Jakarta diguyur hujan sejak Subuh pada Kamis (22/1/2026). Namun, para penikmat bulu tangkis justru memadati kompleks Istora Senayan, Jakarta, venue gelaran Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Makin siang, hujan sebenarnya tak kunjung reda. Malah makin deras. Pemandangan yang tersaji di pelataran Istora Senayan adalah titik-titik warna-warni dari payung-payung para penikmat bulu tangkis.
Mereka berlari-lari kecil menerabas hujan demi lekas duduk di tribun, bersorak-sorai untuk memberi dukungan kepada para atlet Indonesia yang tengah berjuang di babak 16 besar.

Di tengah deru hujan yang bersahut dengan gemuruh penonton dari dalam venue, saya bertemu dengan Irfan Maulana (30-an). Hari itu saya kali ketiga bertemu dengannya. Tanpa payung, tanpa mantel, ia berlari dari pintu masuk, manaiki anak tangga untuk gate reguler dengan rambut dan wajah setengah basah.
Sejak bertemu pertama kali pada Selasa (20/1/2026), Irfan selalu bersemangat tiap datang ke Istora Senayan. Langkahnya selalu tergesa, tidak mau ketinggalan momen-momen krusial di dalam arena.
Dari Semarang ke Jakarta hanya untuk nonton bulu tangkis
Irfan selalu datang ke Istora Senayan, Jakarta, seorang diri. Saat kami bertemu di hari pertama, ia dengan wajah semringah memotret sudut demi sudut Istora Senayan. Irfan pun beberapa kali meminta bantuan saya untuk memotretnya berpose di berbagai spot foto.
“Foto ini langsung saya kirim ke grup, Mas. Buat ngasih tahu ke teman-teman kalau saya hadir, nonton langsung (Daihatsu) Indonesia Masters 2026,” ucap Irfan.
Irfan datang dari Semarang, Jawa Tengah. Ternyata ia memiliki grup Instagram dan WhatsApp bernama “Info Badminton” yang beranggotakan sekitar 50 orang. Grup itu menjadi saluran berbagi info turnamen antar-penikmat bulu tangkis Indonesia sekaligus forum silaturahmi.
Silaturahmi yang dimaksud, misalnya, saat Irfan tengah di Jakarta, ia tinggal berkabar saja di grup. Lalu para penikmat bulu tangkis akan mengadakan janji temu dengannya. Seringnya mereka akan bertemu di venue, sekalian menonton langsung pertandingan.
“Saya sudah sejak 2016 nonton langsung turnamen-turnamen bulu tangkis yang digelar di Jakarta,” ungkap loyalis olahraga bulu tangkis tersebut.
Menabung dan “libur kerja” demi ke Jakarta
Irfan ternyata sudah tiba di Jakarta sejak Senin (19/1/2026), sehari sebelum turnamen berlangsung. Ia sengaja datang lebih awal agar tidak ketinggalan satu hari pun selama gelaran Daihatsu Indonesia Masters 2026 sepanjang 20-25 Januari 2026.
“Saya rencana di Jakarta selama seminggu penuh,” katanya. Untuk itu, Irfan mengaku memang selalu menyisihkan tabungan khusus untuk mengikuti setiap turnamen bulu tangkis di Indonesia.
Di Semarang Irfan memang punya usaha kecil-kecilan. Pemasukan dari sana ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari dan untuk nonton bulu tangkis: untuk biaya transportasi, penginapan, tiket (yang ia beli perhari), dan makan selama berada di kota tempat dihelatnya turnamen bulu tangkis.
Jika sedang ada turnamen di Jakarta seperti sekarang, maka ia akan “meliburkan” diri dulu dari mengurus usahanya tersebut. Tak masalah. Nanti setelah selesai toh ia masih bisa mengumpulkan uang lagi.
“Saya sejak dulu suka bulu tangkis. Bagi pencinta bulu tangkis, ibarat nggak lengkap kalau nggak pernah nonton ke Istora. Ya kalau pencinta sepak bola, nggak lengkap kalau nggak nonton di stadion,” beber Irfan.
Kalau ditanya, kenapa sebegitu cinta dengan bulu tangkis? Irfan susah menjawab. Cintanya tumbuh tanpa banyak motif. Satu yang bisa ia pastikan: tiap nonton langsung di Istora pasti berujung mengesankan. Apalagi jika melihat atlet idola bermain, persis di depan mata, tanpa terhalang layar kaca.
Kalau ada rezeki lebih, nonton bulu tangkis jadi tujuan
Cerita serupa saya dapat dari Tobi (31). Saya bertemu dengannya di tengah riuh penonton di tribun reguler. Ia semangat betul menepukkan balon tepuk. Energinya seperti tidak habis-habis untuk berteriak memberi semangat ke atlet-atlet Indonesia yang bermain.
Tobi memiliki usaha konveksi dan sablon kecil-kecilan di Cilacap, Jawa Tengah. Sama seperti Irfan, Tobi juga harus menyisihkan uang khusus untuk datang langsung ke Jakarta.
Bedanya, Tobi tidak tergabung dalam komunitas/grup sebagaimana Irfan. Tobi juga tidak datang sejak hari pertama. Justru baru pada Rabu (21/1/2026) malam ia tiba di Jakarta. Sengaja nonton di hari-hari menjelang final.
