Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kisah Penjual Kerajinan dan Mainan Tradisional di Malioboro, Pilih Berdagang di Depan Tempo Gelato karena Kebaikan “Bos Prancis”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Desember 2024
A A
Kisah Penjual Kerajinan dan Mainan Tradisional di Malioboro, Pilih Berdagang di Depan Tempo Gelato. MOJOK.CO

ilustrasi - jalan malioboro yang sepi pedagang. (Ega Fansuri/Mojok.co).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah ingar-bingar Kota Joga, saya melihat seorang pedagang yang dulunya berjualan di Malioboro. Lalu, dia pindah ke pelantaran Tempo Gelato. Pedagang itu menjual kerajinan dan mainan tradisional dekat pintu keluar-masuk. Wajahnya terlihat sumringah ketika pengunjung kedai menghampiri barang dagangannya.

***

Seorang bapak tua nampak menawarkan barang dagangan berupa kerajinan dan mainan tradisional kepada pengunjung kedai gelato. Sepasang kekasih nampak menghampirinya dan melihat-lihat. 

Yang perempuan membeli gelang seharga Rp10 ribu per buah. Sedangkan, yang laki-laki nampak tertarik membeli miniatur kayu berbentuk becak atau pesawat seharga Rp50 ribu.

Tak lama kemudian, seorang perempuan tua datang menanyakan harga mainan tradisional dari kayu. Nampaknya, dia ingin menghadiahkan itu kepada sang cucu yang digandeng oleh suaminya.

“Itu Rp20 ribu saja, Bu,” ucap pedagang tersebut sambil tersenyum ramah. 

Rasa penasaran membuat saya mendekati pedagang tersebut ketika pengunjung tak terlalu ramai. Saya bertanya tentang alasannya tidak berjualan di tempat yang lebih ramai seperti Malioboro.

Pedagang Malioboro terusir, pilih jualan di depan Tempo Gelato

Bapak tua itu bernama Purwanto (71). Jika dihitung, pedagang asal Gunung Kidul, Jogja itu sudah empat tahun berjualan kerajinan dan mainan tradisional di depan Tempo Gelato. 

Sebelumnya, dia sudah menjadi pedagang di Malioboro, Jogja. Purwanto bercerita persaingan dagang di sana semakin ketat, sehingga dia memilih mencari lapak lain. Lebih dari itu, Purwanto merasa tidak tenang karena selalu ada razia dari Satpol PP.

Pedagang kerajinan yang mulanya di Malioboro pindah lapak di depan Tempo Gelato. MOJOK.CO
Seorang pedagang kerajinan yang mulanya di Malioboro pindah lapak di depan Tempo Gelato. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dagang di sana (Malioboro) nggak tenang. Ada obraan terus. Jadi saya jual di pinggir-pinggiran kota saja. Bisa duduk-duduk, tenang. Nggak ada obraan. Teman-teman saya juga begitu,” ujar Purwanto, Minggu (29/11/2024).

Kebetulan saat berkeliling di Jalan Kaliurang KM 5, Purwanto melihat Tempo Gelato yang selalu ramai pengunjung. Kedai gelato itu memang terkenal dan hanya ada tiga cabang di Jogja. Purwanto akhirnya menemui langsung pemilik kedai bergaya Eropa itu untuk meminta izin berjualan di depan pelantaran.

“Bosnya sangat baik, dia orang Prancis tapi bisa Bahasa Indonesia, setahu saya istrinya orang Jawa. Saya diperbolehkan jualan, bahkan tiap ketemu selalu di sapa ‘Sehat, Mbah?’, saya jawab sehat,” cerita Purwanto.

Berangkat dari subuh dengan bis ke Malioboro

Purwanto hanya pulang satu minggu sekali ke Gunung Kidul. Biasanya dia numpang untuk tidur di rumah teman-temannya. Ketika subuh, Purwanto sudah siap-siap. Sehari-hari, dia naik bis untuk pergi ke Malioboro mengambil barang dagangannya.

“Sekitar jam 07.00 WIB saya sampai di Malioboro, ambil barang dagangan dulu. Terus Jam 09.00 WIB baru sampai Tempo Gelato, tokonya sudah buka,” ucapnya.

Purwanto bisa mangkal sampai malam atau keliling lagi ke tempat-tempat ramai dekat sana. Meski bekerja dari pagi sampai malam, penghasilannya bisa dibilang cukup tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. 

Jika suasana ramai seperti liburan atau tanggal merah, Purwanto bisa mendapatkan upah sebanyak Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Kalau tidak ramai, ya hanya dapat sekitar Rp100 ribu dalam sehari, bahkan tidak dapat sama sekali. 

Terbiasa berdagang di perantauan hingga kembali lagi ke Jogja

Saat berusia 23 tahun, Purwanto sudah merantau ke Surabaya. Sebagai lulusan SD, Purwanto tak muluk-muluk. Dia hanya ingin mencari kerja untuk hidup. 

“Bahkan jualan daun-daun saya nggak malu. Jual rumput, daun pisang, asal halal. Daripada saya minta-minta ke orang tua, lebih baik saya usaha sendiri,” ujarnya.

Barang dagangan Malioboro yang mangkal di Tempo Gelato. MOJOK.CO
Kerajinan dan mainan tradisional Jogja yang dijual di depan Tempo Gelato. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Mulanya, Purwanto membantu temannya bekerja di Surabaya sebagai pembuat kerupuk. Karena sudah punya pengalaman berdagang sedikit-sedikit, dia mulai mencoba menjual arang. 

“Dulu ada yang ambil, tapi kalau sekarang banyak yang nggak butuh jadi saya tinggalkan,” kata dia.

Purwanto akhirnya berjualan buah-buahan di daerah Menur. Tak terasa, dia sudah tinggal di Surabaya selama 7 tahun. Namun, Purwanto memutuskan pindah ke Jakarta untuk bertaruh hidup. Profesinya tetap tak jauh-jauh dari seorang pedagang. 

Selama 3 tahun di Jakarta, Purwanto telah mencicipi berbagai pekerjaan seperti berdagang es teler, es cendol, membuat kerupuk, hingga mie ayam. 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 3 Desember 2024 oleh

Tags: kisah inspiratifkuliner di jogjapedagang malioborotempat wisata di jogjatempo gelato jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO
Edumojok

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO
Edumojok

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
tunadaksa lulusan S1 universitas terbuka (UT). MOJOK.CO
Edumojok

Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.