Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pakuwon Mall Jogja, Saksi Bisu Orang Kaya Bersenang-senang di Atas Penderitaan Orang Miskin

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
26 Juni 2024
A A
Pakuwon Mall Jogja, .MOJOK.CO

Ilustrasi Pengalaman “Katrok” Pertama ke Pakuwon Mall Jogja, Takut Naik Eskalator hingga Terpaksa Membeli Kaos Rp650 Ribu karena Gengsi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pakuwon Mall Jogja menjadi saksi bisu bagaimana orang kaya bersenang-senang di atas penderitaan orang miskin. Di bagian dalam mal, orang-orang kaya berfoya-foya, menghamburkan uang tanpa mengkhawatirkan hari esok. Sementara hanya beberapa jengkal dari bangunan megah itu, kondisinya seperti bumi dan langit: banyak orang yang jangankan buat nge-mall, sekadar makan di hari itu saja sangat sulit.

Berdiri di lahan seluas 77 ribu meter persegi, Pakuwon Mall menjadi pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di Jogja. Di dalamnya, total ada lebih dari 270 tenant yang tersebar di 6 lantai. Beberapa di antaranya termasuk “anchor tenant” seperti Matahari Department Store, H&M, Uniqlo, ACE Hardware, Informa, Hypermart, hingga CGV Cinema.

Tak hanya itu, Pakuwon Mall Jogja adalah bagian dari mix-use development yang tersambung langsung dengan hotel bintang 5 Jogja, yakni Marriott Hotel, yang memiliki lebih dari 300 kamar.

Sejak awal mengakuisisi Hartono Mall dan mengubahnya menjadi Pakuwon Mall pada 2020 lalu, pengelola menyebut kalau pasar yang mereka sasar adalah kalangan menengah dan menengah ke atas. Sebagai orang yang cukup sering “mampir” ke mal ini sekadar buat nonton film, pernyataan tadi saya amini.

Setidaknya, kalau dibandingkan mal-mal lain di Jogja, pengunjung Pakuwon Mall memang kelihatan sebagai “orang-orang berada”. Sayangnya, ketika keluar mal melalui lantai LG di gerai Informa, kalian bakal langsung tertuju ke jalan kecil di sebelah timur bangunan. Di sana, ada berbagai hal yang kondisinya 180 derajat dari yang kalian temui di dalam mal.

Banyak orang yang sekadar mau masuk Pakuwon Mall saja merasa minder

Anggapan kalau Pakuwon Mall Jogja adalah malnya orang-orang tajir memang benar adanya. Banyak mahasiswa, misalnya, merasa “minder” jika harus main ke mal ini karena menganggapnya terlalu “wah”.

“Selain karena mahal-mahal, kalau ke Pakuwon itu kayak ada rasa yang agak beda aja. Susah jelasinnya. Pokoknya kalau mau masuk mal-mal lain biasa-biasa aja, tapi kalau Pakuwon kayak aneh aja, merasa miskin,” ujar Salih (20), mahasiswa UMBY yang mengaku belum pernah masuk Pakuwon meski sudah 2 tahun di Jogja.

Pada Selasa (25/6/2024) kemarin, saya juga menyusuri jalan kecil tanpa nama di sebelah timur Pakuwon Mall. Letaknya hanya 10 meter dari tembok mal tersebut, tapi kondisinya sangat rusak.

Pakuwon Mall Jogja, Saksi Bisu Orang Kaya Bersenang-senang di Atas Penderitaan Orang Miskin.MOJOK.CO
Salah satu spot foodcourt di sekitaran Pakuwon Mall Jogja. Andalan para pekerja underpaid. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Di tepi jalanan itu, ada banyak mobil dan motor terparkir. Kendaraan tersebut adalah ojek dan taksi online yang biasa ngetem di sekitaran Pakuwon Mall.

Sementara di sekitaran jalan itu juga berdiri warung-warung makan tenda, angkringan, dan warmindo yang tak pernah sepi pembeli. Para pembeli ini kebanyakan adalah pegawai Pakuwon Mall, pekerja Marriott Hotel, atau driver ojol yang punya perasaan sama seperti Salih: minder masuk Pakuwon Mall.

“Saya mah nganterin orang aja sampai depan, Mas, kalau masuk jarang. Kalau masuk cuma pas dapat order ambil makanan. Itu pun minder banget, serasa bau matahari,” tawa Rachman, driver ojol yang saya temui siang itu. Rachman sendiri mengaku baru ada dua order yang didapat sampai jam 12 siang.

Kegetiran para pekerja mal yang tak bisa menikmati kemewahan Pakuwon Mall

Di Angkringan Pak Marto, yang lokasinya tak jauh dari Pakuwon Mall Jogja, ketimpangan amat saya rasakan. Angkringan ini sangat sederhana, tempatnya menyatu dengan kebun penuh semak belukar yang mungkin saja bisa dilalui ular kapan saja. 

Meski sangat sederhana, angkringan ini menjadi penolong para pekerja Pakuwon Mall yang butuh makan. Bagi mereka…

Baca halaman selanjutnya…

Iklan

Kerja di mall mewah tapi underpaid. Hidup mengkis-mengkis sampai takut punya anak.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2024 oleh

Tags: JogjaPakuwon MallPakuwon Mall Jogjapekerja jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.