“Nabung ya buat transport sama makan. Kalau nginep, di Tanah Abang sini ada teman rumah yang kerjanya di Jakarta. Nginep ke dia, udah aman,” ujarnya. “Kebetulan hari ini temen nggak ikut. Paling Minggu pas dia libur kerja dia ikut nonton. Kalau ada atlet kita yang tembus final (Daihatsu) Indonesia Masters 2026 ya,” kata Tobi.
Tobi juga tidak seintens Irfan yang nyaris tidak pernah absen nonton langsung setiap turnamen bulu tangkis di Indonesia. Kalau Tobi, tergantung ia ada uang lebih atau tidak. Asal ada rezeki lebih, menonton perhelatan bulu tangkis secara langsung di venue menjadi tujuan utamanya.
“Dua tahun terakhir kan nggak nonton. Absen di 2024 dan 2025. Kalau 2023 dulu nonton yang Indonesia Open. Indonesia nggak ada yang dapet gelar kan di situ. Sejak itu nggak tahu kenapa kok kayak belum ada gairah nonton lagi. Ternyata di Indonesia Open 2024 kita juga belum bisa juara. Di Indonesia Masters 2024 cuma ganda putra yang juara (pasangan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin mengalahkan pasangan Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen dalam tiga gim),” papar Tobi.
Di Indonesia Masters 2025 dan Indonesia Open 2025 atlet Indonesia pun masih puasa gelar. Tapi Tobi tidak mau melewatkan Daihatsu Indonesia Masters edisi 2026. Apalagi tiket reguler relatif lebih murah dari edisi sebelumnya. I
Menghidupkan cita-cita masa kecil
Di Cilacap, hype bulu tangkis terbilang tinggi. Banyak klub-klub junior (baik klub besar maupun kelas kampung) yang aktif bermain.
Apalagi Cilacap punya putra daerah, Bagas Maulana, yang pernah manyabet gelar juara di All England 2022 di sektor ganda putra bersama pasangannya saat itu: Muhammad Shohibul FIkri. Alhasil, banyak anak-anak Cilacap yang ingi mengikuti jejaknya.
Cilacap juga memiliki beragam turnamen bulu tangkis lokal. Sebut saja Kejurkab Bupati Cup, Cilacap Open Badminton Championship (COBC), hingga kejuaraan-kejuaraan yang digelar komunitas maupun instansi daerah.
“Kalau saya jauh sebelum era Bagas kan sudah suka bulu tangkis. Cuma memang dulu saya nggak tahu harus gimana biar jadi pebulu tangkis nasional. Jadi ya cuma main di level kampung aja,” ungkap Tobi.
“Saya sering juga dapat orderan bikin seragam (jersey) buat anak-anak badminton,” imbuh Tobi.
Setiap menggarap orderan tersebut, ia kadang senyum-senyum sendiri, membayangkan seandainya ia hidup di zaman sekarang ketika ia tahu harus berbuat apa kalau ingin mengejar cita-cita sebagai pebulu tangkis nasional.
Tapi menjadi tukang bikin jersey saja sudah cukup membuatnya senang, karena melihat banyak anak-anak Cilacap yang, paling tidak, sudah on the track menuju jalan sebagai seorang atlet menyusul Bagas Maulana.
“Kalau nonton di Istora begini, masih suka senyum-senyum sendiri. Merinding. cita-cita masa kecil kayak hidup lagi: merasakan magisnya Istora. Tapi ya nggak apa-apa, sekarang walaupun nggak jadi pemain, tapi tetep bisa merasakan magisnya kan,” tutupnya dengan senyum.
Kemagisan Istora Senayan
Kemagisan Istora Senayan, Jakarta, memang dirasakan bukan hanya oleh para atlet yang bermain, tapi juga oleh para penonton yang di tribun sendiri.
Salah satu kunci gairah di Istora adalah kedekatan tribun dengan lapangan. Desain konvensional itu memungkinkan atmosfer penonton terasa sangat intens. Terjadi pertukaran energi yang sangat intens tiap kali turnamen bulu tangkis dihelat di sana.
Para atlet menyerap energi besar dari sorak-sorai dukungan penonton dari tribun. Atmosfer penonton dapat menakar volatilitas performa atlet. Ketika pemain bulu tangkis Indonesia tertekan, gemuruh di Istora Senayan berfungsi sebagai eliksir alami yang mendongkrak semangat dan kemampuan adaptasi cepat para atlet di lapangan. Begitu yang termuat dalam catatan PBSI Bogor.
Sementara para penonton menerima energi besar tiap kali para atlet tampak tampil habis-habisan. Juga tesulut sisi emosionalnya dari teriakan dan nyanyian para suporter lain yang membahana dan terdengar patriotik.
PBSI Bogor, masih dalam catatan di laman resminya, bahkan menyebut Istora Senayan ibarat benda pusaka kebanggaan nasional: tempat lahirnya kesejahteraan emosional jutaan penggemar.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Cerita-cerita Kecil nan Hangat di Tengah Gemuruh Istora, Orang Tua dan Anak Saling Memperjuangkan Masa Depan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan