atau jumlah orang Madura tidak berimbang dengan luas Pulau Madura itu sendiri. Populasi yang besar membuat Madura terasa sesak. Sehingga, terang Adib, sebagian besar orang Madura memilih keluar: merantau.

“Tapi tak serta-merta Suku Madura saja yang merantau karena wilayah tak mencukupi. Ini juga berlaku bagi semua suku yang kuantitasnya banyak,” sambungnya.

Dulu mereka—orang-orang Madura—harus hidup dalam situasi tak menguntungkan itu tanpa punya banyak pilihan. Sebab, kondisi Pulau Madura sendiri terbilang terisolir.

Sampai akhirnya Jembatan Suramadu diresmikan pada 2009. Orang-orang Madura punya harapan hidup lebih baik dengan merantau ke berbagai daerah.

Potensi yang harus dikembangkan

Adib menilai, orang Madura punya potensi besar untuk bekerja di sektor-sektor formal. Sebab, tidak sedikit orang Madura yang sukses di sektor tersebut. Misalnya yang paling kentara adalah sosok Mahfud MD.

Bagi Adib, orang Madura adalah komunitas masyarakat pekerja keras dan tangguh. Nah, kerja keras tersebut akan menjadi lebih optimal jika disertai dengan modal intelektual (pendidikan).

“Tingkatkan pendidikan. Utamakan pendidikan, membongkar kultur informal. Merantaulah dengan skill, tidak hanya sebagai tenaga kasar,” tegas Adib.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nasib Pengendara Motor Plat AG: Nggak Neko-neko tapiJadi Bahan Ledekan di Surabaya dan Malang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2025 oleh

Tags: Maduraplat mplat pSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO
Esai

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.