Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kekesalan Orang Surabaya karena Tingkah Buruk Warga Jakarta yang Suka Menipu, Harga Murah Jadi Mahal

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
12 April 2025
A A
Warga Surabaya merantau ke Jakarta. MOJOK.CO

ilustrasi - pendatang baru yang memutuskan merantau ke Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada alasan mengapa orang Surabaya menganggap warga Jakarta menyebalkan. Mojok mewawancarai beberapa orang perantau asal Surabaya yang pernah tinggal di sana. Pengalaman mereka pun hampir sama: kena tipu! 

Mengambil kesempatan dalam kesempitan

“Aku hampir pernah tipu waktu benerin leptopku yang rusak,” ujar Maulia (23) yang pernah tinggal di Jakarta hampir dua tahun.

Iklan

Maulia atau yang akrab dipanggil Maul pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta pada tahun 2017, sekadar untuk jalan-jalan. 6 tahun kemudian, perempuan asal Surabaya itu baru mendapatkan kesempatan magang di salah satu perusahaan media dan hampir bekerja di sana selama beberapa bulan.

Suatu hari, laptop Maul tiba-tiba eror. Layarnya mati sehingga tidak bisa dipakai. Sebelumnya, laptop tersebut memang sering ngelek tapi kakak Maul yang lumayan cukup mengerti IT sudah memperbaikinya saat dia di Surabaya.

Entah kenapa beberapa bulan dipakai, leptop itu kumat. Sementara, dia harus mengejar tenggat waktu pekerjaan. Karena keadaan genting, Maul buru-buru mencari tempat servis yang tidak jauh dari kantornya. Tak butuh waktu lama bagi Maul untuk memesan ojek online dan menuju tempat servis terdekat. 

Ia tiba di tujuan sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, saat tiba di sana ia hanya bisa melongo. 

“Aku diturunin di tempat antah berantah, bahkan aku kaget, ternyata di Jakarta ada tempat kayak begini. Jalannya sepi, banyak pohon rindang, bahkan ada tempat pemancingan padahal dekat Senayan,” tutur Maul.

Oleh karena itu, ia makin ragu untuk menemukan tempat servis elektronik. Minimal, kata Maul, ada banner yang menunjukkan identitas tempat servis. Dengan begitu, toko tersebut jadi terpercaya. 

“Aku sudah cari-cari, tapi nggak ada tempat servis sama sekali,” kata dia dengan lesu.

Jangan mudah percaya saat di Jakarta

Malam semakin larut di Jakarta dan Maul semakin stres memikirkan nasib laptopnya. Saat ia berjalan-jalan sembari mencari tempat servis, Maul memutuskan bertanya kepada ibu-ibu yang sedang memasak di depan rumahnya.

Entah benar atau tidak, ibu tadi mengaku kalau tempatnya membuka jasa servis. Ia berujar jika suaminya jago memperbaiki barang elektronik, termasuk laptop. Tak lama kemudian, sang suami keluar dan menanyakan keluhan Maul.

Maul berujar jika laptopnya tiba-tiba tidak menyala. Sependek pemahaman dia dari kakaknya, ada masalah di sensor laptopnya. Namun, bapak tersebut berujar jika LCD-nya yang rusak. 

“Masalah laptopku nggak separah itu sebetulnya. Cuman perlu dibongkar dikit, tapi bukan di LCD-nya tapi di prosesornya,” ujar Maul.

“Dia bilang laptopnya harus nginap dan aku langsung ditodong dengan duit satu juta,” lanjutnya. 

Iklan

Karena ragu, Maul tak jadi mengambil tawaran tersebut. Ia pun memilih pulang dan bertanya pada teman kerja kantornya di Jakarta yang cukup ahli. Dan benar apa kata kakak Maul sebelumnya, yang salah ada di kabel prosesornya.

“Karena leptopku nggak pernah jatuh dan rusaknya nggak separah itu. Nah pas besoknya waktu dibenerin sama salah satu pegawai kantornya sudah bisa,” kata Maul.

Harga murah jadi jauh lebih mahal

Kejadian seperti itu tak hanya Maul alami sekali. Kali ini yang rusak adalah HP-nya. Mulanya Maul tak ragu karena dari nama tempat dan merk servis HP-nya cukup mentereng. Barangkali, ia hanya apes karena servis di cabang yang salah.

“Aku habis banyak sampai Rp700 ribu tapi HP-ku tetap rusak pas dikembalikan,” ujar Maul. Kejadian tersebut baru Maul alami baru-baru ini. Kebetulan, saat itu ia memang sudah berencana balik ke Surabaya. Oleh karena itu, daripada adu mulut dan protes Maul memilih pasrah. 

“Aku udah nggak ada tenaga lagi buat debat. Pas pulang dari Surabaya baru aku servis lagi. Malah setelah dicek, tukang servisnya bilang kalau ada komponen HP yang hilang,” kata Maul yang makin nelangsa.

Selain Maul, Elyza (21) juga merasa ada yang salah dengan tabiat orang Jakarta terhadap pendatang baru seperti dirinya yang berasal dari Surabaya. Ia hanya satu tahun di Jakarta untuk magang, tapi sudah mendapat kesan pertama yang buruk.

“Kadang aku merasa kalau bukan orang Jakarta asli harganya dinaikin, walaupun nggak semua,” kata Elyza.

Pernah suatu hari Elyza hendak membeli gunting kuku di Pasar Minggu, Jakarta. Dengan intonasi khas Surabaya miliknya, Elyza bertanya harga barang tersebut. Lalu, sang pedagang menjawab Rp10 ribu.

“Nggak tahu ini harganya segitu atau nggak, padahal gunting kuku biasa nggak model yang gimana-gimana, tapi temanku yang sering ke sana bilang harganya seharusnya nggak sampai segitu,” ujarnya.

Lebih parahnya lagi, ia sudah bilang ke pedagang tersebut kalau tidak jadi membeli tapi entah kenapa gantungan kuci itu tetap dimasukkan kantong belanjaan Elyza. Karena malas berdebat, ia diam saja.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Orang Surabaya yang Mengadu Nasib ke Jakarta, Tak Sesuai Ekspektasi  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 12 April 2025 oleh

Tags: kesan pertama Jakartamerantau ke jakartapenipuanSurabaya dibanding Jakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.