Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Puisi-puisi yang Memberi Anugerah di Jogja, Ubah Jalan Hidup Seorang Kuli Jadi Penyair dan Cerita-cerita Lain

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Agustus 2025
A A
Puisi memberi anugerah beberapa orang yang mengembara ke Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Puisi memberi anugerah beberapa orang yang mengembara ke Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di bawah sorot lampu dan tatapan ratusan orang di Concert Hall, Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Jogja, lima orang—dari berbagai latar belakang profesi dan daerah—menerima anugerah atas puisi-puisi yang telah mereka kirim.

Sabtu (2/8/205) malam itu merupakan malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional sekaligus pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025. Gelaran yang sudah diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta: embrionya 2021, lalu lahir FSY yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.

Saat mengetahui judul-judul puisi kelimanya, tentu saja terbesit rasa penasaran di benak saya: Memangnya apa daya tawar dari puisi lima orang di atas panggung tersebut, sehingga mengalahkan ribuan puisi-puisi lain?

Dari catatan tim Dewan Juri Sayembara Puisi Nasional FSY 2025 (Indiran Koto & tim), ada sekitar 1460-an naskah final yang masuk ke meja penjurian. Banyak sekali. Adapun lima yang kemudian dipilih menerima anugerah antara lain:

Para pemenang Sayembara Puisi Nasional Festival Sastra Yogyakarta MOJOK.CO
Para pemenang Sayembara Puisi Nasional Festival Sastra Yogyakarta 2025. (Dok. FSY 2025)

Juara 1: Astrajingga Asmasubrata – Lintasan Rakit di Muara Code
Juara 2: Badrul Munir Chair – Tabuh Keraton
Juara 3: Yana Risdiana – Pelajaran Pertama dari Sebuah Rebab
Juara 4: Khotibul Umam – Kosmologi Garam
Juara 5: S. Kamar (Lombok) – Nyesek.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Media Sastra Indonesia (@sukusastra)

Puisi: ruang untuk mengungkapkan yang tak terungkap

Menepi dari hiruk-pikuk Concert Hall dan bagian depan taman Grha Budaya, saya bersua dengan peraih juara 4, Khotibul Umam (26), di sisi belakang gedung. Wajahnya tampak sumringah sembari menenteng piagam penganugerahan.

Umam, sapaan akrabnya, adalah pemuda asal Bondowoso. Sebuah daerah di Jawa Timur yang masuk dalam kategori “Tapal Kuda” dan hampir 90% dihuni oleh suku Madura. Suku yang darahnya juga mengalir dalam diri Umam.

Umam mengaku menyukai puisi sejak SMA. Lalu persingungannya dengan dunia kepenyairan menjadi lebih intens saat dia kuliah S1 Universitas Jember (Unej). Bahkan, kini Umam merantau ke Jogja untuk melanjutkan studi Sastra Indonesia di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Afrizal Malna dan Goenawan Mohamad adalah nama penyair dan sastrawan yang cukup mempengaruhi Umam.

“Puisi itu bagi saya adalah ruang untuk mengungkapkan sesuatu yang sulit diungkap melalui lisan. Jadi ruangnya ya di puisi. Banyak hal yang saya resahkan dan rasakan, tapi nggak bisa saya katakan secara gamblang. Maka saya menulis puisi,” begitu cara Umam memaknai puisi.

Menelusuri muasal Madura hingga terima anugerah di Jogja

Sayembara Puisi Nasional FSY sebenarnya sudah berlangsung tiga kali ini. Namun, Umam baru saja mengetahui untuk edisi 2025.

Iklan

Tak ayal jika Umam langsung tertarik untuk mencoba berpartisipasi. Meskipun tanpa ekspektasi bahwa karyanya akan memikat dewan juri.

“Saat saya lihat pengumuman itu, saya kebetulan baru baca ulang “100 Tahun Kesuciannya” Gabo (Gabriel Garcia Marquez). Di situ Gabo menceritakan sebuah awal, ketika benda-benda belum punya nama,” tutur Umam.

