Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ekspektasi yang Buyar di Pantai Parangtritis yang Katanya Primadona di Jogja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Januari 2025
A A
Pantai Parangtriris, wisata Jogja yang kini tak bisa dinikmati MOJOK.CO

Ilustrasi - Pantai Parangtriris, wisata Jogja yang kini tak bisa dinikmati. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keriuhan yang tak bisa dinikmati

Seperti saya tulis di liputan sebelumnya, di Pantai Parangkusumo saya bertemu dengan Ulfatun (36), wisatawan asal Salatiga, Jawa Tengah. Dia datang bersama suami dan dua orang anaknya.

“Awalnya tadi mau ke Parangtritis saja. Cuma kok ramai banget. Jadi ke sini. Ke pantai kalau seramai itu kurang bisa dinikmati,” ungkap Ulfatun.

Ulfatun tak bisa menikmati suasana riuh di Pantai Parangtritis, Jogja. Itu lah kenapa dia memilih membelokkan tujuan ke Parangkusumo.

Hanya saja, Pantai Parangkusumo memang jauh dari hiruk-pikuk suara manusia, namun, deru Jeep tetap harus Ulfatun hadapi, berlalu-lalang tanpa henti.

Katanya steril?

Isu sampah wisatawan di Pantai Parangkusumo-Pantai Parangtritis, Jogja, sebenarnya sudah cukup lama disoroti oleh aktivis lingkungan setempat, Kesuma (33). Namun, hingga saat ini seolah masih belum mendapat perhatian serius dari para pemangku kebijakan.

Sementara persoalan lalu-lalang mobil Jeep, Kesuma menyebut, dulu sempat ada diskusi, agar jalurnya jelas: mana jalur dan batas operasi mobil Jeep, agar tidak membahayakan pejalan kaki.

“Tapi diskusi itu berlalu begitu saja. Sekarang nggak ada perubahan,” ujarnya saat saya temui selepas saya menyisir Pantai Parangtritis-Pantai Parangkusumo, Jogja.

Jeep yang berlalu lalang di Pantai Parangkusumo-Pantai Parangtritis MOJOK.CO
Jeep yang berlalu lalang di Pantai Parangkusumo-Pantai Parangtritis. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kesuma juga bertanya-tanya perihal sterilisasi zona inti Gumuk Pasir dari aktivitas manusia—termasuk Jeep. Mau diberlakukan mulai kapan?

Restorasi Gumuk Pasir memang sudah lama diwacanakan oleh Pemkab Bantul. Sebab, gumuk pasir di Bantul tersebut disebut terancam punah.

Pemkab Bantul pun sudah memasang batas-batas zona inti untuk restorasi tersebut: yakni zona yang bakal streil dari aktivitas manusia.

Hingga akhir Desember 2024 lalu, nyatanya Gumuk Pasir masih hanya sebatas dipatok zona intinya. Tapi aktivitas mobil Jeep masih terus terlihat.

Setelah ini, ke mana mobil-mobil Jeep itu?

Pun jika kelak Gumuk Pasir akan steril dari aktivitas manusia, ke mana mobil-mobil Jeep itu? Itu juga yang jadi pertanyaan Kesuma.

Pada Juli 2024 lalu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja, menyebut bahwa restorasi Gumuk Pasir tidak akan mematikan ekonomi para pelaku wisata di sana.

“Saat restorasi Gumuk Pasir Parangtritis selesai, mereka akan diikutkan agar perekonomiannya terdampak,” ujar Agus seperti mengutip Detik Jogja.

Iklan

Road map memang sudah disusun. Namun, apakah bisa menjawab kebutuhan atau justru bakal membuat kawasan pantai semakin riuh karena tumpahan Jeep-Jeep dari Gumuk Pasir?

Hasilnya masih ditunggu. Sebab, Agus menyebut, proses restorasi Gumuk Pasir tersebut butuh waktu selama lima tahun.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Banyunibo Bantul: Curug di Tengah Belantara yang Sajikan Sisi Tenang Jogja, Gemericik Air Tanpa Bising Manusia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2025 oleh

Tags: pantai jogjapantai parangtritisparangtritis jogjawisata jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Risiko ketimpangan sosial di balik gegap gempita wisata Jogja di mata guru besar Sosiologi UGM MOJOK.CO
Ragam

2 Sisi Koin Wisata Jogja: Ekonomi Berputar, Tapi Ada Risiko Ketimpangan Sosial bagi Warga Lokal dan Masalah yang Terus Berulang

1 Januari 2026
Kenorakan-kenorakan orang yang pertama kali ke Jogja dan bikin risih (Dari angkringan, Tugu Jogja, hingga Jalan Malioboro) MOJOK.CO
Ragam

Kenorakan-kenorakan Orang yang Pertama Kali ke Jogja, Niat Kelihatan Kalcer tapi “Nggak Mashok!”

20 Oktober 2025
Pantai Watu Kodok, Gunungkidul, Jogja. MOJOK.CO
Catatan

Jalan-jalan ke Pantai Watu Kodok Jogja Jadi Tak Menyenangkan karena “Orang yang Mencurigakan”

17 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Adalah Daihatsu Sigra MOJOK.CO

Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat

20 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026

Video Terbaru

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.