Dari situ, Umam lalu mencoba membayangkan, kira-kira puisi semacam apa yang bakal dia tulis untuk FSY 2025 yang bertajuk “Rampak” tersebut. Kemudian dia bertemu dengan buku kumpulan esai “Madura Niskala” karya Royyan Julian.

“Nah, saya putuskan untuk nulis tentang masyarakat Madura. Bagaimana awalnya sehingga menjadi sebuah masyarakat Madura seperti hari ini. Judulnya Kosmologi Garam,” jelasnya. Puisi yang tak Umam sangka memberinya “anugerah” di Jogja.

Jogja 10 tahun lalu yang pudar di Jogja hari ini

Sosok lain yang saya temui di gedung belakang adalah Badrul Munir Chair, pria 35 tahun asal Grobogan, Jawa Tengah.

Ternyata, tahun ini menjadi kali kedua Badrul mengikuti Sayembara Puisi Nasional FSY. Tahun sebelumnya dia hanya mentok di 20 besar. Kini dia merangsek di urutan kedua penerima anugerah.

Ketika membaca tajuk “Rampak” dalam FSY 2025, hanya satu garis waktu yang melintasi benak Badrul, yakni Jogja pada 10 tahun silam. Kira-kira 2015-an, ketika Badrul masih mengenyam pendidikan tinggi (S1 di UIN Sunan Kalijaga dan S2 UGM).

“Saya memaknai “Rampak” sebagai gerakan kolektif. Sehingga saya mencari fenomena yang bersinggungan dengan kolektivitas masyarakat,” beber Badrul.

Badrul lalu mengenang betapa guyubnya situasi masyarakat Jogja pada tahun-tahun tersebut. Sayangnya, setidaknya menurut dia pribadi, kerampakan atau keguyuban itu memudar seiring waktu.

Ilham dari kraton

Jogja 10 tahun silam, bagi Badrul, adalah Jogja yang membantunya bersinggungan secara lebih intens dengan sastra, komunitas sastra, dan segala bentuk kegiatan bersastra lain. Sehingga, jika bicara sastra atau puisi, Badrul memang tak bisa lepas dari sana.

“Bahkan ketika menulis puisi yang saya ikutkan sayembara ini, saya menulis sambil membayangkan dua orang: mendiang Iman Budhi Santoso dan mendiang Gunawan Maryanto (keduanya bergiat di Jogja),” kata Badrul.

Selain itu, ada satu nama lain, yaitu Ki Kasidi. Dalang Kraton Yogyakarta yang menjadi guru wayang bagi Badrul. Puisi Badrul berjudul “Tabuh Keraton”, sedikit banyak memang terilhami dari sosok itu.

Pengembaraan kuli bangunan

Selepas perbincangan dengan Umam dan Badrul, saya berkesempatan berbincang dengan sang juara 1—Astrajingga Asmasubrata.

Perjalanan Astrajingga (35) bersentuhan dengan puisi terbilang menarik. Awalnya, dia hanyalah lulusan SMP di Cirebon yang lantas bekerja sebagai kuli bangunan.

Astrajingga dikenal suka menyendiri. Dia mengaku tidak nyaman di tengah keramaian. Termasuk di kawasan proyek.

Maka, setiap jam istirahat nguli, dia biasanya membunuh suntuk dengan mengisi TTS di surat kabar Minggu dari Kompas. Lalu Astrajingga menyadari ternyata selain TTS, surat kabar Minggu Kompas juga menyediakan rubrik sastra: Berisi puisi dan cerpen. Dari situlah Astrajingga mulai tertarik dengan puisi.

Intuisi dan keterampilan Astrajingga dalam menulis puisi semakin terasah ketika dia akhirnya pindah ke Jogja pada 2017-sekarang. Dari bekerja di sebuah kafe sembari mengulik puisi, sampai bisa menulis puisi sendiri. Bahkan dibukukan.

Apresiasi dan rekomendasi untuk Pemda

Puisi “Lintasan Rakit di Muara Code” mengantarkan Astrajingga menjadi pemenang Sayembara Puisi Nasional FSY 2025. Lewat puisi itu, dia mencoba mencari dunia baru yang lebih terang, di tengah dunia yang penuh kekacauan dan kegelapan.

Pengembaraan Astrajingga di Jogja memang tak salah. Sebab, baginya, di Jogja karya sastra memiliki tempat khusus di arus utama, bukan pinggiran.

“Aku apresiasi sekali karena Pemda turut serta mencoba merawat kehidupan sastra,” kata Astrajingga.

“Tapi kalau bisa rekomendasi, Pemda juga harus concern dengan nasib sastrawan. Misalnya, mencatat di Jogja ada berapa penulis aktif, lalu bukunya dibeli dan dibagikan ke sekolah-sekolah. Itu lebih konkret,” tegasnya.

Upaya untuk nyawiji

Lewat Rampak, Disbud Kota Yogyakarta memang memiliki harapan besar atas pertumbuhan dunia sastra—termasuk setiap insan yang bergelut di dalamnya. Tidak hanya di Jogja, tapi juga di Indonesia seluruhnya.

Itulah kenapa, Kepala Disbud Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, berkali-kali menegaskan, tema “Rampak” mengandung makna penting berupa kebersamaan atau kerja kolaborasi.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti memberi sambutan di pembukaan FSY 2025 MOJOK.CO
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti memberi sambutan di pembukaan FSY 2025. (Aly Reza/Mojok.co)

“Dalam rampak, dengan keberagaman kita tetap bisa nyawiji, tetap kerja sama-sama, dalam kerja-kerja budaya khususnya,” ucapnya dalam pembukaan Festival Sastra Yogyakarta 2025 Sabtu (2/8/2025) malam itu.

Melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap FSY—dari tahun ke tahun—Yetti merasa lega. Sebab, FSY akhirnya bisa dijangkau dan diakses masyarakat secara lebih luas. Baik untuk sekadar menikmati atau bahkan berpartisipasi.

“Kami berharap FSY bisa berkelanjutan dan menjadi ruang temu insan sastra dan masyarakat Jogja bahkan seluruh Indonesia. Ini menjadi salah satu perwujudan keragaman yang tetap bisa nyawiji,” tegasnya.

Malam semarak

Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional sekaligus pembukaan Festival Sastra Yogyakarta 2025 berlangsung semarak dengan nuansa yang artistik.

Malam dibuka dengan pembacaan puisi bertema “Rampak dan Sastra”, diiringi alunan suling yang menyayat keheningan. Suasana sakral lalu dilanjutkan dengan tembang sinden Pangkur Singgah Singgah Pangkur Gedhong Kuning (pelog nem) yang dibawakan Angita Yuri, diiringi gender oleh Pandu Jalu Wicaksono.

Ale membawakan geguritan dalam pembukaan FSY 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan, Jogja MOJOK.CO
Ale membawakan geguritan dalam pembukaan FSY 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan, Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Sesi berlanjut dengan penampilan musikalisasi puisi “Pacar Senja” karya Joko Pinurbo oleh Paksi Raras Alit, hingga para juara Kompetisi Bahasa dan Sastra 2025: Aleser Ghaizan Althaf membacakan geguritan berjudul “Kuhaku”, Atika Zahra Ratifa mendongeng dalam bahasa Jawa dengan kisah “Monyet lan Topeng Sekti”, dan Adib Zaynal Muttaqin membawakan tembang macapat “Pocung Madusita”.

Penampilan Iksan Skuter menutup malam di Jogja dengan lebih gayeng. Para pengunjung kemudian pulang dengan langkah dan wajah puas.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sisi Magis Jalanan Maliboro Jogja Era 1960-an Bisa Jadi Renungan bagi Komunitas Sastra Hari ini atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2025 oleh

Tags: Festival Sastra YogyakartaFSYJogjalomba puisipuisisayembara puisi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO
Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO
Otomojok

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tukang parkir coffe shop di Jogja

Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir

16 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
Sate entok di Kaliurang, Jogja

Sate Entok, Olahan Unggas Terbaik yang Jarang Diketahui padahal Rasanya Lebih “Jujur” daripada Bebek Goreng

18 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja MOJOK.CO

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

16 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.